Suatu siang, di ruang pelatihan di kampus.
Aku membuka laptop. sekuntum melati yang mulai mengering menarik perhatianku. Melati itu sendiri, mulai berwarna kecoklatan. Terselip diantara monitor dan keyboardku.
Aku tak ingat, kapan menaruhnya disana.
Tapi aku tak pernah lupa moment manis di suatu pagi yang cerah.
***
Usai mandi, dia bersegera keluar. Pandangannya menyapu lapangan di depan rumah. Mencari teman yang bisa diajak main bersama.
Tampak seekor kucing milik nenek. Dikejarnya sampai kucing ngibrit masuk ke rumah. Dan tawa lepasnya memecah sunyi. Begitulah, caranya bercanda.
Dia berpaling ke sisi lain. matanya mencari-cari sesuatu. Tiba-tiba didekatinya onggokan batu-batu dan kayu di satu sisi lapangan. Beberapa kawat dan barang-barang sisa renovasi bangunan masih menumpuk di situ.
"Adeekk, tidak boleh memeanjat ke situ." Aku berusaha menggagalkan pendakiannya.
Khawatir ada paku, kaca atau kawat dan batu tajam yang bisa melukai dia.
Dia menoleh sebentar, lalu melanjutkan memanjat gundukan batu di sisi pagar.
"Adek, turun!"
Tak digubrisnya teriakanku. Dia terus memanjat. Pasti ada sesuatu yang diinginkannya.
"Adek,"aku melunak,"Hati-hati ya!"
Dia tersenyum.
Sesuatu itu digenggamnya, lalu melangkah turun kembali dan berlari mendekatiku.
"Umi, bunga melati ini buat Umi" Diraihnya tanganku. Lalu diciumnya melati yang sudah berada ditelapakku itu. "Hmm...wangi..." Dia tersenyum puas.
Aku terharu. Jadi ini yang membuat dia mengacuhkan bahaya sejenak tadi.
"Makasih ya Dek..."
"Taruh di jilbab Umi lah," Diselipkannya melati itu ke dekat telingaku. Lalu tersenyum.
"Ummi Cantik," Begitu katanya.
Aku tersenyum. Putraku yang satu ini romantis banget.
"Makasih yaa Mas Umar. Ummi sayang sama Umar." Aku megecup keningnya.
Dia mengangguk, tersenyum, lalu beranjak pergi.
Ah, Abdulloh Umar, how romantic you are...
Jumat, 16 Januari 2015
Senin, 08 Desember 2014
Antara Asma dan Isma
Penghujung 2014.
Tanpa terasa, hampir 7 tahun melalui kebersamaan. Dalam biduk rumah tangga yang penuh dengan dinamika. Hampir 7 tahun menyandang gelar sebagai ibu, dan menyadari bahwa dalam 7 tahun itu, susul menyusul prosesi hamil, melahirkan dan menyusui tanpa henti telah dilakoni.
Hwaahhh.. baru nyadar, kalo selama perjalanan pernikahan, episodnya berputar-putar pada hamil-melahirkan-menyusui plus merawat anak-anak. :P
Ya, dalam tujuh tahun itu, Alloh menitipkan 4 mutiara pada kami. Yang pertama baru genap 6 tahun, 2 minggu lalu. Yang ke dua menjelang 5 tahun, milad akhir tahun ini, yang ke tiga usia 3,5 tahun dan yang ke empat berusia 1 tahun 3 bulan. Hmm, "Susun Paku" kata temanku yang orang Padang. Aktif, lincah dan kritis. Semuanya spesial dan unik.
Hal yang selalu kuingat, bahwa dalam proses pengasuhan, 7 tahun pertama, Anak adalah Raja. Walaupun tidak sepenuhnya menerapkan ini, melayani mereka bak raja maksudnya, tetap saja terasa betapa besar stok energi dan sabar yang perlu disediakan di fase-fase awal kehidupan mereka. Melayani 4 anak usia balita, ternyata kadang juga merasa lelah, letih dan menguras emosi. Betapa tidak, walaupun aku sudah mulai menerapkan pola asistensi, tetap saja semua butuh sentuhan tangan emaknya. Tak ada yang terlewat.
Menjadi seorang ibu, ternyata benar-benar.... MENYENANGKAN!
Begitulah salah satu cara bagiku untuk mensugesti diri dan menyerap semua energi positif agar bisa berjibaku menjalani hari-hari penuh tantangan dan petualangan bersama bocah-bocah itu.
Walau lelah, letih dan kadang bosan, Tapi aku bahagia, merasakan hari-hari yang ceria dengan tingkah polah dan tawa mereka. Walau berantakan, walau belepotan,..Semua ini, tak akan lama kaaann?
Kusadari, kelak aku akan merindukan masa-masa seperti ini. Lelah, letih dan sabar, jadi ujian buatku, hingga mereka menapaki usianya dan menjejak di fase kedua kehidupan mereka. Hanya beberapa tahun lagi.
Berbeda. Jauh berbeda dengan seorang wanita luar biasa bernama Asma. Aku berjumpa dengannya kira-kira 2 tahun lalu, ketika suami mengajakku dan anak-anak berkunjung ke rumah salah seorang temannya. Ya, suami Bu Asma. Kunjungan ini menyadarkanku, bahwa lelah-letihku, dan ujian kesabaranku belum sebanding dengan apa yang diberikan Alloh untuk keluarga ini.
Di rumah Bu Asma, kutemui seorang anak, yang... LUARRR BIASA. Anak itu, mungkin sekarang usianya sekitar 15 tahun, mengingat adiknya saat ini sudah belajar di SLTP. Tetapi, usia mentalnya, jauuuhhh... sangat jauh dibandingkan usia fisiknya.
Awalnya, aku dan anak-anak agak kaget melihatnya. Tapi aku dan suami berusaha menanamkan pemahaman kepada anak-anak (dan diriku sendiri), bahwa putranya Bu Asma itu, istimewa.
Kemampuan fisiknya tampak seperti anak biasa, tapi kecerdasannya, ku rasa tidak jauh berbeda dengan anak seusia Utsman atau anak usia 1 tahun-an. Struktur tengkoraknya yang membuat otaknya tidak berkembang, telah membatasi anak itu untuk berinteraksi dengan dunia luar. Caranya berkomunikasi dengan menunjuk benda yang diinginkan, atau meraih tangan orang lain untuk memberi tahu keinginannya atau dengan rengekannya, membuatku menyadari, bahwa lelah-letih ku tak seberapa.
Bahwa aku sangat beruntung dikaruniai bocah-bocah sehat yang manis dan cerdas.
Bahwa, betapa Alloh tahu dengan tepat kemampuanku, kadar kesabaranku.
Bahwa aku, belum apa-apa dibandingkan bu Asma, dan ibu-ibu lain yang diamanahi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur.
Teringat lagi, nasihat suami, yang selalu menguatkan dalam lemahku, mengingatkan dalam lupaku, menyabarkan dalam emosiku ketika menghadapi aneka rupa tingkah pola anak-anak yang mengaduk-aduk emosi:
"Do'akan... Jangan pernah berhenti mendoakan anak-anak. Semoga Alloh membimbing dan memberikan mereka petunjuk".
Walau kadang masih berbalut dongkol, aku luluh juga. Mereka masih anak-anak kaaaann?
Mungkin kecilku dulu juga begitu. jangan-jangan, aktif dan kreatifnya juga karena nurun emaknya, hehe...
Dan aku makin jadi tambah merasa tercerahkan dengan bait-bait puisi ini. Semoga juga bisa menjadi pengingat untuk senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani prosesi menjadi ibu.
#Ingatlah disana#
Karya Kiki Barkiah
Bunda sayang.....
Saat kau merasa bosan
mendampingi buah hati yang sulit makan
Melayani satu demi satu suapan
Bahkan tak jarang beragam hidangan
kau siapkan sebagai pilihan cadangan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya menelan
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang.......
