Sabtu, 01 April 2017

Bukan sekedar "CUMA"

Menyandang profesi sebagai ibu rumah tangga, kadang membuat seorang perempuan merasa minder. Tentu saja, karena banyak orang masih belum mengakui profesi ini sebagai suatu profesi yang patut diapresiasi. Padahal profesi inilah satu-satunya profesi yang full tantangan, full tekanan, butuh aneka ragam skill, energi dan stok kesabaran tinggi. Profesi ini juga tidak mengenal libur, cuti atau bahkan resign ketika tidak cocok. Lebih jauh lagi, profesi ini kadang imbalannya tidak kentara dan butuh waktu lama untuk melihat progressnya.

Nah, sejak berusaha move on dari perasaan minder karena CUMA ibu rumah tangga, saya berusaha mengubah persepsi lingkungan sekitar saya tentang profesi ini. Saya memang seorang ibu rumah tangga dengan 4 anak, plus plus plus. Di dunia sosial yang tidak penting-penting banget untuk mencantumkan titel dan profesi, saya sebisa mungkin menghilangkan jejak. Jika beberapa orang bertanya tentang aktivitas saya, saya pede saja menjawabnya dengan, "Ibu rumah tangga". Walaupun banyak yang tidak percaya, hahaha... Siapa lagi yang akan menghargai profesi ibu rumah tangga kalau bukan ibu-ibu rumah tangga itu sendiri, ya nggak?

Perkembangan selanjutnya dari menjadi ibu, adalah mengurus dan mendidik anak. Tentu saja urusan ini tidak kalah menantangnya dan penuh perjuangan. Alhamdulillah, 4 anak yang diamanahkan kepada kami, saat ini 2 diantaranya telah memasuki usia sekolah. Saya dan suami, sangat-sangat percaya bahwa LINGKUNGAN sangat besar perannya dalam proses mendidik anak. Sebagai konsekuensinya, suami sangat teliti memilih lingkungan dimana kami akan tinggal, beraktifitas, dan berinteraksi. Harapannya, bisa tetap menjaga kami dalam kebaikan. Kalaupun ternyata ada keburukan yang dijumpai, pasti selalu ada evaluasi.

