Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2019

Ibroh Kembara Musa: Nasihat bagi Para Pencari Ilmu (bagian 3)

Bagian sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut:
https://goresancintabunda.blogspot.com/2019/02/ibroh-kembara-musa-nasihat-bagi-para.html

*****
Kisah pengembaraan Musa dalam surat al Kahfi diceritakan pada ayat 60-82. dalam surat Al Kahfi, hanya ada satu tokoh yang diberi nama, yaitu Musa.
Dalam ayat 60 disampaikan:
Dan ingatlah, ketika Musa berkata kepada (fataahu) pelayan/partnernya: "Aku tidak akanberhenti (berjalan) sebelum sampai ke tempat pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan (terus) sampai bertahun-tahun
Disini dikisahkan bahwa Musa bertujuan mencari tempat pertemuan dua laut, dimana dalam perjalanan itu, dia ingin menemukan seorang yang dikatakan Allah mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa, selaku orang yang paling berilmu dalam kaumnya pada masa itu.
Ayat ini bermakna untuk FOKUS kepada tujuan.
Orang yang berniat mencari ilmu, hendaknya mempunyai tujuan yang jelas dan dia harus fokus untuk mencapai tujuan tersebut. (POINT 1)
Ayat 61 menyebutkan:
Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
Ayat 62:
Maka ketika mereka telah melewati tempat itu, Musa berkata kepada pembantunya, "Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan ini.
Kedua ayat ini mengisahkan, bahwa dalam mencari ilmu seseorang harus menempuh jalan yang MELELAHKAN. Dan itu sudah sunatullah (POINT 2)
Ayat 63:
Dan pembantunya menjawab, "Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.
Ayat 64:
Dia (Musa) berkata, "Itulah tempat yang kita cari." lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Kedua ayat ini mernyiratkan, bahwa kadang seorang pencari ilmu, terlupakan tentang keadaannya, terlupakan tentang tujuannya akibat usahanya tadi. Namun, ketika dia tersadarkan bahwa jalan yang ditempuhnya sudah terlampaui, atau menyimpang maka seharusnya dia MENGOREKSI LANGKAHNYA. Jika hal itu salah, ulangilah kembali dengan 'cara" yang benar untuk kembali ke TUJUAN AWALnya. (POINT 3)
Ayat 65:
Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah diberikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.
*****
Dalam Shahih Al Bukhari disampaikan Ubay bin Ka'ab meriwayatkan dari Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam, dia berkata:
Pada suatu hari, Musa, seorang Nabi, memberi khutbah kepada Bani Israel, lalu dia ditanya, "Siapakah orang yang paling berilmu?"
Lalu Musa menjawab, "Akulah yang paling berilmu dibandingkan siapapun."
Lalu Allah mengingatkan kekhilafannya, karena Musa tidak menisbatkan bahwa yang paling berilmu adalah Allah.
Lalu Allah mewahyukan kepadanya: "Ada seorang hamba dari kalangan hamba-hamba-Ku di satu lokasi dimana bertemunya dua lautan. Dia lebih berilmu dibanding engkau."
Musa berkata:"Wahai Tuhanku, bagaimana aku hendak bertemu dengannya?"
Lalu dikatakan kepadanya:"Bawalah ikan di dalam sebuah bekas (wadah), apabila nanti engkau kehilangan ikan itu, maka engkau (akan) temui dia di situ.
Lalu Musa pun berangkat dan berangkat bersamanya Yusa' bin Nun dalam waktu yang sama dengan membawa ikan dalam sebuah wadah.
*****
Btw, ayat ini mengindikasikan bahwa Allah memberikan ilmu kepada sesiapapun yang dikehendakinya, tanpa memandang kedudukannya. Musa, saat itu berkedudukan sebagai seorang NABI dan ROSUL, sedangkan orang yang akan dicarinya kedudukannya disebutkan sebagai HAMBA ALLAH.
Maknanya, ada banyak orang yang diberi keilmuan yang tinggi dalam satu bidang, namun dia tidak berpengetahuan dalam bidang yang lain. Tidak juga menutup kemungkinan bahwa orang itu derajatnya lebih rendah dari kita (secara sosial, secara usia, dsb). Maka dalam menuntut ilmu, hendaklah BERTANYA KEPADA AHLINYA (POINT 4), dan JANGANLAH SOMBONG (POINT 5) dengan ilmu yang kita miliki.
Allahu a'lam bisshowab.
5 Ayat dulu yaaa frens, insya Allah lanjut besok.
Semoga bermanfaat .
Baarokallahu fiik

Ibroh Kembara Musa: Nasihat bagi Para Penuntut Ilmu (Bagian 2)

