#Fragmen 1#
Suatu siang.
"Ummi, lihat, kami punya sesuatu."
Sulungku yang baru berusia 5 tahun itu membawa sebuah gelas bekas air minum kemasan. Tampak benda-benda yang disebutnya"sesuatu" penuh termuat dalam gelas itu.
"Sesuatu apa, Kak?" Aku menghentikan aktivitasku mencuci peralatan makan. Mengalihkan perhatian sepenuhnya padanya.
"Ini, dipetik dari daun-daun di pohon." Dia mengangsurkan gelas yang dipegangnya. "Ada isinya, putih-putih loh Mi."
Aku mengamati gulungan-gulungan hijau di dalam gelas.
"O, ini kepompong. Kakak dapat dari mana?"
"Dari pohon jambu, masih banyak di sana." Dia melangkah meninggalkanku, menuju halaman depan yang masih ramai dengan teman-temannya.
Aku bergegas menyusulnya. Beberapa anak balita yang sedari tadi bermain di sana masih terlihat aktif memanjati pagar, naik ke kursi dan memegang gagang sapu. Tampak daun-daun jambu yang hijau berserakan di sekitar mereka.
Hmm, ternyata mereka tengah berburu kepompong.
"Hai!" Aku berhenti di depan pintu. "Jangan dipetikin kepompongnya."
"Kenapa Mi?"
"Biarkan dia di daun, nanti kalau sudah waktunya, yang putih-putih di dalamnya itu akan jadi kupu-kupu."
"Kupu-kupu, Mi?" mereka seolah tak percaya. Mungkin tak masuk di akal mereka bagaimana bisa sebuah kepompong menjadi kupu-kupu.
"Iya, kepompong itu berasal dari ulat. Ulatnya makan yang banyak, trus dia puasa. Nah selama puasa dia berdiam di dalam daun kayak gitu sebagai kepompong. Nanti, kalau sudah waktunya, dia akan keluar menjadi kupu-kupu." Aku memandangi raut mereka yang sepertidnya bengong.
"Emm, kayak yang pernah kita tonton di Upin-Ipin itu..." aku mengingatkan.
"Oh, iyya!" seketika mereka berseru girang. Sepertinya mereka merasa tercerahkan, hehe.
Siang itu menjadi kenangku tentang pembelajaran metamorfosis pada anak usia dini. :)
#Fragmen 2#
Malam itu, kedua jagoanku ikut menjemputku ke kampus. Irsyad yang membonceng di tengah sibuk berceloteh tentang apa saja. Aku memeluknya sambil sesekali menciumi rambut wanginya. Aku tahu dia senang diperlakukan begitu.
"Ummi," Dia memainkan jari tangannya, "Mas sudah tahu kalau kayak gini itu tiga." Dia mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya. Aku tertawa dan memujinya.
Bukan hal yang baru dia bicara begitu. Sudah sering kali dia membuat bermacam-macam tiga dengan jari tangannya. Tapi tetap saja aku merasa perlu menghargai kreativitasnya.
"Ummi, kayak gini juga tiga," Diacungkannya jadi telunjuk, tengah dan kelingkingnya. Aku mendekapnya.
"Kayak gini juga tiga," Kali ini dia membuat kombinasi tiga dari jempol, telunjuk dan kelingking.
"Trus begini juga tiga," Dibuatnya formasi yang lain.
Kali ini aku tak bisa menahan kekagumanku.
"Mas hebat, pinter!" Dia tersenyum.
"Nah, sekarang Mas sudah tahu bahwa tiga itu bisa dibuat dari berbagai kombinasi jari. Coba kita hitung ya, ada berapa kombinasi yang mungkin. Pertama begini, trus begini, trus begini juga tiga, habis itu begini...
Jumlahnya bisa dihitung dengan faktorial " Aku menghentikan ucapanku melihat dia cuma melongo. Lalu tersenyum mengingat usianya yang baru empat tahun.
Akhirnya aku cuma berujar,"Nah, yang tadi itu namanya kombinasi jari!"