Suatu siang, ketika tengah mengantre di sebuah bank syariah untuk suatu keperluan, kami bertemu dengan sepasang orang tua, teman lamaaa... banget yang dahulunya pernah akrab dengan keluarga kami. Kehidupan kami yang nomaden (hiks) sejak awal berumah tangga membuat jejak kami sukar dilacak, hehe.
Kami saling bertanya kabar, bertukar cerita dan perkembangan anak-anak. Si Ibu, mengisahkan anak sulungnya yang sekarang sudah di Perguruan Tinggi, yang duluuu banget putrinya itu adalah muridnya suami. Beliau pun menanyakan tentang anak-anak saya.
"Empat bu, satu putri, 3 putra," Saya menjawabnya.
"Oh iya, dulu yang pertama yang putri cantik itu, sekarang sekolah dimana?"
Ibu ini menyempatkan silaturahmi ke kontrakan kami waktu putri pertama lahir, dan dalam beberapa kesempatan kami jumpa, selalu menimang putri saya.
"Di Ibnu Katsir bu, sebelumnya di SDTQ."
"Kelas berapa?"
"Kelas dua, Bu."
Beliau mengangguk-angguk.
Dalam hati, saya senyum melihat raut si Ibu yang sepertinya mikir. Saya merasaaa...
"Ibnu Katsir itu di mana Bu?"
Tuuh kan :)
"Di Tembesi Ibu."
"Kok saya baru dengar?"
"Sekolah baru, home schooling." Beliau manggut-manggut.
"SDTQ?"
" Di Perumahan XXX, dekat klinik YYY"
Saya memahami pertanyaan yang tersirat dari ibu itu. Anak-anaknya sekolah di SDIT yang cukup terkenal di wilayah kami. Dulu kami pun kenal beliau di sana, karena kebetulan suami dan saya juga dulu bertugas di sana. Selain saya juga mengajar di lembaga lain yang cukup dikenal di wilayah itu. Saya seperti mendengar pertanyaan yang umum dilontarkan kepada kami oleh banyak kenalan-kenalan kami,"Kenapa gak di sekolah A, B atau C. Disana kan lebih bagus. Bapak dan Ibu kan dulu aktif di sana?"
"Baru dengar ya Pah?" Dia menoleh meminta dukungan suaminya. Saya tersenyum juga.
"Iya bu, sekolahnya memang baru. Disana pelajaran umumnya sedikit saja porsinya. Setiap hari, anak-anak cuma belajar Al Quran." Saya kadang merasa gimanaaa gitu kalau mengucapkan kalimat ini. Ada perasaan yang mungkin hanya saya yang merasakannya. Tapi, inilah komitmen yang telah saya dan suami sepakati. Mungkin rendah di mata sebagian orang, mengingat dulu aktivitas saya dengan berbagai kursus untuk anak-anak: sempoa,bahasa inggris, baca quran, calistung, pelajaran sekolah, kimia, jauuuuhhh.
"Masya Allah... Ibu, kenapa bilang CUMA? Masya Allah... Al Quran itu sudah SEMUA ILMU, Bu!" Beliau mengucapkannya dengan penuh tekanan. Saya surprise dengan respon ibu ini. Beliau yang tadinya lemah lembut lemah gemulai khas orang Sunda, tiba-tiba bersemangat dan menepuk pundak saya.
"Saya salut dengan Pak A dan Ibu. Saya tahu kapasitas Bapak dan Ibu, namun saya bangga pada orang yang memilih untuk menekuni Al Quran sebagai bekalan untuk anak-anaknya."
Saya melongo. Rasa percaya diri saya menguat. Selama ini, di lingkungan kami, pilihan kami untuk anak-anak lebih banyak berseberangan dengan pendapat sebagian besar orang. Saya kadang merasa sedih, karena merasa berjalan sendiri. Sungguh, ucapan ibu ini, sangat menguatkan saya. Ibarat segelas air di padang pasir, membawa harapan untuk saya untuk terus bertahan.

Saya tidak tahu apa komentar suami saya dan juga suaminya, karena nomer saya sudah dipanggil untuk dilayani.  Namun setelah berpisah dan turun ke parkiran, saya merasa bersemangat. Ucapan ibu tadi terngiang-ngiang terus di telinga saya. Alhamdulillah, pertemuan yang tak direncanakan ini memberikan suatu pencerahan bagi saya.
Ya ya... kadang kita memang tidak pede dengan pilihan-pilihan kita yang jauh dari hingar-bingar apresiasi. Kita masih sering menilai sesuatu dengan ukuran-ukuran duniawi.
CUMA ibu rumah tangga...
CUMA ustadz..
CUMA sekolah di Ma'had atau pondok...
CUMA berdoa dan minum herbal...(kalau sakit)
Padahal, apa yang kita lakukan itu, sejatinya adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki, jalan menuju solusi. Berkelanjutan hingga ke akhirat. Namun, memang sedikit yang memilihnya, karena seperti yang dikatakan Rasulullah saw, bahwa beliau akan bersama dengan golongan yang sedikit.
Semoga kita, termasuk ke dalam golongan yang sedikit itu.

Gombak KL, 01042017


Jumat, 16 Januari 2015

Dua Cita-cita

Tiba-tiba dia muncul menghadang langkahku sambil berkata,"Ummi, kalau cita-cita, boleh dua nggak?"
"Maksud kakak bagaimana?"
"Maksudnya, cita-cita kakak boleh dua?"
"Dua? Boleh saja. Mau dua, mau tiga, mau banyak juga boleh."
"Memang kakak cita-citanya apa?"
"Kakak mau jadi dokter melahirkan sama bengkel"
"Bengkel? Maksudnya?" Aku makin penasaran.
"Iya, bengkel. Kakak udah bisa betulin sendiri sepeda kakak.  Kan tadi itu rantainya copot, terus kakak betulin. Terus, sepedanya sekarang udah bisa jalan lagi.  Jadi kakak nanti mau jadi tukang bengkel juga. Kan udah bisa betulin sepeda." Dia melonjak.
Aku tersenyum-senyum saja.

