Sabtu, 11 November 2017

Ketika Nak Bujang Kelebihan Energi

# Repost
Hari ini Mas Sholih kelebihan energi.
Tidak tidur siang dan main hingga sore.
Habis mandi dan sholat maghrib, lanjut kursus sempoa. Top lasak dan usilnya. Lalu iseng sama adik-adiknya. Bermacam ulahnya.
Si emak, gak hilang akal, disuruhlah bantu ini itu macam-macam. Dari pergi ke warung hingga meladeni urusan si bungsu. Maklum, emak repot ngurusin daging yang baru datang. Rejeki bocah-bocah yang masih pengen bakso. Maka emak pun bergelut dengan adonan bakso jilid dua, haha...
Si Mas Sholih masih full baterai. Jadilah, si emak minta bantuin ngawal adek bungsu pipis dan gosok gigi. Memakaikan celana dan mengantar ke tempat tidur.
Mas Sholih manut dengan manis, alhamdulillah.
Habis itu dia pergi ke kamar mandi. Karena belum ngantuk, katanya pengen sholat lagi.
Maasya Allah... Maasya Allah... Dia mau sholat witir 3 rakaat katanya. Emak ngintip sambil terharu dari belakang pintu.
Lalu diambilnya mushafnya dan melantunkan Al Mulk. Usai Al Mulk, dimuroja'ahnya juz 2.
Maasya Allah... Maasya Allah..
Emak menitikkan air mata. Diam-diam berdoa semoga Mas Sholih istiqomah.
Lepas tu, dia beranjak ke kamar. Melantunkan doa pengantar tidur berupa Ayat Kursi dan 3Qul. Tak lupa mengusapkan ke muka dan tubuh saudara2nya.
Maasya Allah... Emak merasa entah...tak terkata.
Diam diam istighfar, karena tadi sempat kesal.
Astaghfirullah... Astaghfirullah, darinya emak harus terus belajar.
#Icad7,8y
Karsuli, 030917

Sabtu, 21 Oktober 2017

Resep: Roti Manis Isi

Anak-anak, kucermati akhir-akhir ini sering jajan roti sisir isi nanas. Di pasar, ibu pedagang kue menjualnya dengan harga seribu. Lumayan, lumayan murah dan bikin kenyang.
Mereka, anak-anakku memang suka ngemil. Kadang aku membuatkan bermacam cemilan seperti donat, roti, pisang goreng keju, pempek, bubur kacang hijau, kolak, atau cemilan lainnya yang simpel seperti ketela atau jagung kukus

Nah, sehubungan mereka sekarang lagi doyan roti, pagi ini membuat roti manis isi piscok untuk bekal ke sekolah mereka. Resep ini gak pakai telur, namun hasilnya tetap lembut dan enak. Teksturnya juga halus, gak kalah sama MorBak atau RotiBun buatan Malaysia yang dilanggani dulu di Batam, hehe...

Berikut bahan-bahannya:
Terigu yang berlabel halal 1/2 kg (aku pakai terigu segitiga)
Gula pasir 4 sendok makan (gulanya aku pakai gula lokal tanpa rafinasi :))
Susu kental manis 2 sachet (aku pakai Indomilk)
75 gr margarin, (aku pakai Forvita yang kebetulan masih ada di dapur)
Fermipan 1/2 bungkus,
Air hangat 1/2 gelas (air suam kata orang Melayu)

Isi:
6 buah pisang raja, dikukus, dinginkan, potong jadi 4 (potong 2, trus belah 2)
Coklat bar, aku pakai Cholata, 1/3 batang, potong jadi 24 batang kecil ukuran korek api.

Caranya:


  • Tuangkan fermipan pada air agak hangat dan diaduk rata, diamkan hingga sekitar 10 menit/sampai bergelembung (sebagai tanda raginya aktif, kalo gak bergelembung berarti raginya mati, ganti dengan ragi yang baru).
  • Terigu, gula dan susu dicampurkan, tuangi dengan larutan ragi sambil diaduk dengan mixer hingga tercampur rata. Tambahkan margarin sambil terus dimixer sampai kalis.
  • Tutup wadah dengan plastik bersih atau serbet hangat, diamkan 15-30 menit. Sst, tadi habis ngadon, kutinggal menggoreng ayam crispy dan nyuci piring dulu, hehe.
  • Kempiskan adonan, bagi menjadi 24 bagian dan bulatkan.
  • Ambil satu bulatan, pipihkan dengan gilingan (aku pakai gelas plastik), masukkan sepotong pisang dan sepotong coklat, trus rapatkan bagian sambungannya. Lakukan satu persatu sampai semua bulatan habis.
  • Diamkan sekitar 10 menit, lalu panaskan oven hingga panas sedang (Ovenku oven biasa yang gak ada termometer dan timernya).
  • Olesi roti dengan margarin (gunakan kuas untuk mengoles dan pastikan kuasnya terbuat dari plastik, bukan dari bulu, apalagi bulu babi. Wkwkwk... sekalian melaksanakan amanah sbg auditor LPPOM MUI ini mah), lalu masukkan ke oven. Bakar dalam oven sekitar 10 menit atau sampai matang.
  • Setelah matang, olesi lagi permukaan roti dengan margarin.
  • Pindahkan roti yang telah matang ke wadah makanan, siap untuk disantap.