Saat kau merasa kelelahan
Mengejar buah hati yang aktif berlarian
Membuat barang menjadi berserakan
Menyulap ruang menjadi berantakan
Menarik apapun yang berada dalam jangkauan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya duduk tanpa sandaran
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang
Saat kau merasa tak lagi sabar
Mengajari anak-anakmu belajar
Merangkai huruf dalam kata
Mengerti logika matematika
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah mengenalkan benda
Menuntun ananda mengenal dunia
Meski hanya lewat indra peraba
Tanpa terasa, hampir 7 tahun melalui kebersamaan. Dalam biduk rumah tangga yang penuh dengan dinamika. Hampir 7 tahun menyandang gelar sebagai ibu, dan menyadari bahwa dalam 7 tahun itu, susul menyusul prosesi hamil, melahirkan dan menyusui tanpa henti telah dilakoni.
Hwaahhh.. baru nyadar, kalo selama perjalanan pernikahan, episodnya berputar-putar pada hamil-melahirkan-menyusui plus merawat anak-anak. :P
Ya, dalam tujuh tahun itu, Alloh menitipkan 4 mutiara pada kami. Yang pertama baru genap 6 tahun, 2 minggu lalu. Yang ke dua menjelang 5 tahun, milad akhir tahun ini, yang ke tiga usia 3,5 tahun dan yang ke empat berusia 1 tahun 3 bulan. Hmm, "Susun Paku" kata temanku yang orang Padang. Aktif, lincah dan kritis. Semuanya spesial dan unik.
Hal yang selalu kuingat, bahwa dalam proses pengasuhan, 7 tahun pertama, Anak adalah Raja. Walaupun tidak sepenuhnya menerapkan ini, melayani mereka bak raja maksudnya, tetap saja terasa betapa besar stok energi dan sabar yang perlu disediakan di fase-fase awal kehidupan mereka. Melayani 4 anak usia balita, ternyata kadang juga merasa lelah, letih dan menguras emosi. Betapa tidak, walaupun aku sudah mulai menerapkan pola asistensi, tetap saja semua butuh sentuhan tangan emaknya. Tak ada yang terlewat.
Menjadi seorang ibu, ternyata benar-benar.... MENYENANGKAN!
Begitulah salah satu cara bagiku untuk mensugesti diri dan menyerap semua energi positif agar bisa berjibaku menjalani hari-hari penuh tantangan dan petualangan bersama bocah-bocah itu.
Walau lelah, letih dan kadang bosan, Tapi aku bahagia, merasakan hari-hari yang ceria dengan tingkah polah dan tawa mereka. Walau berantakan, walau belepotan,..Semua ini, tak akan lama kaaann?
Kusadari, kelak aku akan merindukan masa-masa seperti ini. Lelah, letih dan sabar, jadi ujian buatku, hingga mereka menapaki usianya dan menjejak di fase kedua kehidupan mereka. Hanya beberapa tahun lagi.
Berbeda. Jauh berbeda dengan seorang wanita luar biasa bernama Asma. Aku berjumpa dengannya kira-kira 2 tahun lalu, ketika suami mengajakku dan anak-anak berkunjung ke rumah salah seorang temannya. Ya, suami Bu Asma. Kunjungan ini menyadarkanku, bahwa lelah-letihku, dan ujian kesabaranku belum sebanding dengan apa yang diberikan Alloh untuk keluarga ini.
Di rumah Bu Asma, kutemui seorang anak, yang... LUARRR BIASA. Anak itu, mungkin sekarang usianya sekitar 15 tahun, mengingat adiknya saat ini sudah belajar di SLTP. Tetapi, usia mentalnya, jauuuhhh... sangat jauh dibandingkan usia fisiknya.
Awalnya, aku dan anak-anak agak kaget melihatnya. Tapi aku dan suami berusaha menanamkan pemahaman kepada anak-anak (dan diriku sendiri), bahwa putranya Bu Asma itu, istimewa.
Kemampuan fisiknya tampak seperti anak biasa, tapi kecerdasannya, ku rasa tidak jauh berbeda dengan anak seusia Utsman atau anak usia 1 tahun-an. Struktur tengkoraknya yang membuat otaknya tidak berkembang, telah membatasi anak itu untuk berinteraksi dengan dunia luar. Caranya berkomunikasi dengan menunjuk benda yang diinginkan, atau meraih tangan orang lain untuk memberi tahu keinginannya atau dengan rengekannya, membuatku menyadari, bahwa lelah-letih ku tak seberapa.
Bahwa aku sangat beruntung dikaruniai bocah-bocah sehat yang manis dan cerdas.
Bahwa, betapa Alloh tahu dengan tepat kemampuanku, kadar kesabaranku.
Bahwa aku, belum apa-apa dibandingkan bu Asma, dan ibu-ibu lain yang diamanahi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur.
Teringat lagi, nasihat suami, yang selalu menguatkan dalam lemahku, mengingatkan dalam lupaku, menyabarkan dalam emosiku ketika menghadapi aneka rupa tingkah pola anak-anak yang mengaduk-aduk emosi:
"Do'akan... Jangan pernah berhenti mendoakan anak-anak. Semoga Alloh membimbing dan memberikan mereka petunjuk".
Walau kadang masih berbalut dongkol, aku luluh juga. Mereka masih anak-anak kaaaann?
Mungkin kecilku dulu juga begitu. jangan-jangan, aktif dan kreatifnya juga karena nurun emaknya, hehe...
Dan aku makin jadi tambah merasa tercerahkan dengan bait-bait puisi ini. Semoga juga bisa menjadi pengingat untuk senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani prosesi menjadi ibu.
#Ingatlah disana#
Karya Kiki Barkiah
Bunda sayang.....
Saat kau merasa bosan
mendampingi buah hati yang sulit makan
Melayani satu demi satu suapan
Bahkan tak jarang beragam hidangan
kau siapkan sebagai pilihan cadangan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya menelan
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang.......
Saat kau merasa kelelahan
Mengejar buah hati yang aktif berlarian
Membuat barang menjadi berserakan
Menyulap ruang menjadi berantakan
Menarik apapun yang berada dalam jangkauan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya duduk tanpa sandaran
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang
Saat kau merasa tak lagi sabar
Mengajari anak-anakmu belajar
Merangkai huruf dalam kata
Mengerti logika matematika
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah mengenalkan benda
Menuntun ananda mengenal dunia
Meski hanya lewat indra peraba
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang
Jika kau merasa kesal setengah mati
Mendengar rengekan ananda yang tak kunjung henti
Meminta sesuatu yang tak terpenuhi
Sementara kantukmu tak mampu tertahan lagi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang berusaha meraih arti
Dari ananda yang tak bersuara atau berbunyi
Kecuali berkata dengan isyarat jari
Jika kau merasa kesal setengah mati
Mendengar rengekan ananda yang tak kunjung henti
Meminta sesuatu yang tak terpenuhi
Sementara kantukmu tak mampu tertahan lagi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang berusaha meraih arti
Dari ananda yang tak bersuara atau berbunyi
Kecuali berkata dengan isyarat jari
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang
Saat kau merasa kesal mencuci
Tumpukan pakaian kotor sang buah hati
Bernoda cat, tanah lumpur atau oli
Yang tersisa saat bereksplorasi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang masih harus merawat remaja
Yang belum mampu bersuci sendiri dari istinja
Bahkan kemampuannya setara balita
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang
Saat kau merasa kesal mencuci
Tumpukan pakaian kotor sang buah hati
Bernoda cat, tanah lumpur atau oli
Yang tersisa saat bereksplorasi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang masih harus merawat remaja
Yang belum mampu bersuci sendiri dari istinja
Bahkan kemampuannya setara balita
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang...
ternyata kesulitan ini begitu picisan
Begitu picisan untuk dihadapi dengan tangisan
Begitu picisan untuk dihiasi dengan keluhan
Apalagi diakhiri dengan perpisahan
Bunda sayang...