Jadilah, pagi itu dia membawa sepedanya juga mengitari rute jalan pagi kami.
Ahh.. Kakak, selalu saja ada inspirasi dari celotehnya.
Semoga Alloh menjagamu selalu.

Dia Yang Romantis

Suatu siang, di ruang pelatihan di kampus.
Aku membuka laptop.  sekuntum melati yang mulai mengering menarik perhatianku.  Melati itu sendiri, mulai berwarna kecoklatan. Terselip diantara monitor dan keyboardku.
Aku tak ingat, kapan menaruhnya disana.
Tapi aku tak pernah lupa moment manis di suatu pagi yang cerah.
***

Usai mandi, dia bersegera keluar. Pandangannya menyapu lapangan di depan rumah. Mencari teman yang bisa diajak main bersama.
Tampak seekor kucing milik nenek. Dikejarnya sampai kucing ngibrit masuk ke rumah.  Dan tawa lepasnya memecah sunyi. Begitulah, caranya bercanda.

Dia berpaling ke sisi lain.  matanya mencari-cari sesuatu. Tiba-tiba didekatinya onggokan batu-batu dan kayu di satu sisi lapangan.  Beberapa kawat dan barang-barang sisa renovasi bangunan masih menumpuk di situ.
"Adeekk, tidak boleh memeanjat ke situ." Aku berusaha menggagalkan pendakiannya.
Khawatir ada paku, kaca atau kawat dan batu tajam yang bisa melukai dia.
Dia menoleh sebentar, lalu melanjutkan memanjat gundukan batu di sisi pagar.
"Adek, turun!"
Tak digubrisnya teriakanku.  Dia terus memanjat. Pasti ada sesuatu yang diinginkannya.
"Adek,"aku melunak,"Hati-hati ya!"
Dia tersenyum.

Sesuatu itu digenggamnya, lalu melangkah turun kembali dan berlari mendekatiku.
"Umi, bunga melati ini buat Umi" Diraihnya tanganku. Lalu diciumnya melati yang sudah berada ditelapakku itu. "Hmm...wangi..." Dia tersenyum puas.
Aku terharu.  Jadi ini yang membuat dia mengacuhkan bahaya sejenak tadi.
"Makasih ya Dek..."
"Taruh di jilbab Umi lah," Diselipkannya melati itu ke dekat telingaku. Lalu tersenyum.
"Ummi Cantik," Begitu katanya.
Aku tersenyum. Putraku yang satu ini romantis banget.
"Makasih yaa Mas Umar.  Ummi sayang sama Umar." Aku megecup keningnya.
Dia mengangguk, tersenyum, lalu beranjak pergi.

Ah, Abdulloh Umar, how romantic you are...

Senin, 08 Desember 2014

Antara Asma dan Isma

Penghujung 2014.
Tanpa terasa, hampir 7 tahun melalui kebersamaan.  Dalam biduk rumah tangga yang penuh dengan dinamika.  Hampir 7 tahun menyandang gelar sebagai ibu, dan menyadari bahwa dalam 7 tahun itu, susul menyusul prosesi hamil, melahirkan dan menyusui tanpa henti telah dilakoni.
Hwaahhh.. baru nyadar, kalo selama perjalanan pernikahan, episodnya berputar-putar pada hamil-melahirkan-menyusui plus merawat anak-anak. :P
Ya, dalam tujuh tahun itu, Alloh menitipkan 4 mutiara pada kami. Yang pertama baru genap 6 tahun, 2 minggu lalu.   Yang ke dua menjelang 5 tahun, milad akhir tahun ini, yang ke tiga usia 3,5 tahun dan yang ke empat berusia 1 tahun 3 bulan. Hmm, "Susun Paku" kata temanku yang orang Padang. Aktif, lincah dan kritis. Semuanya spesial dan unik.