Alhamdulillah anak-anak suka dan jadi makin semangat ke sekolah. Tetap ceria walaupun hari ini uang saku dipending dulu, wkwkwk...

Ini dia penampakan Roti Manis Isi yang kubuat tadi pagi.
Selamat mencoba, semoga suka...



Btw, lihat roti ini, jadi ingat pelajaran kimia dengan topik Maillard Reaction, hehe...
Topik yang belakangan ini menjadi perhatian khususnya untukku.

Sekarsuli, Sabtu ketiga Okt 2017

Jumat, 20 Oktober 2017

Pada Subuh Suatu Jumat


Hari ini facebook menayangkan kenangan bertahun lalu tentang sebuah postinganku di blog ini yang berjudul Pada Dhuhur Suatu Siang. Lihat disini


Tiba-tiba teringat peristiwa tadi pagi yang rada-rada mirip yang membuatku malu hati pada anak-anak itu.

Begini kisahnya:

Adzan Subuh telah terlantun. Pagi yang menurutku terlalu awal. Subuh di sini adzannya jam 4. Dan aku masih setia dengan irama tubuh wilayah Sumatera yang adzannya sekitar jam 4.30 lebih, atau bahkan jam 5.30 waktu setempat kalau di Gombak.

Paksu sudah bersiap sedari tadi untuk ke mesjid. Istrinya masih "ngambek oleh" merem-melek memperpanjang tidur sambil nunggu antrian di kamar mandi, wkwkwk (jangan ditiru). Sambil menunggu kumandang iqomat beberapa saat lagi. Sambil juga dengan suara serak membangunkan anak-anak yang masih terlelap, agar segera menuju masjid terdekat.

Anak-anak bangun, dan sambil mengantri giliran ke kamar mandi kembali berbaring di kasur di ruang tengah. Sama kayak emaknya tadi, niatnya memperpanjang tidur. Tak peduli emaknya menggebah-gebah menyuruh wudhu sampai terdengar iqomat di masjid.

Emak meninggalkan mereka, bersegera memenuhi panggilan iqomat, dan anak-anak melanjutkan lelapnya.
Ingat hari ini Jumat, emak berniat membaca Al Kahfi ba'da sholat subuh.
Done.

Lalu lanjut membangunkan dan mengingatkan anak-anak yang masih tergolek-golek di kasur untuk segera sholat subuh.
Anak-anak bangun dengan malas-malasan, si Emak mulai berkicau di pagi hari.

Usai subuh berjama'ah di rumah, anak-anak itu mengambil Qur'annya masing-masing.
Si kakak pertama mojok dekat pembaringan mengkhatamkan Al Kahfi. Si Abang ketiga Abdulloh Umar, yang masih terbata belajar tajwid, akhirnya mengkhatamkan juga Al Kahfi-nya. P
adahal biasanya dia baca cuma  sampai ayat 20. 
Sedang si Mas Sholih, akhirnya berhasil mengkhatamkan juga Al Kahfinya walau dengan mata yang masih berat dengan kantuk.

Si Emak yang berkicau tadi, malu hati. Setelah Dhuha, dia lanjutin baca Al Kahfi. Tadi pagi baru separuh surat yang dia baca.

Sudahkah mengkhatamkan Al Kahfi hari ini?