Pun jika kau merasa menjadi bunda yang kumaksudkan
Dikaruniai ananda yang istimewa dalam kebutuhan
Maka ingatlah bahwa takkan Tuhanmu memberi beban
Diluar batas kemampuan
Maka berbahagialah karena engkau yang dipercaya
Mengemban amanah yang luar biasa
Dan merekalah karunia
Yang insya Allah kelak memudahkanmu menuju surga
#Batam, dalam kebuntuan nulis sinopsis
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?
Bunda sayang...
ternyata kesulitan ini begitu picisan
Begitu picisan untuk dihadapi dengan tangisan
Begitu picisan untuk dihiasi dengan keluhan
Apalagi diakhiri dengan perpisahan
Bunda sayang...
Pun jika kau merasa menjadi bunda yang kumaksudkan
Dikaruniai ananda yang istimewa dalam kebutuhan
Maka ingatlah bahwa takkan Tuhanmu memberi beban
Diluar batas kemampuan
Maka berbahagialah karena engkau yang dipercaya
Mengemban amanah yang luar biasa
Dan merekalah karunia
Yang insya Allah kelak memudahkanmu menuju surga
#Batam, dalam kebuntuan nulis sinopsis
Senin, 03 November 2014
Antara Muzammil, Sepeda Tinggi dan Tempe
Sepulang dari kampus semalam,
Abahnya anak-anak menunjuk sebuah sepeda di depan pagar. Sepeda putih bergaris
biru berlabel wimcycle itu tampak fresh. Masih baru.
"Sepeda mahal nih, Bi," aku mengomentari. Lalu segera masuk rumah.
Beberapa saat setelahnya kami bertukar cerita, tentang kejadian seharian itu, spesial topik tentang anak-anak. Betapa mereka semakin pintar, semakin sholih, menggemaskan sekaligus menyejukkan mata. Walaupun kadang berlaku sedikit menguras energi dan emosi, wajarlah, mereka masih di fase pertama kehidupan.
"Sepeda mahal nih, Bi," aku mengomentari. Lalu segera masuk rumah.
Beberapa saat setelahnya kami bertukar cerita, tentang kejadian seharian itu, spesial topik tentang anak-anak. Betapa mereka semakin pintar, semakin sholih, menggemaskan sekaligus menyejukkan mata. Walaupun kadang berlaku sedikit menguras energi dan emosi, wajarlah, mereka masih di fase pertama kehidupan.
Teringat tentang sepeda di depan pagar tadi, kami sama-sama
memaklumi keinginan besar anak-anak untuk punya sepeda baru yang lebih tinggi,
sepeda anak-anak yang beroda dua, karena Irsyad sudah bisa
mengendarainya. Berulang kali dia dengan bangga menyampaikan kepada kami
kalau dia sudah bisa naik sepeda tinggi. Kami paham maksudnya,tak lain minta dibelikan sepeda baru.
Beruntungnya anak-anak sudah mulai bisa mengendalikan keinginannya dan
memahami kondisi kantong kami. Permintaan-permintaan yang belum bisa
dipenuhi tidak lantas menjadikan mereka patah semangat atau melampiaskan dengan
perilaku tantrum. Hmm, senangnya punya
anak yang pengerrtian begini, hehe.
Sepeda di depan pagar yang tadi kami lihat adalah sepeda baru anak
tetangga. Selalu saja ada barang baru dan berkelas yang membuat kepingin
anak-anakku.
***
Pagi ini, mereka kembali bertutur tentang sepeda baru itu. Aku pura-pura belum tahu dan menanggapi
dengan antusias. Semalam, saat aku pulang, anak-anak memang sudah tidur. Sembari menyantap martabak, aku menjalankan
trikku untuk mengawal anak-anak
mengulangi buku Iqro mereka. Anak-anak
lanang ini lumayan lasak, setiap pagi ada saja alasannya untuk menggeser waktu
belajar. Jadi aku menuliskan halaman
yang harus mereka baca di papan tulis dan kami duduk membacanya bersama-sama. Tak terkecuali Utsman.
Pedang plastic berubah menjadi penunjuk baris yang harus dibaca. Utsman, Umar dan Irsyad merubung di depan papan tulis. Antusias. Aku tersenyum.
Irsyad mulai 3 baris pertama. Oya, dia sudah Iqro 4 sekarang. Selanjutnya jatah Umar, mengulangi huruf-huruf hijaiyah sampai kho. Diikuti Utsman yang selalu tampak bersemangat kalau ketemu pensil, pena atau spidol dan buku Iqro. Begitulah suasana kelas kami pagi ini.
Selanjutnya, aku menuliskan surat Al Muzammil, surat yang sempat tertunda menghafalnya karena beberapa kali kelas libur. Aku menuliskan ayat ke-10 sampai 12. Membacakannya dihadapan anak-anak dan meminta mereka mengikuti bacaanku. Hal yang kemudian mengusik perhatianku adalah kenyataan bahwa Irsyad sudah menghafalnya dengan hampir sempurna. Ia membaca, membaca dan membaca terus lanjutannya dan aku menyimak bacaannya sambil memegang mushaf.
Pedang plastic berubah menjadi penunjuk baris yang harus dibaca. Utsman, Umar dan Irsyad merubung di depan papan tulis. Antusias. Aku tersenyum.
Irsyad mulai 3 baris pertama. Oya, dia sudah Iqro 4 sekarang. Selanjutnya jatah Umar, mengulangi huruf-huruf hijaiyah sampai kho. Diikuti Utsman yang selalu tampak bersemangat kalau ketemu pensil, pena atau spidol dan buku Iqro. Begitulah suasana kelas kami pagi ini.
Selanjutnya, aku menuliskan surat Al Muzammil, surat yang sempat tertunda menghafalnya karena beberapa kali kelas libur. Aku menuliskan ayat ke-10 sampai 12. Membacakannya dihadapan anak-anak dan meminta mereka mengikuti bacaanku. Hal yang kemudian mengusik perhatianku adalah kenyataan bahwa Irsyad sudah menghafalnya dengan hampir sempurna. Ia membaca, membaca dan membaca terus lanjutannya dan aku menyimak bacaannya sambil memegang mushaf.
Ternyata bacaannya nyaris benar semua, hanya sedikit kekeliruan
semisal tasydid, atau huruf-huruf yang terdengar mirip yang membuatku harus mengoreksinya.
Subhanalloh… anak ini benar-benar membuatku takjub. Ternyata, rekamannya kuat sekali. Padahal
akhir-akhir ini aku jarang memutar lagi Al Muzammil.
Tanpa kusadari mataku berair, aku terharu dan bangga. Aku
merangkum wajahnya dengan kedua tanganku, menciuminya dan memanjatkan doa
sekaligus ungkapan kekagumanku padanya.
Ia tersenyum malu-malu. Hmm, seperti biasa dilakukannya tiap kali aku …
padanya.
Saat aku menawarinya hadiah buat prestasinya itu, dengan mata berbinar dan ucapan riang dia menjawab,”TEMPE!”
Saat aku menawarinya hadiah buat prestasinya itu, dengan mata berbinar dan ucapan riang dia menjawab,”TEMPE!”
Haaaahhh??? Kukira dia akan meminta sepeda baru.
Lagi-lagi aku terharu. Anak ini qona’ah. Dia tidak menjadikan prestasinya itu harus dihargai dengan apapun keinginan terbesarnya. Walaupun aku tahu, dia sangat-sangat ingin sepeda tinggi seperti punya anak tetangga itu.
“Di warung tadi gak ada tempe, kalau diganti yang lain apa?”
“Emmm…”, dia berpikir beberapa jenak, lantas kembali berucap riang, “SOYA!”
Dalam tawa lepasku, diam-diam aku bersyukur memiliki Irsyad. Sekali lagi aku mengecup kepalanya. Berdoa semoga dia dan saudara-saudaranya senantiasa menjadi penyejuk mata dan hati kami.