Wooww, dalam hati aku nyengir sendiri. Anak ini mengaplikasikan materi kombinasi (salah satu materi matematika di level SMP dan SMA) di usia 4 tahunnya. Dan aku tidak mengajarinya. Dia menemukan sendiri.
Dari sekian banyak aktivitas dan kreatifitas anak-anak kita, merupakan aplikasi dari berbagai topik pembelajaran yang pernah kita jumpai di berbagai level sekolah. Seperti dua topik di atas. Kalau dilihat dari teori pembelajaran, model pembelajaran seperti itu dikatakan sebagai discovery learning atau model belajar penemuan.
Teori belajar ini dikembangkan oleh Bruner, seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Menurut Teori Bruner, anak tumbuh melalui tahapan-tahapan yang berbeda yang didasarkan pada penampilan mentalnya.
Adapun 3 tahap itu adalah:
1. tahap penampilan mental enaktif dimana anak mengembangkan keterampilan sensori motorik.
2. tahap penampilan ikonik dimana mental anak dipengaruhi oleh persepsi yang sifatnya egosentris dan tidak stabil.
3. tahap simbolik dimana anak mencapai pengembangan keterampilan berbahasa dan kemampuan mengaitkan dunia luar dengan kata-kata dan idenya.
Menurut Bruner, sejak kecil, anak sebenarnya sudah dapat menangkap konsep-konsep IPA. Misalnya, apabila seorang anak diberi tahu bahwa api itu panas, kemungkinan besar dia akan segera lupa atau tidak peduli. Tetapi ketika suatu ketika anak memeagang api dan merasakan panasnya, kemungkinan besar, dia akan terus mengingatnya.
Model discovery learning dapat dipandang sebagai suatu proses belajar yang terjadi apabila siswa (anak) tidak dijejali dengan konsep, melainkan dia sendiri yang mengelola nformasi sehingga menemukan konsep tersebut. Pembelajaran dengan model ini akan lebih mudah diingat oleh anak dan informasinya akan disimpan lebih lama. Pembelajaran berdasarkan penemuan akan lebih meningkatkan penalaran, mengembangkan kemampuan anak untuk berpikir secara bebas dan menumbuhkan kemandirian anak dalam belajar. Model penemuan ini juga dapat mengubah motivasi belajar pencarian pujian dari luar (motivasi ekstrinsik) ke kepuasan batin (motivasi intrinsik).
Pada model discovery learning ini, guru atau orang tua berperan sebagai guide (penuntun dan pengarah) bagi siswa/anak yang mencari informasi, jadi bukan sebagai pemberi informasi. Walaupun mungkin cara belajar ini butuh waktu agak lama dan sedikit ribet (karena harus mengarahkan anak ke arah yang benar), tetapi banyak pendapat yang menyatakan bahwa model ini banyak dirujuk dalam pembelajaran.
Referensi: Rokiyah & Ketut Budiastra, 2013, Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA di SD
Kamis, 08 Mei 2014
Jumat, 21 Maret 2014
Kebakaran Hutan, Musnahnya Pabrik Oksigen Kita.
Memasuki
bulan ketiga di tahun 2014, penduduk Batam masih menantikan datangnya hujan.
Hujan yang menyirami bumi Batam, yang akan mengikis asap dan debu, membasahi
tanah dan rerumputan, memuaskan dahaga tetumbuhan dan manusia-manusia yang
kegerahan, menyegarkan kembali udara yang sekian lama terakumulasi polusi.
Beberapa
bulan terakhir ini, kondisi atmosfir Batam, sangat tak bersahabat. Udara panas
membuat gerah. Angin yang cukup kencang menerbangkan debu dan serpihan yang
berbobot ringan, membuat udara menjadi terasa sesak. Hujan yang biasanya sudah turun, hingga hari
ini belum juga hadir. Jalanan di beberapa kawasan dekat hutan lindung yang
biasanya selalu segar dan nyaman, kini mulai terasa berbeda. Asap dan jelaga
dari kebakaran hutan membuat pagi tak lagi berseri. Udara pagi tak lagi segar. Bernafas pun tak lagi nyaman dan menyegarkan rongga dada.