Jumat 201017
Sekarsuli

Minggu, 18 Juni 2017

Rumah ke-17



Sebelumnya, tak pernah terbayangkan sama sekali akan tinggal di sebuah rumah bedeng berderet. Terpaksa. Selain karena sudah mepet Ramadhan, kondisi suami memang sedang tidak kondusif setelah jatuh sakit karena muter-muter nyari kontrakan juga. 'Ala kulli hal, Alhamdulillah. Setidaknya kami bisa berkumpul sekeluarga, setelah beberapa bulan berpisah.
Sepanjang usia pernikahan kami yang memasuki tahun ke sembilan, Allah mentakdirkan kami belum bisa juga memiliki rumah pribadi. Yup, rumah sendiri yang memungkinkan aku bisa mendekornya sesuai dengan selera. Dengan taman-taman melati dan bunga warna-warni di bawah jendela. Dengan kebbun buah dan bumbu di samping dapur. Dengan tempat jemuran di bagian atasnya dan kamar kerja serta kamar anak di lantai atas yang dindingnya dicat dengan warna-warna ceria. Ahh.. belum kesampaian.
Sempat dua kali mencoba mencicil rumah. Keduanya berlokasi di Batam. Yang pertama, diambil ketika masih di tahun pertama pernikahan. Lokasinya di Graha Nusa Batam. Masih cicilan DP ketika tiba-tiba suami jatuh sakit yang cukup serius. entah apa yang dilihatnya dalam mimpi kritisnya, setelah stabil kondisinya, beliau ngotot membatalkan rumah itu. Uang DP yang sudah masukpun hangus. Lumayan, nyaris 10 kali gaji pokok suami waktu itu sebagai seorang guru. Belum rejeki.
Rumah yang kedua, di Darussalam Tanjung Piayu. Tanpa bank, tanpa riba. berbekal tsiqoh dan harapan akan keridhoan Allah, serta niat syiar. Masih cicilan DP juga, namun yang ini besarannya sudah lumayan. Tambah beberapa duit lagi, bisa buat ONH atau ongkos umroh berdua. Qodarulloh, belum rejeki juga. Pengembang dan marketingnya kisruh, dan setoran dana yang sudah masuk digelapkan oleh marketingnya. Kasus berhujung di pengadilan. Walaupun sidang pengadilan memenangkan gugatan konsumen, namun tipisharapan uang kembali. Sementara, lokasi yang kami pilih, masih berupa lahan yang mungkin sekarang sudah menyemak.
"Uang bisa dicari, ikhlaskan," begitu kata suami.
Mudah diucapkan, tapi susah dipraktekkan. Secara ikhlas itu butuh perjuangan. Semoga kelak Allah mengganti dengan yang lebih baik, entah dari mana, kelak. Aamiin.

Jadilah, hingga hari ini, kami masih menjadi kontraktor.
Dari semua kontrakan kami, tidak semua rumah ditinggali dalam waktu lama. Ada yang hitungan bulan, tahun, namun ada juga yang cuma hitungan hari, hehe.
Tempat tinggal pertama kami setellah menikah adalah di blok Y Permata Puri. Rumah kontrakan milik bu Enik. Sekitar 4 bulan kami tinggal di sana. Namun karena agak-agak angker, kami memutuskan pindah. Soalnya sering mimpi seram, walaupun sudah berdoa. Apalagi sedang hamil saat itu. Khawatir dengan perkembangan janinnya.

Rumah kedua yang ditinggali adalah markas oase. Masih di Permata Puri di samping Masjid Al Muhajirin. Blok VV tepatnya. Rumah milik Pak Jamil ayahne Zidan ini sebenarnya sudah cukup lama kutinggali. Tahun 2006, aku menyewanya untuk tempat les sempoa, calistung dan bahasa Inggris. Masa gadis, tinggal di sini bareng So Irva, Rina, lalu ada Liza, Yuni, Erma yang juga sempat tinggal di sini.

Tak sampai 2 bulan tinggal di sini. karena pemilik rumah mau menempati kembali rumahnya, kami terpaksa mencari kontrakan lain. Padahal, itu pohon mangga dan kolam ikan di belakang rumah ini sangat membuat nyaman untuk melepas penat. Rumahnya luas dan lega. hanya saja saluran air sering mampet.
Di rumah ini juga, kami pernah mengalami kebanjiran parah selama tinggal di batuaji, dan terpaksa mengungsi dan menimba air dari dalam rumah ketika banjir surut. Peristiwa ini berrhampiran waktunya dengan gempa Jogja yang memakan banyak korban, dan salah satunya ternyata adalah calon abinya anak-anak, hehe.

Rumah ketiga di Rindang Villa, bertetangga dengan bu Erika. Tinggal bertiga dengan So Irva. Rumah ini berkamar 3, namun kurang terrasa nyaman. Di sini pun hanya sekitar 3 bulan dan akhirnya memutuskan ppindah lagi.

Rumah ke empat di Blok G No. 10 Rindang Garden. Rumah milik pak Ahmad. Alhamdulillah lebih terang, lebih nyaman dan baru direnovasi. Di sini kami masih tinggal bersama So Irva. Mazaya pun lahir ketika kami tinggal di sini. Banyak kenangan, tentang pahit-manisnya kehidupan. Lebih setengah tahun di sini, kemudian pindah ke Genta I, karena si Mang Yayan dan Abi berencana untuk buka usaha.