Batam, 30 Oktober 2014
#met menikmati soya ya Nak J
Lagi-lagi aku terharu. Anak ini qona’ah. Dia tidak menjadikan prestasinya itu harus dihargai dengan apapun keinginan terbesarnya. Walaupun aku tahu, dia sangat-sangat ingin sepeda tinggi seperti punya anak tetangga itu.
“Di warung tadi gak ada tempe, kalau diganti yang lain apa?”
“Emmm…”, dia berpikir beberapa jenak, lantas kembali berucap riang, “SOYA!”
Dalam tawa lepasku, diam-diam aku bersyukur memiliki Irsyad. Sekali lagi aku mengecup kepalanya. Berdoa semoga dia dan saudara-saudaranya senantiasa menjadi penyejuk mata dan hati kami.
Batam, 30 Oktober 2014
Senin, 20 Oktober 2014
Pada Dhuhur Suatu Siang
Siang terik. Masjid sudah mengumandangkan lantunan ayat suci Al Quran. Sebentar lagi adzan dhuhur akan memanggil. Aku melongok ke lapangan. Sepi. Entah kemana dua jagoanku bermain sedari tadi.
Dulu, pesan yang selalu diingat mereka adalah "Kalau sudah adzan harus pulang." masih ampuh. Bahkan ketika ketiganya sempat "hilang" bermain sampai jauh ke kompleks tetangga, aaku masih menjumpai mereka teguh memegang pesan itu.
Namun pertambahan usia sepertinya juga semakin membuat mereka makin berani bereksplorasi, berani berpendapat dan mulai berani menentang petuah-petuah yang menurut mereka tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Sebagai contohnya saja, aku selalu mengingatkan anak-anak untuk pulang ke rumah jika di masjid sudah mulai ngaji. Namun, belakangan, hal itu nyaris sudah tidak digubris, kecuali setelah aku menggiring mereka pulang dan masuk ke rumah. Kadang bahkan usai adzan pun, belum nampak juga batang hidung mereka.
Siang itu, setelah menemukan mereka, aku menggiringnya pulang, mengunci pintu pagar dan pintu depan.
"Main di dalam rumah saja," begitu aku membujuknya.
Keduanya menurut masuk, namun masih melongok ke luar melalui jendela.
Suara adzan yang berkumandang sepertinya membuat resah mereka.
"Umi, sudah adzan," begitu Irsyad berucap. Sepertinya dia berusaha menyampaikan aspirasinya.
"Ayo berwudlu, segera sholat."
"Mas mau sholat ke masjid."
"Sholat di rumah saja sama Umi.:
"Kan kalo laki-laki harusnya sholat di masjid." Dia mulai berrargumen.
"Iyya, kalau sama Abi boleh. Sekarang kan Abi masih di sekolah. Jadi mas-mas sholat di rumah saja sama Umi."
"Mas kan bisa sholat ke masjid sendiri.." Dia mulai ngotot.
"Umi bilang sholatnya di rumah saja, kalau gak ada Abi nanti kamu bukannya sholat, malah main-main, ngeganggu bapak-bapak. Kalau kamu lakukan, Umi-Abi nanti yang berdosa. Sholat di rumah saja ya, Nak?" Aku mengusap kepalanya.
Sepertinya dia menerima argumenku. Lalu bersegera berjalan ke kamar mandi untuk berwudlu.
Sesi berikutnya adalah rebutan jadi muadzin. Masalah klasik. Selalu saja tiap kali mau berjamaah, Irsyad dan Umar berebutan mengumandangkan adzan dan iqomat. Sebagai anak yang baru lepas batita, Umar selalu lebih ngotot dan tak mau diatur. Dia langsung mengambil posisi di dekat tembok dan meneriakkan adzan plus qomatnya. Masnya, mulai memerah mukanya, dia tidak kebagian pahala, hehe.
Perseteruan berikutnya adalah pemilihan imam. Irsyad beranjak ke posisi lebih depan untuk menjadi imam, tapi Umar tidak rela sehingga trjadilah dorong-dorongan dengan emosi.
Aku melerai dengan memberikan keputusan bahwa akulah imamnya.
"Imamnya Umi, mas-mas silakan berdiri di belakang Umi."
Keduanya protes karena merasa lebih berhak menjadi imam. Duh, jundi-jundiku ini, mau sholat jamaah saja pakai bertengkar. Aku kehabisan waktu untuk membujuk dan langsung mengumandangkan takbir.
"Allohu akbar." Sholat dimulai.
Kukira mereka akan bergegas mengikutiku. Ternyata aku salah besar.
Jadilah, siang itu sholat dhuhurnya sendiri-sendiri. Anak-anak membaca dengan suara keras bacaan sholatnya, berasa mereka menjadi imam. Dan bacaan sholatnya membuatku merasa tertendang.
Tahu sebabnya?
Rakaat pertama, ku baca surat al Fiil. Kudengar Irsyad membaca Al Insyiroh. Sama-sama berawalan alam, tapi surat yang dibacanya lebih panjang. Dari sisi lain kudengar juga Umar membaca Adh Dhuha.
Rakaat kedua, aku membaca An Naas. Irsyadku ternyata melantunkan al Insan. (Hwaaahhh... aku belum hafal surat ini satu ayatpun. Sekalinya aku pernah membacakan ayat yang pertama surat ini, Dia mengoreksiku, gak begitu Mi, bacaan Umi salah, begitu ujarnya.) Sementara itu Umar melantunkan surat Al Qiyamah dengan lantang dan lancar. Maka makin merasa terpuruklah aku.
Rakaat ketiga dan keempat kuselesaikan. Umar sholat hanya dua rokaat, sementara Irsyad melantunkan surat al Qiyamah di rokaat ketiga dan surat Al Fajr di rokaat ke empat. Weew, bener-bener aku seperti terperosok ke dalam lapisan bumi terdalam. Maluuu banget.
Sepertinya, kalau berada di gerbong kereta, akulah di urutan terakhir...
Sepertinya, sebagai ibu, akulah yang harus lebih mengejar ketertinggalan dibandingkan mereka.
Batam, 201014
Dulu, pesan yang selalu diingat mereka adalah "Kalau sudah adzan harus pulang." masih ampuh. Bahkan ketika ketiganya sempat "hilang" bermain sampai jauh ke kompleks tetangga, aaku masih menjumpai mereka teguh memegang pesan itu.
Namun pertambahan usia sepertinya juga semakin membuat mereka makin berani bereksplorasi, berani berpendapat dan mulai berani menentang petuah-petuah yang menurut mereka tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Sebagai contohnya saja, aku selalu mengingatkan anak-anak untuk pulang ke rumah jika di masjid sudah mulai ngaji. Namun, belakangan, hal itu nyaris sudah tidak digubris, kecuali setelah aku menggiring mereka pulang dan masuk ke rumah. Kadang bahkan usai adzan pun, belum nampak juga batang hidung mereka.
Siang itu, setelah menemukan mereka, aku menggiringnya pulang, mengunci pintu pagar dan pintu depan.
"Main di dalam rumah saja," begitu aku membujuknya.
Keduanya menurut masuk, namun masih melongok ke luar melalui jendela.
Suara adzan yang berkumandang sepertinya membuat resah mereka.
"Umi, sudah adzan," begitu Irsyad berucap. Sepertinya dia berusaha menyampaikan aspirasinya.
"Ayo berwudlu, segera sholat."
"Mas mau sholat ke masjid."
"Sholat di rumah saja sama Umi.:
"Kan kalo laki-laki harusnya sholat di masjid." Dia mulai berrargumen.
"Iyya, kalau sama Abi boleh. Sekarang kan Abi masih di sekolah. Jadi mas-mas sholat di rumah saja sama Umi."
"Mas kan bisa sholat ke masjid sendiri.." Dia mulai ngotot.
"Umi bilang sholatnya di rumah saja, kalau gak ada Abi nanti kamu bukannya sholat, malah main-main, ngeganggu bapak-bapak. Kalau kamu lakukan, Umi-Abi nanti yang berdosa. Sholat di rumah saja ya, Nak?" Aku mengusap kepalanya.