Saya telah berusaha untuk on time. Namun ternyata langkah saya masih kurang cepat. Sampai di Masjid, kajian sudah dibuka. Namun peserta masih belum banyak lagi.
Saya mengambil tempat yang masih lapang di barisan sisters (akhwat). Mengeluarkan buku dan pena, bersiap menyimak.
Ups, saya terlupa membawa al Quran.
Alhamdulillah, paket data masih on, jadi bisa ngintip Quran.com dan mengunduh materi versi pdf yang di share di grup.
Sesi kajian, akan berlangsung hingga jam 1 siang, di bagi dalam 4 sesi.
Sesi pertama, adalah INTRO.
Al Quran adalah salah satu tanda/ ayat-ayat Allah, yang didalamnya mengandung sejumlah hudaa linnaas, petunjuk bagi manusia (Al Baqarah ayat 185) dan hudalil muttaqiin (Al Baqarah ayat 1). Di dalamnya berisi penjelasan tentang aqidah, shari'ah dan kissah-kissah umat terdahulu.
Bentuk penceritaan kissah yang terbaik, adalah kisah-kisah yang disampaikan secara langsung oleh Allah dalam Al Quran, dimana hanya ada satu versi saja kissah yang terjadi yang disampaikan oleh pemilik atau pembuat cerita, yaitu Allah.
Di dalam Al Quran, Allah tidak menceritakan hal-hal melainkan hanya yang penting-penting saja dan bermanfaat.
Contohnya, dalam surat Yusuf, dimana dikatakan sebagai "ahsanal qoshosh", cerita terbaik, dimana disana dikisahkan secara utuh, lengkap tentang perjalanan hidup Nabi Yusuf 'alaihissalaam sejak kecil, hingga beliau sukses menjadi pemimpin di negeri Mesir.
Dalam kisah ini tidak disebutkan nama dari semua tokoh yang terlibat, namun hanya dijumpai 3 nama saja yaitu: Yusuf, Ya'qub dan Bunyamin.
Sementara wanita yang menggoda Yusuf (yang dalam beberapa riwayat dikenal sebagai Zulaikha, hanya disebutkan sebagai imro'atul Aziz), raja disebutkan sebagai raja. saudara-saudara Yusuf, perempuan-perempuan yang mengupas mangga, teman Yusuf di penjara, tidaklah didetilkan.
(Bisa jadi diibaratkan mereka sebagai figuran saja..
Hal ini juga, mengingatkan saya pada pertanyaan si Kakak Aya, menjelang saya berangkat ke Gombak: Mengapa ayah nabi Musa tidak pernah disebutkan dalam Al Quran.
Ok, I got the answer, Alhamdulillah).
Adapun tentang Siti Zulaikha, mungkin disitir dari kisah-kisah Israiliyat (versi bani Israil), yang kebenarannya hanya Allah yang tahu. Namun, beberapa nama yang menjelaskan tokoh, bisa juga ditemukan dalam hadits-hadits dari Nabi Muhammad saw.
Lanjut yaa...
Ini tadi tentang kisah pengembaraan Musa yang dimuat dalam surat Al Kahfi, surat no. 18 dalam Al Quran, setelah Al Isro' dan sebelum Maryam. Berjumlah 110 ayat.
Dalam surat Al Kahfi sendiri, terdapat 4 kisah yang diceritakan:
1. Kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua)
2. Kisah Shohibul Jannatain (pemilik dua kebun)
3. Kisah pengembaraan nabi Musa
4. Kisah Dzulkarnain.
Masing-masing kisah menekankan pada tema yang spesifik.
Kisah ashabul kahfi mengajarkan tentang keimanan, bagaimana mempertahankan aqidah di bawah penguasa yang dzalim.
Kisah shobul jannatain mengajarkan bagaimana menyikapi ujian berupa harta/kekayaan. Kisah Musa mengajarkan bagaimana tentang perjuangan dan adab mencari ilmu. dan kisah Dzulkarnain bertemakan tentang kekuasaan.
Surat Al kahfi sendiri diturunkan pada tahun ke-5 kenabian dengan asbab nuzul yaitu tentang seorang yang ditanyakan 3 persoalan:
-tentang sekumpulan anak muda yang mengasingkan diri
-tentang seorang yang pergi mengembara ke barat dan ke Timur
-tentang ruh
Tentang ruh ini, Allah menurunkan jawabannya dalam surat Al isra' ayat 85:
Wayas'aluunaka 'anirruuh. Kulli ruuhu min amri Robbii. Wamaa uutiitum minal 'ilmi illa qoliilaa..
Dan mereka bertanya tentang ruh. katakanlah: "Ruh itu urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi ilmu, melainkan sedikit sekali."
Allahu a'lam bisshowaab

Sabtu, 11 November 2017

Ketika Nak Bujang Kelebihan Energi

# Repost
Hari ini Mas Sholih kelebihan energi.
Tidak tidur siang dan main hingga sore.
Habis mandi dan sholat maghrib, lanjut kursus sempoa. Top lasak dan usilnya. Lalu iseng sama adik-adiknya. Bermacam ulahnya.
Si emak, gak hilang akal, disuruhlah bantu ini itu macam-macam. Dari pergi ke warung hingga meladeni urusan si bungsu. Maklum, emak repot ngurusin daging yang baru datang. Rejeki bocah-bocah yang masih pengen bakso. Maka emak pun bergelut dengan adonan bakso jilid dua, haha...
Si Mas Sholih masih full baterai. Jadilah, si emak minta bantuin ngawal adek bungsu pipis dan gosok gigi. Memakaikan celana dan mengantar ke tempat tidur.
Mas Sholih manut dengan manis, alhamdulillah.
Habis itu dia pergi ke kamar mandi. Karena belum ngantuk, katanya pengen sholat lagi.
Maasya Allah... Maasya Allah... Dia mau sholat witir 3 rakaat katanya. Emak ngintip sambil terharu dari belakang pintu.
Lalu diambilnya mushafnya dan melantunkan Al Mulk. Usai Al Mulk, dimuroja'ahnya juz 2.
Maasya Allah... Maasya Allah..
Emak menitikkan air mata. Diam-diam berdoa semoga Mas Sholih istiqomah.
Lepas tu, dia beranjak ke kamar. Melantunkan doa pengantar tidur berupa Ayat Kursi dan 3Qul. Tak lupa mengusapkan ke muka dan tubuh saudara2nya.
Maasya Allah... Emak merasa entah...tak terkata.
Diam diam istighfar, karena tadi sempat kesal.
Astaghfirullah... Astaghfirullah, darinya emak harus terus belajar.
#Icad7,8y
Karsuli, 030917

Jumat, 20 Oktober 2017

Pada Subuh Suatu Jumat


Hari ini facebook menayangkan kenangan bertahun lalu tentang sebuah postinganku di blog ini yang berjudul Pada Dhuhur Suatu Siang. Lihat disini


Tiba-tiba teringat peristiwa tadi pagi yang rada-rada mirip yang membuatku malu hati pada anak-anak itu.