Rumah di Genta 1 terletak di blok W nomer 5. Saat ini kawasan ini sudah jadi tempat usaha. Aku disini cuma sebulan karena harus berangkat ke Jogja untuk menempuh studi S2 di Kimia UGM. Yang lain, tinggal di sana hingga 6 bulan. So menikah dan Abi Mazaya, menyusulku ke Jogja beberapa waktu setelah Irsyad lahir.

Bulan-bulan pertama di Jogja, aku tinggal di Islamic Boarding House, Annida yang terletak di Jakal Km 5.5. 6 bulan tinggal di sini. Suasananya nyaman dan teman-temannya semuanya akhwat kecuali Pak Totok dan Maulana kecil. Masa-masa awal Aya dan Irsyad bayi, dihabiskan di sini. Inilah rumah ke-6 kami, hehe.
Oya, sebelumnya, sempat numpang transit di Gedong Kuning di rumah Mas Ridwan dan Mbak Indah, serta di pondoknya Pak dokter Maftuh dekat Amplaz, ketika baru datang serta masa-masa belum dapat kontrakan.

Selanjutnya, setelah Abi Aya datang ke Jogja, kami pindah ke Potorono, Bantul, di rumah bude Ipah dan Pak Hardy (alm). Inilah rumah ke-7 kami. Bude sangat baik, begitu jug si Mbok dan keluarganya. Kami menempati satu kamar depan. Masa itu, pak de Hardy masih bertugas di luar negeri. Jadi di rumah hanya bertiga dgn anak-anak dan 1 keponakannya yg putri.

Selanjutnya kami pindah ke Sleman. Menyewa sebuah rumah dekat sekolah, untuk 3 bulan. Namun rumah ke-8 ini tak sampai seminggu kami tinggali, karena berisik. Di depan sekolah ada sanggar tempat latihan gamelan. bayi Irsyad tak bisa tidur dan akupun merasa terganggu. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah lagi. Alhamdulillah, yang punya kontrakan mau mengembalikan uang sewa bulan berikutnya yang sudah kami bayarkan.

Rumah ke-9 terletak di Dusun Kronggahan, Sleman. kami tinggal di rumah baru, yang benar-benar baru jadi. dan cantik. Rumah milik pak Yanto dan bu Yanti yang dikopel jadi satu. kami tinggal di bagian belakang, supaya ada dapur dan tempat cucinya. Maklum, punya 2 batita, jadi banyak urusan dengan dapur dan sumur.
Di samping rumah ada sungai. Jadi mbah yang punya rumah membuatkan pagar bambu di sekeliling rumah untuk membantu menjaga keselamatan anak-anak. Namun, faktanya si Aya pernah kecebur juga di sungai itu.
Rumah ini halamannya luas dan ada beberapa pohon buah. Di rumah ini kami menanam beberapa biji bunga-bungaan hingga ia berbunga, cantik. Kami di sini hingga 6 bulan.

Rumah ke-10 masih di kampung yang sama, hanya saja agak lebih ke arah jalan, dan lebih murah. Haha, maklum kantong mahasiswa. Pemilik rumah tinggal di luar kota. Di sini kami merrasakan hiruk-pikuk letusan merapi tahun 2010. 3 bulan kami di rumah ini dengan segala dinamikanya. Mabok, karena hamil Umar dan riuh-rendah ngurusi 2 bocah yang sanagat aktif.

Selanjutnya kami pindah ke Sekarsuli, Berbah. Rumah berkamar 3 milik Pak Yuri, cukup besar untuk kami tinggali berlima dengan bayi Umar. Hanya saja, lingkungannya berisik karena banyak perajin aluminium-kaleng yang beraktifitas setiap hari. Disinilah kami tinggal paling lama selama di Jogja. Lebih kurang 1,5 tahun. Selanjutnya kami pulang ke Batam di pertengahan tahun 2012.

Rumah ke-12 yang kami tempati adalah rumah pak Bambang, seorang teman guru yang sama-sama dulu mengajar di Hidayatulloh Batam. Bertempat di GNB Blok H. kami transit di sini tak sampai satu bulan. Judulnya numpang, karena pemiliknya tinggal di Jogja dan rumahnya tak dihuni. Pengalaman berrkesannya, si Aya nyebur di parit besar depan rumah, hehe.

Selanjutnya kami pindah ke Merapi subur di blok I. Rumah milik bu Meri, orang Padang. Suaminya orang palembang alumni Poltek Sriwijaya. Inilah rumah ke-13 yang kami huni hanya sekitar 2 bulan. Seorang ibu hamil yang sudah lama mengincar dan ngidam pengen tinggal disitu mengajak bertukar rumah. katanya, dia sudah booking rumah itu lebih dulu saat di renovasi, Dan suamiku tidak tega. Rumah yang kami tinggali itu di lepas ke ibu yang ngidam ngontrak di rumah tsd. See? Betapa baik hatinya Abi Mazaya sampai rela pindah kontrakan demi mengabulkan keinginan seorang ibu hamil yang tak pernah kami kenal sebelumnya.