Sepertinya dia menerima argumenku. Lalu bersegera berjalan ke kamar mandi untuk berwudlu.
Sesi berikutnya adalah rebutan jadi muadzin. Masalah klasik. Selalu saja tiap kali mau berjamaah, Irsyad dan Umar berebutan mengumandangkan adzan dan iqomat. Sebagai anak yang baru lepas batita, Umar selalu lebih ngotot dan tak mau diatur. Dia langsung mengambil posisi di dekat tembok dan meneriakkan adzan plus qomatnya. Masnya, mulai memerah mukanya, dia tidak kebagian pahala, hehe.
Perseteruan berikutnya adalah pemilihan imam. Irsyad beranjak ke posisi lebih depan untuk menjadi imam, tapi Umar tidak rela sehingga trjadilah dorong-dorongan dengan emosi.
Aku melerai dengan memberikan keputusan bahwa akulah imamnya.
"Imamnya Umi, mas-mas silakan berdiri di belakang Umi."
Keduanya protes karena merasa lebih berhak menjadi imam. Duh, jundi-jundiku ini, mau sholat jamaah saja pakai bertengkar. Aku kehabisan waktu untuk membujuk dan langsung mengumandangkan takbir.
"Allohu akbar." Sholat dimulai.
Kukira mereka akan bergegas mengikutiku. Ternyata aku salah besar.
Jadilah, siang itu sholat dhuhurnya sendiri-sendiri. Anak-anak membaca dengan suara keras bacaan sholatnya, berasa mereka menjadi imam. Dan bacaan sholatnya membuatku merasa tertendang.
Tahu sebabnya?
Rakaat pertama, ku baca surat al Fiil. Kudengar Irsyad membaca Al Insyiroh. Sama-sama berawalan alam, tapi surat yang dibacanya lebih panjang. Dari sisi lain kudengar juga Umar membaca Adh Dhuha.
Rakaat kedua, aku membaca An Naas. Irsyadku ternyata melantunkan al Insan. (Hwaaahhh... aku belum hafal surat ini satu ayatpun. Sekalinya aku pernah membacakan ayat yang pertama surat ini, Dia mengoreksiku, gak begitu Mi, bacaan Umi salah, begitu ujarnya.) Sementara itu Umar melantunkan surat Al Qiyamah dengan lantang dan lancar. Maka makin merasa terpuruklah aku.
Rakaat ketiga dan keempat kuselesaikan. Umar sholat hanya dua rokaat, sementara Irsyad melantunkan surat al Qiyamah di rokaat ketiga dan surat Al Fajr di rokaat ke empat. Weew, bener-bener aku seperti terperosok ke dalam lapisan bumi terdalam. Maluuu banget.
Sepertinya, kalau berada di gerbong kereta, akulah di urutan terakhir...
Sepertinya, sebagai ibu, akulah yang harus lebih mengejar ketertinggalan dibandingkan mereka.
Batam, 201014
Kamis, 14 Agustus 2014
Ketika Anak Bicara Tentang "Kenyamanan"
Suatu sore.
"Umi, Umi nanti beli mobil lah, kayak mobilnya Pak X," Begitu tutur jagoanku sore itu.
Aku tersenyum-senyum. Bukan kali pertama dia menyampaikan aspirasinya. Sudah sangat-sangat sering anak-anak meminta diadakan benda ini, dengan berbagai alasan.
Yang kuingat diantaranya:
"Biar kalo pergi-pergi, Mas dan Kakak gak ditinggal."
"Motornya kan udah gak muat!"
"Kan enak Mi, bisa duduknya sambil nyandar, kalo ujan gak kebasahan."
"Keren Mi, apalagi kalo warnanya merah."
de el el, de es te...
Bahkan di usia 3 tahunnya Irsyad sering pergi-pergi dengan membawa kunci. Kalo ditanya, dia menjawab, "kunci mobil". hehehe...
Kali lain,
"Umi, waktu Kakak sama Mas dititip di rumah Bude tu, enaakk.."
"Enaknya gimana?"
"Kan boboknya di kamar Mbak Ia. Nah, kamarnya itu ada ACnya Mi. Seeejuuukkk..." Gayanya menikmatiii banget.
Aku tersenyum.
"Iya kan Syad?"
Hm, Dia mencari dukungan.
"Iya. Kamar kita dipasangi AC juga lah Mi." Ini Irsyad yang usul.
"Lho, ini kan bukan rumah kita, ini rumahnya Pak De. Kan harus ijin dulu sama yang punya rumah."
"Ya, Umi bilang lah sama Pak De."
"Kapan-kapan saja lah ya, pasang ACnya? Mungkin nanti kalau kita sudah punya rumah sendiri."
Keduanya mengangguk, walau nampak kecewa.
"Yang penting, Kakak dan Mas, rajin sholat, berdoa, minta sama Alloh biar dikasih rejeki yang banyak, biar bisa beli apa-apa yang tadi dipengeni." Aku mengelus kepala keduanya.
Berlalu dari mereka, aku meringis sendiri. Betapa anak-anak sekarang sudah berbeda wawasannya, cara berpikirnya dan keinginannya. Tidak sekedar terpenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier, tapi sudah bicara tentang rasa nyaman. Dan ini sebetulnya hal yang mendasar. Bahwa ada hal mendasar yang sebetulnya kadang tidak terpikirkan oleh kami, selaku orang tuanya. Bukan untuk perstise atau keren-kerenan, tapi untuk kenyamanan.
Lagi-lagi aku meringis. Beli mobil, beli AC, bisa saja diagendakan. Tapi apa nanti tetangga gak pada heboh yak?
Batam, 140814
Milad ke-36 Ummi
"Umi, Umi nanti beli mobil lah, kayak mobilnya Pak X," Begitu tutur jagoanku sore itu.
Aku tersenyum-senyum. Bukan kali pertama dia menyampaikan aspirasinya. Sudah sangat-sangat sering anak-anak meminta diadakan benda ini, dengan berbagai alasan.
Yang kuingat diantaranya:
"Biar kalo pergi-pergi, Mas dan Kakak gak ditinggal."
"Motornya kan udah gak muat!"
"Kan enak Mi, bisa duduknya sambil nyandar, kalo ujan gak kebasahan."
"Keren Mi, apalagi kalo warnanya merah."
de el el, de es te...
Bahkan di usia 3 tahunnya Irsyad sering pergi-pergi dengan membawa kunci. Kalo ditanya, dia menjawab, "kunci mobil". hehehe...
Kali lain,
"Umi, waktu Kakak sama Mas dititip di rumah Bude tu, enaakk.."
"Enaknya gimana?"
"Kan boboknya di kamar Mbak Ia. Nah, kamarnya itu ada ACnya Mi. Seeejuuukkk..." Gayanya menikmatiii banget.
Aku tersenyum.
"Iya kan Syad?"
Hm, Dia mencari dukungan.
"Iya. Kamar kita dipasangi AC juga lah Mi." Ini Irsyad yang usul.
"Lho, ini kan bukan rumah kita, ini rumahnya Pak De. Kan harus ijin dulu sama yang punya rumah."
"Ya, Umi bilang lah sama Pak De."
"Kapan-kapan saja lah ya, pasang ACnya? Mungkin nanti kalau kita sudah punya rumah sendiri."
Keduanya mengangguk, walau nampak kecewa.
"Yang penting, Kakak dan Mas, rajin sholat, berdoa, minta sama Alloh biar dikasih rejeki yang banyak, biar bisa beli apa-apa yang tadi dipengeni." Aku mengelus kepala keduanya.
Berlalu dari mereka, aku meringis sendiri. Betapa anak-anak sekarang sudah berbeda wawasannya, cara berpikirnya dan keinginannya. Tidak sekedar terpenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier, tapi sudah bicara tentang rasa nyaman. Dan ini sebetulnya hal yang mendasar. Bahwa ada hal mendasar yang sebetulnya kadang tidak terpikirkan oleh kami, selaku orang tuanya. Bukan untuk perstise atau keren-kerenan, tapi untuk kenyamanan.