Begini kisahnya:

Adzan Subuh telah terlantun. Pagi yang menurutku terlalu awal. Subuh di sini adzannya jam 4. Dan aku masih setia dengan irama tubuh wilayah Sumatera yang adzannya sekitar jam 4.30 lebih, atau bahkan jam 5.30 waktu setempat kalau di Gombak.

Paksu sudah bersiap sedari tadi untuk ke mesjid. Istrinya masih "ngambek oleh" merem-melek memperpanjang tidur sambil nunggu antrian di kamar mandi, wkwkwk (jangan ditiru). Sambil menunggu kumandang iqomat beberapa saat lagi. Sambil juga dengan suara serak membangunkan anak-anak yang masih terlelap, agar segera menuju masjid terdekat.

Anak-anak bangun, dan sambil mengantri giliran ke kamar mandi kembali berbaring di kasur di ruang tengah. Sama kayak emaknya tadi, niatnya memperpanjang tidur. Tak peduli emaknya menggebah-gebah menyuruh wudhu sampai terdengar iqomat di masjid.

Emak meninggalkan mereka, bersegera memenuhi panggilan iqomat, dan anak-anak melanjutkan lelapnya.
Ingat hari ini Jumat, emak berniat membaca Al Kahfi ba'da sholat subuh.
Done.

Lalu lanjut membangunkan dan mengingatkan anak-anak yang masih tergolek-golek di kasur untuk segera sholat subuh.
Anak-anak bangun dengan malas-malasan, si Emak mulai berkicau di pagi hari.

Usai subuh berjama'ah di rumah, anak-anak itu mengambil Qur'annya masing-masing.
Si kakak pertama mojok dekat pembaringan mengkhatamkan Al Kahfi. Si Abang ketiga Abdulloh Umar, yang masih terbata belajar tajwid, akhirnya mengkhatamkan juga Al Kahfi-nya. P
adahal biasanya dia baca cuma  sampai ayat 20. 
Sedang si Mas Sholih, akhirnya berhasil mengkhatamkan juga Al Kahfinya walau dengan mata yang masih berat dengan kantuk.

Si Emak yang berkicau tadi, malu hati. Setelah Dhuha, dia lanjutin baca Al Kahfi. Tadi pagi baru separuh surat yang dia baca.

Sudahkah mengkhatamkan Al Kahfi hari ini?

Jumat 201017
Sekarsuli

Senin, 12 Juni 2017

INISIATIF

Subuh di Sekarsuli saat ini jam 4.27. Karena sudah mesti bangun sahur semenjak jam 3, maka menit-menit menjelang jam 6 pagi adalah puncaknya mengantuk.  Bisa dipastikan, di jam segitu mata terasa berat dan terkadang tanpa sadar sudah jatuh terlelap. Maka, melihat istrinya terkantuk-kantuk atau bahkan terlelap sambil bersandar, si Abi berinisiatif ngajak jalan-jalan pagi. Anak-anak senang, tapi istrinya ogah-ogahan....
Seringkali berangkat dengan setengah terpaksa.
Namun, pagi itu cuma berdua saja di rumah, karena anak-anak sudah lebih dulu keluar buat jalan pagi. Akhirnya, setelah menemukan si bungsu, bertiga keluar rumah pakai motor, jalan pagi sambil melihat-lihat kawasan seputaran sekolah anak-anak buat nyari tempat usaha.

Tanpa terasa sudah beranjak siang, akhirnya melewati beberapa pasar dan mini market, Ummi berinisiatif sekalian belanja beberapa keperluan. Apalagi si bungsu, sudah mulai mengeluh haus. Jadi singgah dulu buat beli air dan kue. Selanjutnya beranjak pulang, karena ingat belum dhuha juga.

Sampai di rumah, bergegas turun dari motor, melangkah ke teras, semerbak aroma lemon menguar dari dalam rumah. Ruangan licin, bersih dan kemas...
Ternyata si Kakak berinisiatif beres-beres rumah. Iyya, kakak yg baru 8 tahun itu...
Karpet keduanya tergulung, buku-buku dan mainan ditumpuk di satu sisi, piring kotor dan perlengkapan sisa sahur teronggok manis di tempat cuci piring. Lantai bersih mengkilat masih setengah basah hingga ke teras, dan wanginya semerbak...
Itu orangnya masih megang alat pel, namun wajahnya ceria walau terlihat lelah...
Si Ummi surprais... Biasanya ini anak agak susah dimintain tolong, kecuali kalo disuruh ke warung.
Dapat hadiah peluk dan cium, plus pujian dari Ummi, wajahnya sumringah...
Semoga gak cuma sekali ini saja ya Nak, bantunya, hehe...

Ramadhan 1438H

Jumat, 16 Januari 2015

Dua Cita-cita

Tiba-tiba dia muncul menghadang langkahku sambil berkata,"Ummi, kalau cita-cita, boleh dua nggak?"
"Maksud kakak bagaimana?"
"Maksudnya, cita-cita kakak boleh dua?"
"Dua? Boleh saja. Mau dua, mau tiga, mau banyak juga boleh."
"Memang kakak cita-citanya apa?"
"Kakak mau jadi dokter melahirkan sama bengkel"
"Bengkel? Maksudnya?" Aku makin penasaran.
"Iya, bengkel. Kakak udah bisa betulin sendiri sepeda kakak.  Kan tadi itu rantainya copot, terus kakak betulin. Terus, sepedanya sekarang udah bisa jalan lagi.  Jadi kakak nanti mau jadi tukang bengkel juga. Kan udah bisa betulin sepeda." Dia melonjak.
Aku tersenyum-senyum saja.