Next, kami tinggal di Puri Buana Indah Blok DD No.4. Perumahan sedikit mewah untuk level Buliang.. bertetangga dengan bu Ani dan Bu Muyassaroh. Disini sempat buka les-lesan sempoa dan pelajaran sekolah, namun kurang promosi jadi kurang ramai. Kurang lebih 3 bulan kami tinnggal disini, selanjutnya pindah ke Pemda 2.

Di Pemda 2, kami tinggal di Rumah Pak Muslim. pegawai Depag yang ditugaskan ke Pekanbaru. Rumahnya lega, dan langit-langitnya tinggi. Hampir setahun kami disini dengan segala dinamika punya 3 balita dan akhirnya menyadari bahwa ada calon pendatang baru. Dia adalah dek Utsman.
Utsman lahir saat kami masih tinggal di sini. Aslinya rumah ini nyaman. Sayangnya tetangga-tetangga yang renovasi dan menjadikan rumahnya sebagai kost-kostan untuk pekerja dan rata-rata yang ngontrak adalah orang Batak, membuat suasana tidak lagi nyaman. Sering kami adu kencang radio antara musik Batak atau lagu-lagu kebaktian dengan murottal yang disetel si Irsyad keras-keras.
Akhirnya rumah ini dibeli orang dan kamipun pindah lagi, hehe...

Kontrakan selanjutnya sebetulnya tak begitu jauh, namun dalam wilayah kelurahan yang berbeda. Kalau sebelumnya kami tinggal di Kelurahan Buliang, kini kami hijrah ke Bukit Tempayan. Masih Batuaji juga sih.
Rumahnya terletak di Muka Kuning Paradise Blok AA. Milik Bu Wiwik Wulandari. Rumah cantik berwarna hijau dengan pohon jambu air di depan rumah yang berbuah sepanjang tahun. Cukup terjangkau harganya dengan penghasilan Abi sebagai seorang guru. Di sini kami tinggal terlama. 3 tahun. walaupun tiap tahun kontrakan naik, yaa alhamdulillah masih bisa diusahakan.
Anak-anak tumbuh besar dan belajar bersosialisasi di sini. Lingkungan yang nyaman, dekat masjid, TK dan lapangan plus warung Mak Leon yang komplit dan buka pagi-pagi sangat mendukung aktivitas keseharian. Kehidupan mulai teratur, ekonomi membaik, tetangga yang peduli menjadi kesyukuran tersendiri. Anak-anak punya banyak teman dan kenangan di sini. Sampai hari itu tiba, dan kami harus pergi.

Surat kontrak sudah terbit, surat panggilan pengurusan visa juga sudah diterima. Maka akupun harus berrangkat untuk studi di Gombak. Harapannya, keluarga akan menyusul di semester berikutnya. namun, perubahan aturan keimigrasian di Malaysia membuyarkan harapan kami. satu semester berlalu, dan tidak ada titik terang, sehingga aku dan abinya (yang mau tidak mau harus setuju) memutuskan transit di Jogja.

And, here we are.
Kembali ke Jogja dan mengontrak sebuah rumah bedeng di Sekarsuli. Berdekatan dengan rumah kami dulu di tahun 2011. Rumah yang coba kusyukuri, karena inilah yang dapat diusahakan oleh suamiku dengan sisa-sisa kemampuan dan deadline waktu yang memungkinkan.

Beberapa ketidaknyamanan muncul dan kami mencoba berrsabar. Sambil berdoa, semoga kelak Allah berrikan kami rumah hunian yang lebih layak untuk tempat tinggal dan belajar.
Semoga saja. Aamiin.

Sekarsuli, 170617


Senin, 12 Juni 2017

INISIATIF

Subuh di Sekarsuli saat ini jam 4.27. Karena sudah mesti bangun sahur semenjak jam 3, maka menit-menit menjelang jam 6 pagi adalah puncaknya mengantuk.  Bisa dipastikan, di jam segitu mata terasa berat dan terkadang tanpa sadar sudah jatuh terlelap. Maka, melihat istrinya terkantuk-kantuk atau bahkan terlelap sambil bersandar, si Abi berinisiatif ngajak jalan-jalan pagi. Anak-anak senang, tapi istrinya ogah-ogahan....
Seringkali berangkat dengan setengah terpaksa.
Namun, pagi itu cuma berdua saja di rumah, karena anak-anak sudah lebih dulu keluar buat jalan pagi. Akhirnya, setelah menemukan si bungsu, bertiga keluar rumah pakai motor, jalan pagi sambil melihat-lihat kawasan seputaran sekolah anak-anak buat nyari tempat usaha.