Hal yang selalu kuingat, bahwa dalam proses pengasuhan,  7 tahun pertama, Anak adalah Raja. Walaupun tidak sepenuhnya menerapkan ini, melayani mereka bak raja maksudnya,  tetap saja terasa betapa besar stok energi dan sabar yang perlu disediakan di fase-fase awal kehidupan mereka. Melayani 4 anak usia balita, ternyata kadang juga merasa lelah, letih dan menguras emosi.  Betapa tidak, walaupun aku sudah mulai menerapkan pola asistensi, tetap saja semua butuh sentuhan tangan emaknya.  Tak ada yang terlewat.
 Menjadi seorang ibu, ternyata benar-benar.... MENYENANGKAN!
Begitulah salah satu cara bagiku untuk mensugesti diri dan menyerap semua energi positif agar bisa berjibaku menjalani hari-hari penuh tantangan dan petualangan bersama bocah-bocah itu.

Walau lelah, letih dan kadang bosan, Tapi aku bahagia, merasakan hari-hari yang ceria dengan tingkah polah dan tawa mereka.  Walau berantakan, walau belepotan,..Semua ini, tak akan lama kaaann?
Kusadari, kelak aku akan merindukan masa-masa seperti ini.  Lelah, letih dan sabar, jadi ujian buatku, hingga mereka menapaki usianya dan menjejak di fase kedua kehidupan mereka. Hanya beberapa tahun lagi.

Berbeda. Jauh berbeda dengan seorang wanita luar biasa bernama Asma.  Aku berjumpa dengannya kira-kira 2 tahun lalu, ketika suami mengajakku dan anak-anak berkunjung ke rumah salah seorang temannya. Ya, suami Bu Asma.  Kunjungan ini menyadarkanku, bahwa lelah-letihku, dan ujian kesabaranku belum sebanding dengan apa yang diberikan Alloh untuk keluarga ini.

Di rumah Bu Asma, kutemui seorang anak, yang... LUARRR BIASA.  Anak itu, mungkin sekarang usianya sekitar 15 tahun, mengingat adiknya saat ini sudah belajar di SLTP.  Tetapi, usia mentalnya, jauuuhhh... sangat jauh dibandingkan usia fisiknya.
Awalnya, aku dan anak-anak agak kaget melihatnya.  Tapi aku dan suami berusaha menanamkan pemahaman kepada anak-anak (dan diriku sendiri), bahwa putranya Bu Asma itu, istimewa.
Kemampuan fisiknya tampak seperti anak biasa,  tapi kecerdasannya, ku rasa tidak jauh berbeda dengan anak seusia Utsman atau anak usia 1 tahun-an.  Struktur tengkoraknya yang membuat otaknya tidak berkembang, telah membatasi anak itu untuk berinteraksi dengan dunia luar.  Caranya berkomunikasi dengan menunjuk benda yang diinginkan, atau meraih tangan orang lain untuk memberi tahu keinginannya atau dengan rengekannya, membuatku menyadari, bahwa lelah-letih ku tak seberapa.
Bahwa aku sangat beruntung dikaruniai bocah-bocah sehat yang manis dan cerdas.
Bahwa, betapa Alloh tahu dengan tepat kemampuanku, kadar kesabaranku.
Bahwa aku, belum apa-apa dibandingkan bu Asma, dan ibu-ibu lain yang diamanahi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur.

Teringat lagi, nasihat suami, yang selalu menguatkan dalam lemahku, mengingatkan dalam lupaku,  menyabarkan dalam emosiku ketika menghadapi aneka rupa tingkah pola anak-anak yang mengaduk-aduk emosi:
"Do'akan... Jangan pernah berhenti mendoakan anak-anak. Semoga Alloh membimbing dan memberikan mereka petunjuk".
Walau kadang masih berbalut dongkol, aku luluh juga.  Mereka masih anak-anak kaaaann?
Mungkin kecilku dulu juga begitu.  jangan-jangan, aktif dan kreatifnya juga karena nurun emaknya, hehe...