Jadilah, pagi itu dia membawa sepedanya juga mengitari rute jalan pagi kami.
Ahh.. Kakak, selalu saja ada inspirasi dari celotehnya.
Semoga Alloh menjagamu selalu.

Dia Yang Romantis

Suatu siang, di ruang pelatihan di kampus.
Aku membuka laptop.  sekuntum melati yang mulai mengering menarik perhatianku.  Melati itu sendiri, mulai berwarna kecoklatan. Terselip diantara monitor dan keyboardku.
Aku tak ingat, kapan menaruhnya disana.
Tapi aku tak pernah lupa moment manis di suatu pagi yang cerah.
***

Usai mandi, dia bersegera keluar. Pandangannya menyapu lapangan di depan rumah. Mencari teman yang bisa diajak main bersama.
Tampak seekor kucing milik nenek. Dikejarnya sampai kucing ngibrit masuk ke rumah.  Dan tawa lepasnya memecah sunyi. Begitulah, caranya bercanda.

Dia berpaling ke sisi lain.  matanya mencari-cari sesuatu. Tiba-tiba didekatinya onggokan batu-batu dan kayu di satu sisi lapangan.  Beberapa kawat dan barang-barang sisa renovasi bangunan masih menumpuk di situ.
"Adeekk, tidak boleh memeanjat ke situ." Aku berusaha menggagalkan pendakiannya.
Khawatir ada paku, kaca atau kawat dan batu tajam yang bisa melukai dia.
Dia menoleh sebentar, lalu melanjutkan memanjat gundukan batu di sisi pagar.
"Adek, turun!"
Tak digubrisnya teriakanku.  Dia terus memanjat. Pasti ada sesuatu yang diinginkannya.
"Adek,"aku melunak,"Hati-hati ya!"
Dia tersenyum.

Sesuatu itu digenggamnya, lalu melangkah turun kembali dan berlari mendekatiku.
"Umi, bunga melati ini buat Umi" Diraihnya tanganku. Lalu diciumnya melati yang sudah berada ditelapakku itu. "Hmm...wangi..." Dia tersenyum puas.
Aku terharu.  Jadi ini yang membuat dia mengacuhkan bahaya sejenak tadi.
"Makasih ya Dek..."
"Taruh di jilbab Umi lah," Diselipkannya melati itu ke dekat telingaku. Lalu tersenyum.
"Ummi Cantik," Begitu katanya.
Aku tersenyum. Putraku yang satu ini romantis banget.
"Makasih yaa Mas Umar.  Ummi sayang sama Umar." Aku megecup keningnya.
Dia mengangguk, tersenyum, lalu beranjak pergi.

Ah, Abdulloh Umar, how romantic you are...

Senin, 08 Desember 2014

Antara Asma dan Isma

Penghujung 2014.
Tanpa terasa, hampir 7 tahun melalui kebersamaan.  Dalam biduk rumah tangga yang penuh dengan dinamika.  Hampir 7 tahun menyandang gelar sebagai ibu, dan menyadari bahwa dalam 7 tahun itu, susul menyusul prosesi hamil, melahirkan dan menyusui tanpa henti telah dilakoni.
Hwaahhh.. baru nyadar, kalo selama perjalanan pernikahan, episodnya berputar-putar pada hamil-melahirkan-menyusui plus merawat anak-anak. :P
Ya, dalam tujuh tahun itu, Alloh menitipkan 4 mutiara pada kami. Yang pertama baru genap 6 tahun, 2 minggu lalu.   Yang ke dua menjelang 5 tahun, milad akhir tahun ini, yang ke tiga usia 3,5 tahun dan yang ke empat berusia 1 tahun 3 bulan. Hmm, "Susun Paku" kata temanku yang orang Padang. Aktif, lincah dan kritis. Semuanya spesial dan unik.

Hal yang selalu kuingat, bahwa dalam proses pengasuhan,  7 tahun pertama, Anak adalah Raja. Walaupun tidak sepenuhnya menerapkan ini, melayani mereka bak raja maksudnya,  tetap saja terasa betapa besar stok energi dan sabar yang perlu disediakan di fase-fase awal kehidupan mereka. Melayani 4 anak usia balita, ternyata kadang juga merasa lelah, letih dan menguras emosi.  Betapa tidak, walaupun aku sudah mulai menerapkan pola asistensi, tetap saja semua butuh sentuhan tangan emaknya.  Tak ada yang terlewat.
 Menjadi seorang ibu, ternyata benar-benar.... MENYENANGKAN!
Begitulah salah satu cara bagiku untuk mensugesti diri dan menyerap semua energi positif agar bisa berjibaku menjalani hari-hari penuh tantangan dan petualangan bersama bocah-bocah itu.

Walau lelah, letih dan kadang bosan, Tapi aku bahagia, merasakan hari-hari yang ceria dengan tingkah polah dan tawa mereka.  Walau berantakan, walau belepotan,..Semua ini, tak akan lama kaaann?
Kusadari, kelak aku akan merindukan masa-masa seperti ini.  Lelah, letih dan sabar, jadi ujian buatku, hingga mereka menapaki usianya dan menjejak di fase kedua kehidupan mereka. Hanya beberapa tahun lagi.