Tanpa terasa sudah beranjak siang, akhirnya melewati beberapa pasar dan mini market, Ummi berinisiatif sekalian belanja beberapa keperluan. Apalagi si bungsu, sudah mulai mengeluh haus. Jadi singgah dulu buat beli air dan kue. Selanjutnya beranjak pulang, karena ingat belum dhuha juga.

Sampai di rumah, bergegas turun dari motor, melangkah ke teras, semerbak aroma lemon menguar dari dalam rumah. Ruangan licin, bersih dan kemas...
Ternyata si Kakak berinisiatif beres-beres rumah. Iyya, kakak yg baru 8 tahun itu...
Karpet keduanya tergulung, buku-buku dan mainan ditumpuk di satu sisi, piring kotor dan perlengkapan sisa sahur teronggok manis di tempat cuci piring. Lantai bersih mengkilat masih setengah basah hingga ke teras, dan wanginya semerbak...
Itu orangnya masih megang alat pel, namun wajahnya ceria walau terlihat lelah...
Si Ummi surprais... Biasanya ini anak agak susah dimintain tolong, kecuali kalo disuruh ke warung.
Dapat hadiah peluk dan cium, plus pujian dari Ummi, wajahnya sumringah...
Semoga gak cuma sekali ini saja ya Nak, bantunya, hehe...

Ramadhan 1438H

Selasa, 04 April 2017

Tentang Mengajarkan Adab pada Anak

Beberapa waktu lalu, saya sempat membuat status di fb, tentang kegusaran saya tentang adab yang bunyinya begini:
"Bahkan, anak kecilpun tau kalau kalo masuk rumah orang mesti ketuk pintu dan ucap salam"
dengan tagar ajarianakadab

Bukan mengapa, ini tentang adab seorang muslim/ah terhadap muslim/ah yang lain.

Saya tinggal di sebuah asrama/dormitory (disini disebut mahallah) di blok PG, blok khusus untuk mahasiswa post graduate.
Bangunan itu berlantai tiga, dengan masing-masing lantai berisi sekitar 11 room. Tiap satu room berisi 5 bilik, 1 bilik umum yang terletak di tengah sebagai ruang berkumpul merangkap dapur, dan 4 bilik lainnya, masing-masing dihuni oleh satu orang.
Nah, sehubungan semuanya adalah mahasiswa PG, maka interaksi kami tidak bisa dibilang intens, sangat jarang, karena selain fakultasnya berbeda, jadwal kuliah yang berrbeda, beberapa roommate saya juga nyambi bekerja. Nyaris, sayalah yang sering berpotensi paling banyak tinggal di room kami.

Ketiga roommate saya masih usia muda, mereka ambil master. Ketiganya Melayu. Dan saya rasa ketiganya berasal dari keluarga berpunya.
Namun, dua dari tiga roommate saya ini saya rasa agak bermasalah. Entahlah, saya merasa mereka mereka punya pandangan rendah terhadap orang Indonesia, dilihat dari sikapnya terhadap saya yang sangat jauh berbeza (eaaa...) dengan sikapnya terhadap sesama mereka.
Saya bukan berprasangka, karena ternyata satu roommate saya yang juga asli Melayu berpraduga serupa.  It's oke. Tak masalah buat saya.

Yang jadi masalah buat saya adalah, dalam interaksi sehari-hari, saya sering terkaget-kaget dengan sikap mereka, tiba-tiba muncul di pintu tanpa salam tanpa ketuk, atau ketika keluar dengan setengah membanting pintu, tanpa pamit dan tanpa salam..
Hellooo... anda muslimah bukan?

Saya jadi kangen dengan kehidupan keseharian bersama anak-anak saya di Batam, Kota terrakhir yang kami tinggali bersama (hiks...). Anak-anak yang selalu ijin saat mau keluar kadang sambil berlari mengucap salam. Masuk pun selalu ucap salam. Bahkan dalam beberapa kesempatan si Adek Utsman terburu-buru masuk tanpa salam, dia akan mengucapkan salam ketika berjumpa denganku atau orang lain di dalam rumah. Aaahhh.. jadi kangen Utsman dan semuanya.
Anak-anak pun selalu diajarkan untuk berdoa, setidaknya membaca bismillah saat masuk rumah dan menutup pintu. Walau sesekali mereka lupa, setidaknya dalam keseharian hal-hal tersebut mulai melekat.