Dan aku makin jadi tambah merasa tercerahkan dengan bait-bait puisi ini. Semoga juga bisa menjadi pengingat untuk senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani prosesi menjadi ibu.

#Ingatlah disana#
Karya Kiki Barkiah

Bunda sayang.....
Saat kau merasa bosan
mendampingi buah hati yang sulit makan
Melayani satu demi satu suapan
Bahkan tak jarang beragam hidangan
kau siapkan sebagai pilihan cadangan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya menelan
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang.......
Saat kau merasa kelelahan
Mengejar buah hati yang aktif berlarian
Membuat barang menjadi berserakan
Menyulap ruang menjadi berantakan
Menarik apapun yang berada dalam jangkauan
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah berjuang mati-matian
Untuk sekedar mengajarkan anaknya duduk tanpa sandaran
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang
Saat kau merasa tak lagi sabar
Mengajari anak-anakmu belajar
Merangkai huruf dalam kata
Mengerti logika matematika
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang tengah mengenalkan benda
Menuntun ananda mengenal dunia
Meski hanya lewat indra peraba

Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang
Jika kau merasa kesal setengah mati
Mendengar rengekan ananda yang tak kunjung henti
Meminta sesuatu yang tak terpenuhi
Sementara kantukmu tak mampu tertahan lagi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang berusaha meraih arti
Dari ananda yang tak bersuara atau berbunyi
Kecuali berkata dengan isyarat jari
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang
Saat kau merasa kesal mencuci
Tumpukan pakaian kotor sang buah hati
Bernoda cat, tanah lumpur atau oli
Yang tersisa saat bereksplorasi
Maka ingatlah disana
Ada bunda yang masih harus merawat remaja
Yang belum mampu bersuci sendiri dari istinja
Bahkan kemampuannya setara balita
Ingatlah disana
Maka kesulitanmu kan terasa begitu picisan
Maka nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?

Bunda sayang...
ternyata kesulitan ini begitu picisan
Begitu picisan untuk dihadapi dengan tangisan
Begitu picisan untuk dihiasi dengan keluhan
Apalagi diakhiri dengan perpisahan

Bunda sayang...
Pun jika kau merasa menjadi bunda yang kumaksudkan
Dikaruniai ananda yang istimewa dalam kebutuhan
Maka ingatlah bahwa takkan Tuhanmu memberi beban
Diluar batas kemampuan
Maka berbahagialah karena engkau yang dipercaya
Mengemban amanah yang luar biasa
Dan merekalah karunia
Yang insya Allah kelak memudahkanmu menuju surga

#Batam, dalam kebuntuan nulis sinopsis

Senin, 03 November 2014

Antara Muzammil, Sepeda Tinggi dan Tempe

Sepulang dari kampus semalam, Abahnya anak-anak menunjuk  sebuah sepeda di depan pagar. Sepeda putih bergaris biru berlabel wimcycle itu tampak fresh. Masih baru.
"Sepeda mahal nih, Bi," aku mengomentari.  Lalu segera masuk rumah.

Beberapa saat setelahnya kami bertukar cerita, tentang kejadian seharian itu, spesial topik tentang anak-anak. Betapa mereka semakin pintar, semakin sholih, menggemaskan sekaligus menyejukkan mata.   Walaupun kadang berlaku sedikit menguras energi dan emosi, wajarlah, mereka masih di fase pertama kehidupan.
Teringat tentang sepeda di depan pagar tadi, kami sama-sama memaklumi keinginan besar anak-anak untuk punya sepeda baru yang lebih tinggi, sepeda anak-anak yang beroda dua,  karena Irsyad sudah bisa mengendarainya.  Berulang kali dia dengan bangga menyampaikan kepada kami kalau dia sudah bisa naik sepeda tinggi. Kami paham maksudnya,tak lain  minta dibelikan sepeda baru.  Beruntungnya anak-anak sudah mulai bisa mengendalikan keinginannya dan memahami kondisi kantong kami.  Permintaan-permintaan yang belum bisa dipenuhi tidak lantas menjadikan mereka patah semangat atau melampiaskan dengan perilaku tantrum.  Hmm, senangnya punya anak yang pengerrtian begini, hehe.