Lagi-lagi aku meringis. Beli mobil, beli AC, bisa saja diagendakan. Tapi apa nanti tetangga gak pada heboh yak?
Batam, 140814
Milad ke-36 Ummi
Kamis, 08 Mei 2014
Discovery Learning
#Fragmen 1#
Suatu siang.
"Ummi, lihat, kami punya sesuatu."
Sulungku yang baru berusia 5 tahun itu membawa sebuah gelas bekas air minum kemasan. Tampak benda-benda yang disebutnya"sesuatu" penuh termuat dalam gelas itu.
"Sesuatu apa, Kak?" Aku menghentikan aktivitasku mencuci peralatan makan. Mengalihkan perhatian sepenuhnya padanya.
"Ini, dipetik dari daun-daun di pohon." Dia mengangsurkan gelas yang dipegangnya. "Ada isinya, putih-putih loh Mi."
Aku mengamati gulungan-gulungan hijau di dalam gelas.
"O, ini kepompong. Kakak dapat dari mana?"
"Dari pohon jambu, masih banyak di sana." Dia melangkah meninggalkanku, menuju halaman depan yang masih ramai dengan teman-temannya.
Aku bergegas menyusulnya. Beberapa anak balita yang sedari tadi bermain di sana masih terlihat aktif memanjati pagar, naik ke kursi dan memegang gagang sapu. Tampak daun-daun jambu yang hijau berserakan di sekitar mereka.
Hmm, ternyata mereka tengah berburu kepompong.
"Hai!" Aku berhenti di depan pintu. "Jangan dipetikin kepompongnya."
"Kenapa Mi?"
"Biarkan dia di daun, nanti kalau sudah waktunya, yang putih-putih di dalamnya itu akan jadi kupu-kupu."
"Kupu-kupu, Mi?" mereka seolah tak percaya. Mungkin tak masuk di akal mereka bagaimana bisa sebuah kepompong menjadi kupu-kupu.
"Iya, kepompong itu berasal dari ulat. Ulatnya makan yang banyak, trus dia puasa. Nah selama puasa dia berdiam di dalam daun kayak gitu sebagai kepompong. Nanti, kalau sudah waktunya, dia akan keluar menjadi kupu-kupu." Aku memandangi raut mereka yang sepertidnya bengong.
"Emm, kayak yang pernah kita tonton di Upin-Ipin itu..." aku mengingatkan.
"Oh, iyya!" seketika mereka berseru girang. Sepertinya mereka merasa tercerahkan, hehe.
Siang itu menjadi kenangku tentang pembelajaran metamorfosis pada anak usia dini. :)
#Fragmen 2#
Malam itu, kedua jagoanku ikut menjemputku ke kampus. Irsyad yang membonceng di tengah sibuk berceloteh tentang apa saja. Aku memeluknya sambil sesekali menciumi rambut wanginya. Aku tahu dia senang diperlakukan begitu.
"Ummi," Dia memainkan jari tangannya, "Mas sudah tahu kalau kayak gini itu tiga." Dia mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya. Aku tertawa dan memujinya.
Bukan hal yang baru dia bicara begitu. Sudah sering kali dia membuat bermacam-macam tiga dengan jari tangannya. Tapi tetap saja aku merasa perlu menghargai kreativitasnya.
"Ummi, kayak gini juga tiga," Diacungkannya jadi telunjuk, tengah dan kelingkingnya. Aku mendekapnya.
"Kayak gini juga tiga," Kali ini dia membuat kombinasi tiga dari jempol, telunjuk dan kelingking.
"Trus begini juga tiga," Dibuatnya formasi yang lain.
Kali ini aku tak bisa menahan kekagumanku.
"Mas hebat, pinter!" Dia tersenyum.
"Nah, sekarang Mas sudah tahu bahwa tiga itu bisa dibuat dari berbagai kombinasi jari. Coba kita hitung ya, ada berapa kombinasi yang mungkin. Pertama begini, trus begini, trus begini juga tiga, habis itu begini...
Jumlahnya bisa dihitung dengan faktorial " Aku menghentikan ucapanku melihat dia cuma melongo. Lalu tersenyum mengingat usianya yang baru empat tahun.
Akhirnya aku cuma berujar,"Nah, yang tadi itu namanya kombinasi jari!"
Wooww, dalam hati aku nyengir sendiri. Anak ini mengaplikasikan materi kombinasi (salah satu materi matematika di level SMP dan SMA) di usia 4 tahunnya. Dan aku tidak mengajarinya. Dia menemukan sendiri.
Dari sekian banyak aktivitas dan kreatifitas anak-anak kita, merupakan aplikasi dari berbagai topik pembelajaran yang pernah kita jumpai di berbagai level sekolah. Seperti dua topik di atas. Kalau dilihat dari teori pembelajaran, model pembelajaran seperti itu dikatakan sebagai discovery learning atau model belajar penemuan.
Teori belajar ini dikembangkan oleh Bruner, seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Menurut Teori Bruner, anak tumbuh melalui tahapan-tahapan yang berbeda yang didasarkan pada penampilan mentalnya.
Adapun 3 tahap itu adalah:
1. tahap penampilan mental enaktif dimana anak mengembangkan keterampilan sensori motorik.
2. tahap penampilan ikonik dimana mental anak dipengaruhi oleh persepsi yang sifatnya egosentris dan tidak stabil.
3. tahap simbolik dimana anak mencapai pengembangan keterampilan berbahasa dan kemampuan mengaitkan dunia luar dengan kata-kata dan idenya.
Menurut Bruner, sejak kecil, anak sebenarnya sudah dapat menangkap konsep-konsep IPA. Misalnya, apabila seorang anak diberi tahu bahwa api itu panas, kemungkinan besar dia akan segera lupa atau tidak peduli. Tetapi ketika suatu ketika anak memeagang api dan merasakan panasnya, kemungkinan besar, dia akan terus mengingatnya.
Model discovery learning dapat dipandang sebagai suatu proses belajar yang terjadi apabila siswa (anak) tidak dijejali dengan konsep, melainkan dia sendiri yang mengelola nformasi sehingga menemukan konsep tersebut. Pembelajaran dengan model ini akan lebih mudah diingat oleh anak dan informasinya akan disimpan lebih lama. Pembelajaran berdasarkan penemuan akan lebih meningkatkan penalaran, mengembangkan kemampuan anak untuk berpikir secara bebas dan menumbuhkan kemandirian anak dalam belajar. Model penemuan ini juga dapat mengubah motivasi belajar pencarian pujian dari luar (motivasi ekstrinsik) ke kepuasan batin (motivasi intrinsik).
Pada model discovery learning ini, guru atau orang tua berperan sebagai guide (penuntun dan pengarah) bagi siswa/anak yang mencari informasi, jadi bukan sebagai pemberi informasi. Walaupun mungkin cara belajar ini butuh waktu agak lama dan sedikit ribet (karena harus mengarahkan anak ke arah yang benar), tetapi banyak pendapat yang menyatakan bahwa model ini banyak dirujuk dalam pembelajaran.
Referensi: Rokiyah & Ketut Budiastra, 2013, Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA di SD
Suatu siang.
"Ummi, lihat, kami punya sesuatu."
Sulungku yang baru berusia 5 tahun itu membawa sebuah gelas bekas air minum kemasan. Tampak benda-benda yang disebutnya"sesuatu" penuh termuat dalam gelas itu.
"Sesuatu apa, Kak?" Aku menghentikan aktivitasku mencuci peralatan makan. Mengalihkan perhatian sepenuhnya padanya.
"Ini, dipetik dari daun-daun di pohon." Dia mengangsurkan gelas yang dipegangnya. "Ada isinya, putih-putih loh Mi."
Aku mengamati gulungan-gulungan hijau di dalam gelas.
"O, ini kepompong. Kakak dapat dari mana?"
"Dari pohon jambu, masih banyak di sana." Dia melangkah meninggalkanku, menuju halaman depan yang masih ramai dengan teman-temannya.