Berbeda. Jauh berbeda dengan seorang wanita luar biasa bernama Asma.  Aku berjumpa dengannya kira-kira 2 tahun lalu, ketika suami mengajakku dan anak-anak berkunjung ke rumah salah seorang temannya. Ya, suami Bu Asma.  Kunjungan ini menyadarkanku, bahwa lelah-letihku, dan ujian kesabaranku belum sebanding dengan apa yang diberikan Alloh untuk keluarga ini.

Di rumah Bu Asma, kutemui seorang anak, yang... LUARRR BIASA.  Anak itu, mungkin sekarang usianya sekitar 15 tahun, mengingat adiknya saat ini sudah belajar di SLTP.  Tetapi, usia mentalnya, jauuuhhh... sangat jauh dibandingkan usia fisiknya.
Awalnya, aku dan anak-anak agak kaget melihatnya.  Tapi aku dan suami berusaha menanamkan pemahaman kepada anak-anak (dan diriku sendiri), bahwa putranya Bu Asma itu, istimewa.
Kemampuan fisiknya tampak seperti anak biasa,  tapi kecerdasannya, ku rasa tidak jauh berbeda dengan anak seusia Utsman atau anak usia 1 tahun-an.  Struktur tengkoraknya yang membuat otaknya tidak berkembang, telah membatasi anak itu untuk berinteraksi dengan dunia luar.  Caranya berkomunikasi dengan menunjuk benda yang diinginkan, atau meraih tangan orang lain untuk memberi tahu keinginannya atau dengan rengekannya, membuatku menyadari, bahwa lelah-letih ku tak seberapa.
Bahwa aku sangat beruntung dikaruniai bocah-bocah sehat yang manis dan cerdas.
Bahwa, betapa Alloh tahu dengan tepat kemampuanku, kadar kesabaranku.
Bahwa aku, belum apa-apa dibandingkan bu Asma, dan ibu-ibu lain yang diamanahi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur.

Teringat lagi, nasihat suami, yang selalu menguatkan dalam lemahku, mengingatkan dalam lupaku,  menyabarkan dalam emosiku ketika menghadapi aneka rupa tingkah pola anak-anak yang mengaduk-aduk emosi:
"Do'akan... Jangan pernah berhenti mendoakan anak-anak. Semoga Alloh membimbing dan memberikan mereka petunjuk".
Walau kadang masih berbalut dongkol, aku luluh juga.  Mereka masih anak-anak kaaaann?
Mungkin kecilku dulu juga begitu.  jangan-jangan, aktif dan kreatifnya juga karena nurun emaknya, hehe...

Dan aku makin jadi tambah merasa tercerahkan dengan bait-bait puisi ini. Semoga juga bisa menjadi pengingat untuk senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani prosesi menjadi ibu.

#Ingatlah disana#
Karya Kiki Barkiah

Bunda sayang.....
Saat kau merasa bosan
mendampingi buah hati yang sulit makan
Melayani satu demi satu suapan
Bahkan tak jarang beragam hidangan
kau siapkan sebagai pilihan cadangan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya menelan
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang.......
Saat kau merasa kelelahan
Mengejar buah hati yang aktif berlarian
Membuat barang menjadi berserakan
Menyulap ruang menjadi berantakan
Menarik apapun yang berada dalam jangkauan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya duduk tanpa sandaran
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang
Saat kau merasa tak lagi sabar
Mengajari anak-anakmu belajar
Merangkai huruf dalam kata
Mengerti logika matematika
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah mengenalkan benda
Menuntun ananda mengenal dunia
Meski hanya lewat indra peraba

Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang
Jika kau merasa kesal setengah mati
Mendengar rengekan ananda yang tak kunjung henti
Meminta sesuatu yang tak terpenuhi
Sementara kantukmu tak mampu tertahan lagi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang berusaha meraih arti
Dari ananda yang tak bersuara atau berbunyi
Kecuali berkata dengan isyarat jari
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang
Saat kau merasa kesal mencuci
Tumpukan pakaian kotor sang buah hati
Bernoda cat, tanah lumpur atau oli
Yang tersisa saat bereksplorasi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang masih harus merawat remaja
Yang belum mampu bersuci sendiri dari istinja
Bahkan kemampuannya setara balita
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang...
ternyata kesulitan ini begitu picisan
Begitu picisan untuk dihadapi dengan tangisan
Begitu picisan untuk dihiasi dengan keluhan
Apalagi diakhiri dengan perpisahan

Bunda sayang...
Pun jika kau merasa menjadi bunda yang kumaksudkan
Dikaruniai ananda yang istimewa dalam kebutuhan
Maka ingatlah bahwa takkan Tuhanmu memberi beban
Diluar batas kemampuan
Maka berbahagialah karena engkau yang dipercaya
Mengemban amanah yang luar biasa
Dan merekalah karunia
Yang insya Allah kelak memudahkanmu menuju surga

#Batam, dalam kebuntuan nulis sinopsis

Senin, 03 November 2014

Antara Muzammil, Sepeda Tinggi dan Tempe

Sepulang dari kampus semalam, Abahnya anak-anak menunjuk  sebuah sepeda di depan pagar. Sepeda putih bergaris biru berlabel wimcycle itu tampak fresh. Masih baru.
"Sepeda mahal nih, Bi," aku mengomentari.  Lalu segera masuk rumah.