Kadang saya bertanya-tanya, tidakkah mereka diajarkan bagaimana bersikap dalam keluarga?
Ini sepele lho sebenarnya. Tapi saya merasa ini masalah. Ucapan permisi dan salam masih sulit terucapkan dari lisan mereka. Kalau datang, buka pintu, masuk, tak ada sapa, bahkan sekedar "hai", buru-buru masuk ke kamar dan tutup pintu, sampai entah.
Saat pagi tiba, biasanya sayalah yang membuka semua jendela.  Saya tak tahu jam berapa mereka keluar kamar. Namun keresahan kami, saya dan seorang teman tentang ibadah, membuat kami memaksakan diri mengetuk pintu-pintu yang tertutup itu setiap pagi, maksimal tiga kali. Setelah itu baru kami beraktifitas yang lain.
Ahh... entah.
Kadang saya berpikir untuk tidak terlalu jauh memikirkan soal ini. Tapi sisi hati lain selalu mengingatkan bahwa ini tanggung jawab saya juga selaku penghuni room 2.9.  Saya seperti mendapat gambaran masa depan tentang perilaku anak-anak yang tidak dikenalkan dengan adab oleh orang tuanya.
Saya jadi ingat sebuah pepatah,"Belajar di waktu kecil bagaikan menulis di atas batu, belajar sesudah besar bagai menulis di atas air."
Saya dan suami selalu percaya, bahwa masa kecil lah masa-masa yang paling baik untuk menanam. Tentu saja yang saya maksud di sini adalah menanam benih-benih kebaikan.

Ajarkan adab pada anakmu, sebelum engkau mengajarkannya ilmu, (saya pernah membaca perintah ini, cuma lupa redaksinya dari siapa). Adab kepada Allah, kepada agama, kepada orang tua, kepada sesama, barulah kemudian kita mengiringinya dengan ilmu. Harapannya anak terbiasa dulu, sehingga bisa menjadi akhlak kesehariannya.
Kita banyak menjumpai orang-orang yang mendalami suatu bidang ilmu, namun kadang kita jumpai mereka tidak memiliki adab. Gonjang-ganjing pilkada Jakarta dan penistaan ulama makin menguatkan kita tentang contoh betapa adab sangat penting diajarkan pada anak, sedini mungkin.
Inilah salah satu pe-er kita, pe-er orang tua sepanjang jaman untuk anak-anak, bukan hanya anak kita, namun juga anak-anak di sekitar kita.


Gombak, KL
4/4/17



Sabtu, 01 April 2017

Bukan sekedar "CUMA"

Menyandang profesi sebagai ibu rumah tangga, kadang membuat seorang perempuan merasa minder. Tentu saja, karena banyak orang masih belum mengakui profesi ini sebagai suatu profesi yang patut diapresiasi. Padahal profesi inilah satu-satunya profesi yang full tantangan, full tekanan, butuh aneka ragam skill, energi dan stok kesabaran tinggi. Profesi ini juga tidak mengenal libur, cuti atau bahkan resign ketika tidak cocok. Lebih jauh lagi, profesi ini kadang imbalannya tidak kentara dan butuh waktu lama untuk melihat progressnya.

Nah, sejak berusaha move on dari perasaan minder karena CUMA ibu rumah tangga, saya berusaha mengubah persepsi lingkungan sekitar saya tentang profesi ini. Saya memang seorang ibu rumah tangga dengan 4 anak, plus plus plus. Di dunia sosial yang tidak penting-penting banget untuk mencantumkan titel dan profesi, saya sebisa mungkin menghilangkan jejak. Jika beberapa orang bertanya tentang aktivitas saya, saya pede saja menjawabnya dengan, "Ibu rumah tangga". Walaupun banyak yang tidak percaya, hahaha... Siapa lagi yang akan menghargai profesi ibu rumah tangga kalau bukan ibu-ibu rumah tangga itu sendiri, ya nggak?

Perkembangan selanjutnya dari menjadi ibu, adalah mengurus dan mendidik anak. Tentu saja urusan ini tidak kalah menantangnya dan penuh perjuangan. Alhamdulillah, 4 anak yang diamanahkan kepada kami, saat ini 2 diantaranya telah memasuki usia sekolah. Saya dan suami, sangat-sangat percaya bahwa LINGKUNGAN sangat besar perannya dalam proses mendidik anak. Sebagai konsekuensinya, suami sangat teliti memilih lingkungan dimana kami akan tinggal, beraktifitas, dan berinteraksi. Harapannya, bisa tetap menjaga kami dalam kebaikan. Kalaupun ternyata ada keburukan yang dijumpai, pasti selalu ada evaluasi.