Aku bergegas menyusulnya. Beberapa anak balita yang sedari tadi bermain di sana masih terlihat aktif memanjati pagar, naik ke kursi dan memegang gagang sapu. Tampak daun-daun jambu yang hijau berserakan di sekitar mereka.
Hmm, ternyata mereka tengah berburu kepompong.
"Hai!" Aku berhenti di depan pintu. "Jangan dipetikin kepompongnya."
"Kenapa Mi?"
"Biarkan dia di daun, nanti kalau sudah waktunya, yang putih-putih di dalamnya itu akan jadi kupu-kupu."
"Kupu-kupu, Mi?" mereka seolah tak percaya. Mungkin tak masuk di akal mereka bagaimana bisa sebuah kepompong menjadi kupu-kupu.
"Iya, kepompong itu berasal dari ulat. Ulatnya makan yang banyak, trus dia puasa. Nah selama puasa dia berdiam di dalam daun kayak gitu sebagai kepompong. Nanti, kalau sudah waktunya, dia akan keluar menjadi kupu-kupu." Aku memandangi raut mereka yang sepertidnya bengong.
"Emm, kayak yang pernah kita tonton di Upin-Ipin itu..." aku mengingatkan.
"Oh, iyya!" seketika mereka berseru girang. Sepertinya mereka merasa tercerahkan, hehe.
Siang itu menjadi kenangku tentang pembelajaran metamorfosis pada anak usia dini. :)
#Fragmen 2#
Malam itu, kedua jagoanku ikut menjemputku ke kampus. Irsyad yang membonceng di tengah sibuk berceloteh tentang apa saja. Aku memeluknya sambil sesekali menciumi rambut wanginya. Aku tahu dia senang diperlakukan begitu.
"Ummi," Dia memainkan jari tangannya, "Mas sudah tahu kalau kayak gini itu tiga." Dia mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya. Aku tertawa dan memujinya.
Bukan hal yang baru dia bicara begitu. Sudah sering kali dia membuat bermacam-macam tiga dengan jari tangannya. Tapi tetap saja aku merasa perlu menghargai kreativitasnya.
"Ummi, kayak gini juga tiga," Diacungkannya jadi telunjuk, tengah dan kelingkingnya. Aku mendekapnya.
"Kayak gini juga tiga," Kali ini dia membuat kombinasi tiga dari jempol, telunjuk dan kelingking.
"Trus begini juga tiga," Dibuatnya formasi yang lain.
Kali ini aku tak bisa menahan kekagumanku.
"Mas hebat, pinter!" Dia tersenyum.
"Nah, sekarang Mas sudah tahu bahwa tiga itu bisa dibuat dari berbagai kombinasi jari. Coba kita hitung ya, ada berapa kombinasi yang mungkin. Pertama begini, trus begini, trus begini juga tiga, habis itu begini...
Jumlahnya bisa dihitung dengan faktorial " Aku menghentikan ucapanku melihat dia cuma melongo. Lalu tersenyum mengingat usianya yang baru empat tahun.
Akhirnya aku cuma berujar,"Nah, yang tadi itu namanya kombinasi jari!"
Wooww, dalam hati aku nyengir sendiri. Anak ini mengaplikasikan materi kombinasi (salah satu materi matematika di level SMP dan SMA) di usia 4 tahunnya. Dan aku tidak mengajarinya. Dia menemukan sendiri.
Dari sekian banyak aktivitas dan kreatifitas anak-anak kita, merupakan aplikasi dari berbagai topik pembelajaran yang pernah kita jumpai di berbagai level sekolah. Seperti dua topik di atas. Kalau dilihat dari teori pembelajaran, model pembelajaran seperti itu dikatakan sebagai discovery learning atau model belajar penemuan.
Teori belajar ini dikembangkan oleh Bruner, seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Menurut Teori Bruner, anak tumbuh melalui tahapan-tahapan yang berbeda yang didasarkan pada penampilan mentalnya.
Adapun 3 tahap itu adalah:
1. tahap penampilan mental enaktif dimana anak mengembangkan keterampilan sensori motorik.
2. tahap penampilan ikonik dimana mental anak dipengaruhi oleh persepsi yang sifatnya egosentris dan tidak stabil.
3. tahap simbolik dimana anak mencapai pengembangan keterampilan berbahasa dan kemampuan mengaitkan dunia luar dengan kata-kata dan idenya.
Menurut Bruner, sejak kecil, anak sebenarnya sudah dapat menangkap konsep-konsep IPA. Misalnya, apabila seorang anak diberi tahu bahwa api itu panas, kemungkinan besar dia akan segera lupa atau tidak peduli. Tetapi ketika suatu ketika anak memeagang api dan merasakan panasnya, kemungkinan besar, dia akan terus mengingatnya.
Model discovery learning dapat dipandang sebagai suatu proses belajar yang terjadi apabila siswa (anak) tidak dijejali dengan konsep, melainkan dia sendiri yang mengelola nformasi sehingga menemukan konsep tersebut. Pembelajaran dengan model ini akan lebih mudah diingat oleh anak dan informasinya akan disimpan lebih lama. Pembelajaran berdasarkan penemuan akan lebih meningkatkan penalaran, mengembangkan kemampuan anak untuk berpikir secara bebas dan menumbuhkan kemandirian anak dalam belajar. Model penemuan ini juga dapat mengubah motivasi belajar pencarian pujian dari luar (motivasi ekstrinsik) ke kepuasan batin (motivasi intrinsik).
Pada model discovery learning ini, guru atau orang tua berperan sebagai guide (penuntun dan pengarah) bagi siswa/anak yang mencari informasi, jadi bukan sebagai pemberi informasi. Walaupun mungkin cara belajar ini butuh waktu agak lama dan sedikit ribet (karena harus mengarahkan anak ke arah yang benar), tetapi banyak pendapat yang menyatakan bahwa model ini banyak dirujuk dalam pembelajaran.
Referensi: Rokiyah & Ketut Budiastra, 2013, Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA di SD
Jumat, 21 Maret 2014
Kebakaran Hutan, Musnahnya Pabrik Oksigen Kita.
Memasuki
bulan ketiga di tahun 2014, penduduk Batam masih menantikan datangnya hujan.
Hujan yang menyirami bumi Batam, yang akan mengikis asap dan debu, membasahi
tanah dan rerumputan, memuaskan dahaga tetumbuhan dan manusia-manusia yang
kegerahan, menyegarkan kembali udara yang sekian lama terakumulasi polusi.
Beberapa
bulan terakhir ini, kondisi atmosfir Batam, sangat tak bersahabat. Udara panas
membuat gerah. Angin yang cukup kencang menerbangkan debu dan serpihan yang
berbobot ringan, membuat udara menjadi terasa sesak. Hujan yang biasanya sudah turun, hingga hari
ini belum juga hadir. Jalanan di beberapa kawasan dekat hutan lindung yang
biasanya selalu segar dan nyaman, kini mulai terasa berbeda. Asap dan jelaga
dari kebakaran hutan membuat pagi tak lagi berseri. Udara pagi tak lagi segar. Bernafas pun tak lagi nyaman dan menyegarkan rongga dada.
Pemberitaan
di media juga melaporkan kondisi Riau dan pulau Sumatera yang bahkan lebih parah.
Kabut asap dimana-mana, menyisakan sesak dan aroma sengit bau bakaran yang
bersumber dari ratusan titik api, menghalangi jarak pandang dan mengganggu penerbangan.
Memprihatinkan. TV One memberitakan bahwa Riau saat ini sudah tak layak huni
karena hanya 5% udara bersih yang bisa dihirup.
Perkembangan
teknologi yang dimiliki manusia kian
hari kian meningkatkan interaksi manusia dengan 3 media lingkungan, tanah, air
dan udara. Bukan hanya sekedar untuk
memnuhi kebutuhan dasar sumberdaya untuk menjalani hidup, namun interaksi ini
bahkan telah merambah pada kebutuhan sumberdaya untuk menikmati hidup. Akibatnya
eksploitasi terhadap ketiga media lingkungan itu, kian meningkat pula.