Beberapa saat setelahnya kami bertukar cerita, tentang kejadian seharian itu, spesial topik tentang anak-anak. Betapa mereka semakin pintar, semakin sholih, menggemaskan sekaligus menyejukkan mata.   Walaupun kadang berlaku sedikit menguras energi dan emosi, wajarlah, mereka masih di fase pertama kehidupan.
Teringat tentang sepeda di depan pagar tadi, kami sama-sama memaklumi keinginan besar anak-anak untuk punya sepeda baru yang lebih tinggi, sepeda anak-anak yang beroda dua,  karena Irsyad sudah bisa mengendarainya.  Berulang kali dia dengan bangga menyampaikan kepada kami kalau dia sudah bisa naik sepeda tinggi. Kami paham maksudnya,tak lain  minta dibelikan sepeda baru.  Beruntungnya anak-anak sudah mulai bisa mengendalikan keinginannya dan memahami kondisi kantong kami.  Permintaan-permintaan yang belum bisa dipenuhi tidak lantas menjadikan mereka patah semangat atau melampiaskan dengan perilaku tantrum.  Hmm, senangnya punya anak yang pengerrtian begini, hehe.

Sepeda di depan pagar yang tadi kami lihat adalah sepeda baru anak tetangga.  Selalu saja ada barang baru dan berkelas yang membuat kepingin anak-anakku.

***

Pagi ini, mereka kembali bertutur tentang sepeda baru itu.  Aku pura-pura belum tahu dan menanggapi dengan antusias. Semalam, saat aku pulang, anak-anak memang sudah tidur.  Sembari menyantap martabak, aku menjalankan trikku untuk  mengawal anak-anak mengulangi buku Iqro mereka.  Anak-anak lanang ini lumayan lasak, setiap pagi ada saja alasannya untuk menggeser waktu belajar.  Jadi aku menuliskan halaman yang harus mereka baca di papan tulis dan kami duduk membacanya bersama-sama.  Tak terkecuali Utsman.

Pedang plastic berubah menjadi penunjuk baris yang harus dibaca.  Utsman, Umar dan Irsyad merubung di depan papan tulis. Antusias.  Aku tersenyum.
Irsyad mulai 3 baris pertama. Oya, dia sudah Iqro 4 sekarang. Selanjutnya jatah Umar, mengulangi huruf-huruf hijaiyah sampai kho.  Diikuti Utsman yang selalu tampak bersemangat kalau ketemu pensil, pena atau spidol dan buku Iqro. Begitulah suasana kelas kami pagi ini.
Selanjutnya, aku menuliskan surat Al Muzammil, surat yang sempat tertunda menghafalnya karena beberapa kali kelas libur. Aku menuliskan ayat ke-10 sampai 12. Membacakannya dihadapan anak-anak dan meminta mereka mengikuti bacaanku.  Hal yang kemudian mengusik perhatianku adalah kenyataan bahwa Irsyad sudah menghafalnya dengan hampir sempurna.  Ia membaca, membaca dan membaca terus lanjutannya dan aku menyimak bacaannya sambil memegang mushaf.  
Ternyata bacaannya nyaris benar semua, hanya sedikit kekeliruan semisal tasydid, atau huruf-huruf yang terdengar mirip yang membuatku harus mengoreksinya. 
Subhanalloh… anak ini benar-benar membuatku takjub.  Ternyata, rekamannya kuat sekali. Padahal akhir-akhir ini aku jarang memutar lagi Al Muzammil. 
Tanpa kusadari mataku berair, aku terharu dan bangga. Aku merangkum wajahnya dengan kedua tanganku, menciuminya dan memanjatkan doa sekaligus ungkapan kekagumanku padanya.  Ia tersenyum malu-malu. Hmm, seperti biasa dilakukannya tiap kali aku … padanya.
Saat aku menawarinya hadiah buat prestasinya itu, dengan mata berbinar dan ucapan riang dia menjawab,”TEMPE!”

Haaaahhh??? Kukira dia akan meminta sepeda baru. 
Lagi-lagi aku terharu.  Anak ini qona’ah.  Dia tidak menjadikan prestasinya itu harus dihargai dengan apapun keinginan terbesarnya.  Walaupun aku tahu, dia sangat-sangat ingin sepeda tinggi seperti punya anak tetangga itu.
“Di warung tadi gak ada tempe, kalau diganti yang lain apa?”
“Emmm…”, dia berpikir beberapa jenak, lantas kembali berucap riang, “SOYA!”
Dalam tawa lepasku, diam-diam aku bersyukur memiliki Irsyad. Sekali lagi aku mengecup kepalanya. Berdoa semoga dia dan saudara-saudaranya senantiasa menjadi penyejuk mata dan hati kami.