Sepeda di depan pagar yang tadi kami lihat adalah sepeda baru anak tetangga.  Selalu saja ada barang baru dan berkelas yang membuat kepingin anak-anakku.

***

Pagi ini, mereka kembali bertutur tentang sepeda baru itu.  Aku pura-pura belum tahu dan menanggapi dengan antusias. Semalam, saat aku pulang, anak-anak memang sudah tidur.  Sembari menyantap martabak, aku menjalankan trikku untuk  mengawal anak-anak mengulangi buku Iqro mereka.  Anak-anak lanang ini lumayan lasak, setiap pagi ada saja alasannya untuk menggeser waktu belajar.  Jadi aku menuliskan halaman yang harus mereka baca di papan tulis dan kami duduk membacanya bersama-sama.  Tak terkecuali Utsman.

Pedang plastic berubah menjadi penunjuk baris yang harus dibaca.  Utsman, Umar dan Irsyad merubung di depan papan tulis. Antusias.  Aku tersenyum.
Irsyad mulai 3 baris pertama. Oya, dia sudah Iqro 4 sekarang. Selanjutnya jatah Umar, mengulangi huruf-huruf hijaiyah sampai kho.  Diikuti Utsman yang selalu tampak bersemangat kalau ketemu pensil, pena atau spidol dan buku Iqro. Begitulah suasana kelas kami pagi ini.
Selanjutnya, aku menuliskan surat Al Muzammil, surat yang sempat tertunda menghafalnya karena beberapa kali kelas libur. Aku menuliskan ayat ke-10 sampai 12. Membacakannya dihadapan anak-anak dan meminta mereka mengikuti bacaanku.  Hal yang kemudian mengusik perhatianku adalah kenyataan bahwa Irsyad sudah menghafalnya dengan hampir sempurna.  Ia membaca, membaca dan membaca terus lanjutannya dan aku menyimak bacaannya sambil memegang mushaf.  
Ternyata bacaannya nyaris benar semua, hanya sedikit kekeliruan semisal tasydid, atau huruf-huruf yang terdengar mirip yang membuatku harus mengoreksinya. 
Subhanalloh… anak ini benar-benar membuatku takjub.  Ternyata, rekamannya kuat sekali. Padahal akhir-akhir ini aku jarang memutar lagi Al Muzammil. 
Tanpa kusadari mataku berair, aku terharu dan bangga. Aku merangkum wajahnya dengan kedua tanganku, menciuminya dan memanjatkan doa sekaligus ungkapan kekagumanku padanya.  Ia tersenyum malu-malu. Hmm, seperti biasa dilakukannya tiap kali aku … padanya.
Saat aku menawarinya hadiah buat prestasinya itu, dengan mata berbinar dan ucapan riang dia menjawab,”TEMPE!”

Haaaahhh??? Kukira dia akan meminta sepeda baru. 
Lagi-lagi aku terharu.  Anak ini qona’ah.  Dia tidak menjadikan prestasinya itu harus dihargai dengan apapun keinginan terbesarnya.  Walaupun aku tahu, dia sangat-sangat ingin sepeda tinggi seperti punya anak tetangga itu.
“Di warung tadi gak ada tempe, kalau diganti yang lain apa?”
“Emmm…”, dia berpikir beberapa jenak, lantas kembali berucap riang, “SOYA!”
Dalam tawa lepasku, diam-diam aku bersyukur memiliki Irsyad. Sekali lagi aku mengecup kepalanya. Berdoa semoga dia dan saudara-saudaranya senantiasa menjadi penyejuk mata dan hati kami.