Sebagian
besar udara kita terdiri dari dari campuran gas, terutama nitrogen, oksigen,
karbon dioksida dan uap air. Oksigen dibutuhkan oleh semua makhluk yang aerob
untuk bernapas, karbon dioksida dibutuhkan dalam fotosintesis tumbuhan,
nitrogen bermanfaat dalam metabolisme bakteri nitrat.
Keberadaan
udara (atmosfir) telah dieksploitasi manusia dalam berbagai kebutuhannya
menjalani hidup. Menurut Mariyam (2012) ada 6 bentuk eksploitasi udara oleh
manusia, yaitu: (1) Sumber oksigen untuk pernafasan, (2) tempat pembuangan karbondioksida
sisa pernafasan, (3) tempat pembuangan uap air yang dilepaskan dari pernafasan
dan berkeringat, (4) tempat pembuangan limbah yang berupa asap, gas dan partikel
halus (butir-butir debu) (5) untuk komunikasi fisik dengan pesawat udara dan
(6) untuk komunikasi elektromagnetik melalui radio, televisi, radar dan telepon
melalui satelit komunikasi. Semua bentuk
eksploitasi ini berpotensi menyebabkan pencemaran udara.
Setiap
waktu kita bernafas, seorang dewasa menghirup kira-kira 3.000 gallon (11,4
meter kubik) udara tiap hari. Udara yang kita hirup jika tercemar oleh bahan
berbahaya dan beracun akan berdampak serius pada kesehatan. Walaupun tidak
terlihat secara kasat mata, pencemar udara mengancam kehidupan kita dan makhluk
hidup lainnya.
Saat
ini, atmosfir kita tak ubahnya “keranjang sampah”. Pengotoran atau pencemaran
udara dapat terjadi karena peristiwa alam yang memang bersifat alami, misalnya
hujan abu karena gunung meletus, suhu dan gelombang panas, asap karena
kebakaran hutan. Namun penyebab
pencemaran paling besar adalah manusia. Menurut
Mukono (2010), beberapa jenis pencemar udara yang perlu dicermati adalah: (1)
benda partikulat atau jelaga atau asap, merupakan pencemar yang paling mudah
terasakan dan paling berbahaya karena partikulat yang halus dapat menelusup
hingga ke alveoli paru-paru; (2) sulfur oksida, SO2; (3) Karbon
monoksida, CO; (4) nitrogen oksida/dioksida (NOx); (5) Karbon dioksida, CO2;
dan (6) Hidrokarbon (HC).
Parameter
pencemar udara yang perlu diperhatikan terkait dengan penyakit saluran
pernapasan adalah benda partikulat/debu, gas SO2, gas NO2
dan gas CO. Jenis pencemar ini umumnya dihasilkan dari proses industry,
pembakaran sampah padat, pembakaran sisa pertanian, transportasi, bahan bakar
minyak dan batubara, incinerator dan kebakaran hutan.
Secara
umum, efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan
terjadinya iritasi pada saluran pernapasan, meningkatkan produksi lendir akibat
iritasi oleh bahan pencemar sehingga dapat mempersempit sauran pernapasan,
rusaknya sel pembunuh bakteri di salauran pernapasan, pembengkakan saluran
pernapasan, lepasnya silia dan selaput lendir yang kesemuanya akan berujung
pada infeksi saluran pernapasan (Mukono, 2010).
Ditinjau
dari kondisi media lingkungan manapun,-tanah, air, udara- saat ini semua serba
mengkhawatirkan. Pencemaran melingkupi tanah, air dan udara di sekeliling kita.
Kekeringan, musim hujan yang terlambat datang, krisis air bersih, krisis udara
bersih, cuaca yang menyengat, banjir, tanah longsor, semuanya, jika kita cari benang merahnya bersumber dari
tergerusnya areal hutan di sekitar kita.
Hutan,
satu-satunya areal yang bisa mempertahankan kadar oksigen di atmosfir saat ini
makin berkurang jumlahnya. Alih fungsi hutan dengan dalih pembangunan,
pembalakan hutan dan kebakaran (atau pembakaran?) yang mencapai ratusan hektar
di wilayah Kepri dan Riau daratan, telah memicu krisis udara bersih yang
berimbas secara langsung maupun tak langsung pada keberlangsungan hidup makhluk
yang bernama manusia. Udara bersih menjadi barang langka saat ini. Padahal, kita memerlukan udara bersih setiap
saat. Pada udara bersih kita dapat bernafas dengan nyaman, suhu udara
keseharian tidak menyebabkan kita kegerahan di siang hari atau terlalu
kedinginan di malam hari. Tidak ada bau
yang tidak sedap atau bau-bau aneh lainnya yang merangsang kita untuk
batuk.
Kebakaran
hutan telah membuat sekian banyak jiwa manusia resah. Tingginya kadar
partikulat/debu biasanya diikuti dengan
tingginya gas sulfur dioksida. Kedua bahan tersebut diketahui bekerja
secara sinergis untuk menghambat pergerakan silia sehingga tidak dapat
membersihkan saluran pernapasan. Bahkan
lebih jauh dapat mendorong partikulat tersebut lebih banyak masuk ke paru-paru.
Tak heran, jumlah pengidap ISPA akhir-akhir ini meningkat drastis. Belum lagi penyakit kulit, mata dan asma yang
muncul karena tingginya kadar pencemar dalam udara.
Rentetan
bencana yang menimpa Indonesia, seharusnya menjadikan kita, warga Bumi
Indonesia, bermuhasabah. Apa yang salah? Mengapa alam sekarang jauh dari
bersikap ramah kepada kita? Mungkin kita selaku manusia sudah terlampau pongah.
Sehingga alam dengan berbagai mekanismenya menegur kita. Tuhan memainkan tangan-Nya
melalui teguran-teguran bijak-Nya. Lantas, mengapa kita masih larut dalam
keangkuhan dan ketidakpedulian tentang lingkungan kita sendiri? Bumi kita
sendiri? Hidup kita sendiri? Nasib kita sendiri?
Harus
disadari, pencemaran udara sangat berpengaruh pada kenyamanan dan kesehatan
manusia dan lingkungan. Partisipasi masyarakat, seberapapun kecilnya, akan memberi
arti yang besar bagi terciptanya udara bersih-berkualitas yang kita dambakan.
Namun hal ini dibutuhkan prakarsa, fasilitas dan penampungan kegiatan oleh
pemerintah. Partisipasi masyarakat akan menjadi lebih besar jika masyarakat
termotivasi. Berbagai kegiatan
kepedulian lingkungan yang digagas dan dilakukan oleh masyarakat akan makin berkembang
jika pemerintah mau peduli, memfasilitasi atau mengapresiasi.
Seperti
dikemukakan di atas, hutan kita perlu uluran tangan kita. Hutan, pabrik oksigen
kita, pabrik air bersih kita, pengatur iklim mikro kita, kekayaan flora dan
fauna kita, menantikan kepedulian kita. Kepedulian kita pada hutan, berarti
kepedulian kita pada bumi, pada sekian banyak nyawa di permukaan bumi.
Perlu
kita cermati, kebakaran hutan yang terjadi dan meluas akhir-akhir ini tak akan
selesai, jika kita masih saja berpangku tangan, saling tuding atau lempar
tanggung jawab. Pemusnahan pepohonan akibat kebakaran secara hitung-hitungan
tentu saja jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pohon baru yang
membutuhkan waktu bertahun-tahun. Perlu kita cermati, Kita bisa saja memilih
baju yang akan kita pakai, air yang akan kita minum, dan makanan yang akan kita
makan. Tetapi tidak bisa memilih udara yang kita hirup. Saat ini, mungkin kita
masih bisa menggunakan masker atau alat pelindung pernapasan lainnya. Bukan tak mungkin, kelak kita harus memanggul
tabung oksigen kemana-mana, jika saja laku kita masih tak berubah.
Langganan:
Postingan (Atom)