Batam, 30 Oktober 2014
#met menikmati soya ya Nak J

Senin, 20 Oktober 2014

Pada Dhuhur Suatu Siang

Siang terik. Masjid sudah mengumandangkan lantunan ayat suci Al Quran.  Sebentar lagi adzan dhuhur akan memanggil.  Aku melongok ke lapangan.  Sepi.  Entah kemana dua jagoanku bermain sedari tadi.
Dulu, pesan yang selalu diingat mereka adalah "Kalau sudah adzan harus pulang." masih ampuh.  Bahkan ketika ketiganya sempat "hilang" bermain sampai jauh ke kompleks tetangga, aaku masih menjumpai mereka teguh memegang pesan itu.
Namun pertambahan usia sepertinya juga semakin membuat mereka makin berani bereksplorasi, berani berpendapat dan mulai berani menentang petuah-petuah yang menurut mereka tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Sebagai contohnya saja, aku selalu mengingatkan anak-anak untuk pulang ke rumah jika di masjid sudah mulai ngaji. Namun, belakangan, hal itu nyaris sudah tidak digubris, kecuali setelah aku menggiring mereka pulang dan masuk ke rumah.  Kadang bahkan usai adzan pun, belum nampak juga batang hidung mereka.
Siang itu, setelah menemukan mereka, aku menggiringnya pulang, mengunci pintu pagar dan pintu depan.
"Main di dalam rumah saja," begitu aku membujuknya.
Keduanya menurut masuk, namun masih melongok ke luar melalui jendela.
Suara adzan yang berkumandang sepertinya membuat resah mereka.
"Umi, sudah adzan," begitu Irsyad berucap.  Sepertinya dia berusaha menyampaikan aspirasinya.
"Ayo berwudlu, segera sholat."
"Mas mau sholat ke masjid."
"Sholat di rumah saja sama Umi.:
"Kan kalo laki-laki harusnya sholat di masjid." Dia mulai berrargumen.
"Iyya, kalau sama Abi boleh.  Sekarang kan Abi masih di sekolah. Jadi mas-mas sholat di rumah saja sama Umi."
"Mas kan bisa sholat ke masjid sendiri.." Dia mulai ngotot.
"Umi bilang sholatnya di rumah saja, kalau gak ada Abi nanti kamu bukannya sholat, malah main-main, ngeganggu bapak-bapak. Kalau kamu lakukan, Umi-Abi nanti yang berdosa. Sholat di rumah saja ya, Nak?" Aku mengusap kepalanya.
Sepertinya dia menerima argumenku. Lalu bersegera berjalan ke kamar mandi untuk berwudlu.
Sesi berikutnya adalah rebutan jadi muadzin. Masalah klasik. Selalu saja tiap kali mau berjamaah, Irsyad dan Umar berebutan mengumandangkan adzan dan iqomat.  Sebagai anak yang baru lepas batita, Umar selalu lebih ngotot dan tak mau diatur. Dia langsung mengambil posisi di dekat tembok dan meneriakkan adzan plus qomatnya. Masnya, mulai memerah mukanya, dia tidak kebagian pahala, hehe.
Perseteruan berikutnya adalah pemilihan imam. Irsyad beranjak ke posisi lebih depan untuk menjadi imam, tapi Umar tidak rela sehingga trjadilah dorong-dorongan dengan emosi.
Aku melerai dengan memberikan keputusan bahwa akulah imamnya.
"Imamnya Umi, mas-mas silakan berdiri di belakang Umi."
Keduanya protes karena merasa lebih berhak menjadi imam. Duh, jundi-jundiku ini, mau sholat jamaah saja pakai bertengkar. Aku kehabisan waktu untuk membujuk dan langsung mengumandangkan takbir.
"Allohu akbar." Sholat dimulai.
Kukira mereka akan bergegas mengikutiku. Ternyata aku salah besar.
Jadilah, siang itu sholat dhuhurnya sendiri-sendiri. Anak-anak membaca dengan suara keras bacaan sholatnya, berasa mereka menjadi imam.  Dan bacaan sholatnya membuatku merasa tertendang.
Tahu sebabnya?
Rakaat pertama, ku baca surat al Fiil. Kudengar Irsyad membaca Al Insyiroh.  Sama-sama berawalan alam, tapi surat yang dibacanya lebih panjang. Dari sisi lain kudengar juga Umar membaca Adh Dhuha.
Rakaat kedua, aku membaca An Naas. Irsyadku ternyata melantunkan al Insan. (Hwaaahhh... aku belum hafal surat ini satu ayatpun. Sekalinya aku pernah membacakan ayat yang pertama surat ini, Dia mengoreksiku, gak begitu Mi, bacaan Umi salah, begitu ujarnya.) Sementara itu Umar melantunkan surat Al Qiyamah dengan lantang dan lancar. Maka makin merasa terpuruklah aku.
Rakaat ketiga dan keempat kuselesaikan. Umar sholat hanya dua rokaat, sementara Irsyad melantunkan surat al Qiyamah di rokaat ketiga dan surat Al Fajr di rokaat ke empat. Weew, bener-bener aku seperti terperosok ke dalam lapisan bumi terdalam. Maluuu banget.
Sepertinya, kalau berada di gerbong kereta, akulah di urutan terakhir...
Sepertinya, sebagai ibu, akulah yang harus lebih mengejar ketertinggalan dibandingkan mereka.


Batam, 201014

Kamis, 08 Mei 2014

Discovery Learning

#Fragmen 1#
Suatu siang.
"Ummi, lihat, kami punya sesuatu."
Sulungku yang baru berusia 5 tahun itu membawa sebuah gelas bekas air minum kemasan.  Tampak benda-benda yang disebutnya"sesuatu" penuh termuat dalam gelas itu.
"Sesuatu apa, Kak?" Aku menghentikan aktivitasku mencuci peralatan makan. Mengalihkan perhatian sepenuhnya padanya.
"Ini, dipetik dari daun-daun di pohon." Dia mengangsurkan gelas yang dipegangnya. "Ada isinya, putih-putih loh Mi."
Aku mengamati gulungan-gulungan hijau di dalam gelas.
"O, ini kepompong. Kakak dapat dari mana?"
"Dari pohon jambu, masih banyak di sana." Dia melangkah meninggalkanku, menuju halaman depan yang masih ramai dengan teman-temannya.
Aku bergegas menyusulnya. Beberapa anak balita yang sedari tadi bermain di sana masih terlihat aktif memanjati pagar, naik ke kursi dan memegang gagang sapu. Tampak daun-daun jambu yang hijau berserakan di sekitar mereka.
Hmm, ternyata mereka tengah berburu kepompong.
"Hai!" Aku berhenti di depan pintu.  "Jangan dipetikin kepompongnya."
"Kenapa Mi?"
"Biarkan dia di daun, nanti kalau sudah waktunya, yang putih-putih di dalamnya itu akan jadi kupu-kupu."
"Kupu-kupu, Mi?" mereka seolah tak percaya. Mungkin tak masuk di akal mereka bagaimana bisa sebuah kepompong menjadi kupu-kupu.
"Iya, kepompong itu berasal dari ulat.  Ulatnya makan yang banyak, trus dia puasa.  Nah selama puasa dia berdiam di dalam daun kayak gitu sebagai kepompong. Nanti, kalau sudah waktunya, dia akan keluar menjadi kupu-kupu." Aku memandangi raut mereka yang sepertidnya bengong.
"Emm, kayak yang pernah kita tonton di Upin-Ipin itu..." aku mengingatkan.
"Oh, iyya!" seketika mereka berseru girang.  Sepertinya mereka merasa tercerahkan, hehe.
Siang itu menjadi kenangku tentang pembelajaran metamorfosis pada anak usia dini. :)