Batam, 30 Oktober 2014
#met menikmati soya ya Nak J

Senin, 20 Oktober 2014

Pada Dhuhur Suatu Siang

Siang terik. Masjid sudah mengumandangkan lantunan ayat suci Al Quran.  Sebentar lagi adzan dhuhur akan memanggil.  Aku melongok ke lapangan.  Sepi.  Entah kemana dua jagoanku bermain sedari tadi.
Dulu, pesan yang selalu diingat mereka adalah "Kalau sudah adzan harus pulang." masih ampuh.  Bahkan ketika ketiganya sempat "hilang" bermain sampai jauh ke kompleks tetangga, aaku masih menjumpai mereka teguh memegang pesan itu.
Namun pertambahan usia sepertinya juga semakin membuat mereka makin berani bereksplorasi, berani berpendapat dan mulai berani menentang petuah-petuah yang menurut mereka tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Sebagai contohnya saja, aku selalu mengingatkan anak-anak untuk pulang ke rumah jika di masjid sudah mulai ngaji. Namun, belakangan, hal itu nyaris sudah tidak digubris, kecuali setelah aku menggiring mereka pulang dan masuk ke rumah.  Kadang bahkan usai adzan pun, belum nampak juga batang hidung mereka.
Siang itu, setelah menemukan mereka, aku menggiringnya pulang, mengunci pintu pagar dan pintu depan.
"Main di dalam rumah saja," begitu aku membujuknya.
Keduanya menurut masuk, namun masih melongok ke luar melalui jendela.
Suara adzan yang berkumandang sepertinya membuat resah mereka.
"Umi, sudah adzan," begitu Irsyad berucap.  Sepertinya dia berusaha menyampaikan aspirasinya.
"Ayo berwudlu, segera sholat."
"Mas mau sholat ke masjid."
"Sholat di rumah saja sama Umi.:
"Kan kalo laki-laki harusnya sholat di masjid." Dia mulai berrargumen.
"Iyya, kalau sama Abi boleh.  Sekarang kan Abi masih di sekolah. Jadi mas-mas sholat di rumah saja sama Umi."
"Mas kan bisa sholat ke masjid sendiri.." Dia mulai ngotot.
"Umi bilang sholatnya di rumah saja, kalau gak ada Abi nanti kamu bukannya sholat, malah main-main, ngeganggu bapak-bapak. Kalau kamu lakukan, Umi-Abi nanti yang berdosa. Sholat di rumah saja ya, Nak?" Aku mengusap kepalanya.
Sepertinya dia menerima argumenku. Lalu bersegera berjalan ke kamar mandi untuk berwudlu.
Sesi berikutnya adalah rebutan jadi muadzin. Masalah klasik. Selalu saja tiap kali mau berjamaah, Irsyad dan Umar berebutan mengumandangkan adzan dan iqomat.  Sebagai anak yang baru lepas batita, Umar selalu lebih ngotot dan tak mau diatur. Dia langsung mengambil posisi di dekat tembok dan meneriakkan adzan plus qomatnya. Masnya, mulai memerah mukanya, dia tidak kebagian pahala, hehe.
Perseteruan berikutnya adalah pemilihan imam. Irsyad beranjak ke posisi lebih depan untuk menjadi imam, tapi Umar tidak rela sehingga trjadilah dorong-dorongan dengan emosi.
Aku melerai dengan memberikan keputusan bahwa akulah imamnya.
"Imamnya Umi, mas-mas silakan berdiri di belakang Umi."
Keduanya protes karena merasa lebih berhak menjadi imam. Duh, jundi-jundiku ini, mau sholat jamaah saja pakai bertengkar. Aku kehabisan waktu untuk membujuk dan langsung mengumandangkan takbir.
"Allohu akbar." Sholat dimulai.
Kukira mereka akan bergegas mengikutiku. Ternyata aku salah besar.
Jadilah, siang itu sholat dhuhurnya sendiri-sendiri. Anak-anak membaca dengan suara keras bacaan sholatnya, berasa mereka menjadi imam.  Dan bacaan sholatnya membuatku merasa tertendang.
Tahu sebabnya?
Rakaat pertama, ku baca surat al Fiil. Kudengar Irsyad membaca Al Insyiroh.  Sama-sama berawalan alam, tapi surat yang dibacanya lebih panjang. Dari sisi lain kudengar juga Umar membaca Adh Dhuha.
Rakaat kedua, aku membaca An Naas. Irsyadku ternyata melantunkan al Insan. (Hwaaahhh... aku belum hafal surat ini satu ayatpun. Sekalinya aku pernah membacakan ayat yang pertama surat ini, Dia mengoreksiku, gak begitu Mi, bacaan Umi salah, begitu ujarnya.) Sementara itu Umar melantunkan surat Al Qiyamah dengan lantang dan lancar. Maka makin merasa terpuruklah aku.
Rakaat ketiga dan keempat kuselesaikan. Umar sholat hanya dua rokaat, sementara Irsyad melantunkan surat al Qiyamah di rokaat ketiga dan surat Al Fajr di rokaat ke empat. Weew, bener-bener aku seperti terperosok ke dalam lapisan bumi terdalam. Maluuu banget.
Sepertinya, kalau berada di gerbong kereta, akulah di urutan terakhir...
Sepertinya, sebagai ibu, akulah yang harus lebih mengejar ketertinggalan dibandingkan mereka.