Suatu siang, ketika tengah mengantre di sebuah bank syariah untuk suatu keperluan, kami bertemu dengan sepasang orang tua, teman lamaaa... banget yang dahulunya pernah akrab dengan keluarga kami. Kehidupan kami yang nomaden (hiks) sejak awal berumah tangga membuat jejak kami sukar dilacak, hehe.
Kami saling bertanya kabar, bertukar cerita dan perkembangan anak-anak. Si Ibu, mengisahkan anak sulungnya yang sekarang sudah di Perguruan Tinggi, yang duluuu banget putrinya itu adalah muridnya suami. Beliau pun menanyakan tentang anak-anak saya.
"Empat bu, satu putri, 3 putra," Saya menjawabnya.
"Oh iya, dulu yang pertama yang putri cantik itu, sekarang sekolah dimana?"
Ibu ini menyempatkan silaturahmi ke kontrakan kami waktu putri pertama lahir, dan dalam beberapa kesempatan kami jumpa, selalu menimang putri saya.
"Di Ibnu Katsir bu, sebelumnya di SDTQ."
"Kelas berapa?"
"Kelas dua, Bu."
Beliau mengangguk-angguk.
Dalam hati, saya senyum melihat raut si Ibu yang sepertinya mikir. Saya merasaaa...
"Ibnu Katsir itu di mana Bu?"
Tuuh kan :)
"Di Tembesi Ibu."
"Kok saya baru dengar?"
"Sekolah baru, home schooling." Beliau manggut-manggut.
"SDTQ?"
" Di Perumahan XXX, dekat klinik YYY"
Saya memahami pertanyaan yang tersirat dari ibu itu. Anak-anaknya sekolah di SDIT yang cukup terkenal di wilayah kami. Dulu kami pun kenal beliau di sana, karena kebetulan suami dan saya juga dulu bertugas di sana. Selain saya juga mengajar di lembaga lain yang cukup dikenal di wilayah itu. Saya seperti mendengar pertanyaan yang umum dilontarkan kepada kami oleh banyak kenalan-kenalan kami,"Kenapa gak di sekolah A, B atau C. Disana kan lebih bagus. Bapak dan Ibu kan dulu aktif di sana?"
"Baru dengar ya Pah?" Dia menoleh meminta dukungan suaminya. Saya tersenyum juga.
"Iya bu, sekolahnya memang baru. Disana pelajaran umumnya sedikit saja porsinya. Setiap hari, anak-anak cuma belajar Al Quran." Saya kadang merasa gimanaaa gitu kalau mengucapkan kalimat ini. Ada perasaan yang mungkin hanya saya yang merasakannya. Tapi, inilah komitmen yang telah saya dan suami sepakati. Mungkin rendah di mata sebagian orang, mengingat dulu aktivitas saya dengan berbagai kursus untuk anak-anak: sempoa,bahasa inggris, baca quran, calistung, pelajaran sekolah, kimia, jauuuuhhh.
"Masya Allah... Ibu, kenapa bilang CUMA? Masya Allah... Al Quran itu sudah SEMUA ILMU, Bu!" Beliau mengucapkannya dengan penuh tekanan. Saya surprise dengan respon ibu ini. Beliau yang tadinya lemah lembut lemah gemulai khas orang Sunda, tiba-tiba bersemangat dan menepuk pundak saya.
"Saya salut dengan Pak A dan Ibu. Saya tahu kapasitas Bapak dan Ibu, namun saya bangga pada orang yang memilih untuk menekuni Al Quran sebagai bekalan untuk anak-anaknya."
Saya melongo. Rasa percaya diri saya menguat. Selama ini, di lingkungan kami, pilihan kami untuk anak-anak lebih banyak berseberangan dengan pendapat sebagian besar orang. Saya kadang merasa sedih, karena merasa berjalan sendiri. Sungguh, ucapan ibu ini, sangat menguatkan saya. Ibarat segelas air di padang pasir, membawa harapan untuk saya untuk terus bertahan.

Saya tidak tahu apa komentar suami saya dan juga suaminya, karena nomer saya sudah dipanggil untuk dilayani.  Namun setelah berpisah dan turun ke parkiran, saya merasa bersemangat. Ucapan ibu tadi terngiang-ngiang terus di telinga saya. Alhamdulillah, pertemuan yang tak direncanakan ini memberikan suatu pencerahan bagi saya.
Ya ya... kadang kita memang tidak pede dengan pilihan-pilihan kita yang jauh dari hingar-bingar apresiasi. Kita masih sering menilai sesuatu dengan ukuran-ukuran duniawi.
CUMA ibu rumah tangga...
CUMA ustadz..
CUMA sekolah di Ma'had atau pondok...
CUMA berdoa dan minum herbal...(kalau sakit)
Padahal, apa yang kita lakukan itu, sejatinya adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki, jalan menuju solusi. Berkelanjutan hingga ke akhirat. Namun, memang sedikit yang memilihnya, karena seperti yang dikatakan Rasulullah saw, bahwa beliau akan bersama dengan golongan yang sedikit.
Semoga kita, termasuk ke dalam golongan yang sedikit itu.

Gombak KL, 01042017