#Fragmen 2#
Malam itu, kedua jagoanku ikut menjemputku  ke kampus. Irsyad yang membonceng di tengah sibuk berceloteh tentang apa saja.  Aku memeluknya sambil sesekali menciumi rambut wanginya.  Aku tahu dia senang diperlakukan begitu.
"Ummi," Dia memainkan jari tangannya, "Mas sudah tahu kalau kayak gini itu tiga." Dia mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya. Aku tertawa dan memujinya.
Bukan hal yang baru dia bicara begitu.  Sudah sering kali dia membuat bermacam-macam tiga dengan jari tangannya.  Tapi tetap saja aku merasa perlu menghargai kreativitasnya.
"Ummi, kayak gini juga tiga," Diacungkannya jadi telunjuk, tengah dan kelingkingnya. Aku mendekapnya.
"Kayak gini juga tiga," Kali ini dia membuat kombinasi tiga dari jempol, telunjuk dan kelingking.
"Trus begini juga tiga," Dibuatnya formasi yang lain.
Kali ini aku tak bisa menahan kekagumanku.
"Mas hebat, pinter!" Dia tersenyum.
"Nah, sekarang Mas sudah tahu bahwa tiga itu bisa dibuat dari berbagai kombinasi jari. Coba kita hitung ya, ada berapa kombinasi yang mungkin. Pertama begini, trus begini, trus begini juga tiga, habis itu begini...
Jumlahnya bisa dihitung dengan faktorial " Aku menghentikan ucapanku melihat dia cuma melongo. Lalu tersenyum mengingat usianya yang baru empat tahun.
Akhirnya aku cuma berujar,"Nah, yang tadi itu namanya kombinasi jari!"
Wooww, dalam hati aku nyengir sendiri. Anak ini mengaplikasikan materi kombinasi (salah satu materi matematika di level SMP dan SMA) di usia 4 tahunnya.  Dan aku tidak mengajarinya.  Dia menemukan sendiri.

Dari sekian banyak aktivitas dan kreatifitas anak-anak kita, merupakan aplikasi dari berbagai topik pembelajaran yang pernah kita jumpai di berbagai level sekolah.  Seperti dua topik di atas.  Kalau dilihat dari teori pembelajaran, model pembelajaran seperti itu dikatakan sebagai discovery learning atau model belajar penemuan.

Teori belajar ini dikembangkan oleh Bruner, seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif.  Menurut Teori Bruner, anak tumbuh melalui tahapan-tahapan yang berbeda yang didasarkan pada penampilan mentalnya.
Adapun 3 tahap itu adalah:
1. tahap penampilan mental enaktif dimana anak mengembangkan keterampilan sensori motorik.
2. tahap penampilan ikonik dimana mental anak dipengaruhi oleh persepsi yang sifatnya egosentris dan tidak stabil.
3. tahap simbolik dimana anak mencapai pengembangan keterampilan berbahasa dan kemampuan mengaitkan dunia luar dengan kata-kata dan idenya.

Menurut Bruner, sejak kecil, anak sebenarnya sudah dapat menangkap konsep-konsep IPA. Misalnya, apabila seorang anak diberi tahu bahwa api itu panas, kemungkinan besar dia akan segera lupa atau tidak peduli.  Tetapi ketika suatu ketika anak memeagang api dan merasakan panasnya, kemungkinan besar, dia akan terus mengingatnya.

Model discovery learning dapat dipandang sebagai suatu proses belajar yang terjadi apabila siswa (anak) tidak dijejali dengan konsep, melainkan dia sendiri yang mengelola nformasi sehingga menemukan konsep tersebut.  Pembelajaran dengan model ini akan lebih mudah diingat oleh anak dan informasinya akan disimpan lebih lama.  Pembelajaran berdasarkan penemuan akan lebih meningkatkan penalaran, mengembangkan kemampuan anak untuk berpikir secara bebas dan menumbuhkan kemandirian anak dalam belajar. Model penemuan ini juga dapat mengubah motivasi belajar pencarian pujian dari luar (motivasi ekstrinsik) ke kepuasan batin (motivasi intrinsik).

Pada model discovery learning ini, guru atau orang tua  berperan sebagai guide (penuntun dan pengarah) bagi siswa/anak yang mencari informasi, jadi bukan sebagai pemberi informasi.  Walaupun mungkin cara belajar ini butuh waktu agak lama dan sedikit ribet (karena harus mengarahkan anak ke arah yang benar), tetapi banyak pendapat yang menyatakan bahwa model ini banyak dirujuk dalam pembelajaran.

Referensi: Rokiyah & Ketut Budiastra, 2013, Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA di SD