Batam, 201014

Kamis, 14 Agustus 2014

Ketika Anak Bicara Tentang "Kenyamanan"

Suatu sore.
"Umi, Umi nanti beli mobil lah, kayak mobilnya Pak X," Begitu tutur jagoanku sore itu.
Aku tersenyum-senyum.  Bukan kali pertama dia menyampaikan aspirasinya.  Sudah sangat-sangat sering anak-anak meminta diadakan benda ini, dengan berbagai alasan.
Yang kuingat diantaranya:
"Biar kalo pergi-pergi, Mas dan Kakak gak ditinggal."
"Motornya kan udah gak muat!"
"Kan enak Mi, bisa duduknya sambil nyandar, kalo ujan gak kebasahan."
"Keren Mi, apalagi kalo warnanya merah."
de el el, de es te...
Bahkan di usia 3 tahunnya Irsyad sering pergi-pergi dengan membawa kunci.  Kalo ditanya, dia menjawab, "kunci mobil". hehehe...

Kali lain,
"Umi, waktu Kakak sama Mas dititip di rumah Bude tu, enaakk.."
"Enaknya gimana?"
"Kan boboknya di kamar Mbak Ia. Nah, kamarnya itu ada ACnya Mi. Seeejuuukkk..." Gayanya menikmatiii banget.
Aku tersenyum.
"Iya kan Syad?"
Hm, Dia mencari dukungan.
"Iya. Kamar kita dipasangi AC juga lah Mi." Ini Irsyad yang usul.
"Lho, ini kan bukan rumah kita, ini rumahnya Pak De. Kan harus ijin dulu sama yang punya rumah."
"Ya, Umi bilang lah sama Pak De."
"Kapan-kapan saja lah ya, pasang ACnya? Mungkin nanti kalau kita sudah punya rumah sendiri."
Keduanya mengangguk, walau nampak kecewa.
"Yang penting, Kakak dan Mas, rajin sholat, berdoa, minta sama Alloh biar dikasih rejeki yang banyak, biar bisa beli apa-apa yang tadi dipengeni." Aku mengelus kepala keduanya.

Berlalu dari mereka, aku meringis sendiri.  Betapa anak-anak sekarang sudah berbeda wawasannya, cara berpikirnya dan keinginannya.  Tidak sekedar terpenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier, tapi sudah bicara tentang rasa nyaman.  Dan ini sebetulnya hal yang mendasar.  Bahwa ada hal mendasar yang sebetulnya kadang tidak terpikirkan oleh kami, selaku orang tuanya.  Bukan untuk perstise atau keren-kerenan, tapi untuk kenyamanan.
Lagi-lagi aku meringis.  Beli mobil, beli AC, bisa saja diagendakan. Tapi apa nanti tetangga gak pada heboh yak?

Batam, 140814
Milad ke-36 Ummi