Pemberitaan
di media juga melaporkan kondisi Riau dan pulau Sumatera yang bahkan lebih parah.
Kabut asap dimana-mana, menyisakan sesak dan aroma sengit bau bakaran yang
bersumber dari ratusan titik api, menghalangi jarak pandang dan mengganggu penerbangan.
Memprihatinkan. TV One memberitakan bahwa Riau saat ini sudah tak layak huni
karena hanya 5% udara bersih yang bisa dihirup.
Perkembangan
teknologi yang dimiliki manusia kian
hari kian meningkatkan interaksi manusia dengan 3 media lingkungan, tanah, air
dan udara. Bukan hanya sekedar untuk
memnuhi kebutuhan dasar sumberdaya untuk menjalani hidup, namun interaksi ini
bahkan telah merambah pada kebutuhan sumberdaya untuk menikmati hidup. Akibatnya
eksploitasi terhadap ketiga media lingkungan itu, kian meningkat pula.
Sebagian
besar udara kita terdiri dari dari campuran gas, terutama nitrogen, oksigen,
karbon dioksida dan uap air. Oksigen dibutuhkan oleh semua makhluk yang aerob
untuk bernapas, karbon dioksida dibutuhkan dalam fotosintesis tumbuhan,
nitrogen bermanfaat dalam metabolisme bakteri nitrat.
Keberadaan
udara (atmosfir) telah dieksploitasi manusia dalam berbagai kebutuhannya
menjalani hidup. Menurut Mariyam (2012) ada 6 bentuk eksploitasi udara oleh
manusia, yaitu: (1) Sumber oksigen untuk pernafasan, (2) tempat pembuangan karbondioksida
sisa pernafasan, (3) tempat pembuangan uap air yang dilepaskan dari pernafasan
dan berkeringat, (4) tempat pembuangan limbah yang berupa asap, gas dan partikel
halus (butir-butir debu) (5) untuk komunikasi fisik dengan pesawat udara dan
(6) untuk komunikasi elektromagnetik melalui radio, televisi, radar dan telepon
melalui satelit komunikasi. Semua bentuk
eksploitasi ini berpotensi menyebabkan pencemaran udara.
Setiap
waktu kita bernafas, seorang dewasa menghirup kira-kira 3.000 gallon (11,4
meter kubik) udara tiap hari. Udara yang kita hirup jika tercemar oleh bahan
berbahaya dan beracun akan berdampak serius pada kesehatan. Walaupun tidak
terlihat secara kasat mata, pencemar udara mengancam kehidupan kita dan makhluk
hidup lainnya.
Saat
ini, atmosfir kita tak ubahnya “keranjang sampah”. Pengotoran atau pencemaran
udara dapat terjadi karena peristiwa alam yang memang bersifat alami, misalnya
hujan abu karena gunung meletus, suhu dan gelombang panas, asap karena
kebakaran hutan. Namun penyebab
pencemaran paling besar adalah manusia. Menurut
Mukono (2010), beberapa jenis pencemar udara yang perlu dicermati adalah: (1)
benda partikulat atau jelaga atau asap, merupakan pencemar yang paling mudah
terasakan dan paling berbahaya karena partikulat yang halus dapat menelusup
hingga ke alveoli paru-paru; (2) sulfur oksida, SO2; (3) Karbon
monoksida, CO; (4) nitrogen oksida/dioksida (NOx); (5) Karbon dioksida, CO2;
dan (6) Hidrokarbon (HC).
Parameter
pencemar udara yang perlu diperhatikan terkait dengan penyakit saluran
pernapasan adalah benda partikulat/debu, gas SO2, gas NO2
dan gas CO. Jenis pencemar ini umumnya dihasilkan dari proses industry,
pembakaran sampah padat, pembakaran sisa pertanian, transportasi, bahan bakar
minyak dan batubara, incinerator dan kebakaran hutan.
Secara
umum, efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan
terjadinya iritasi pada saluran pernapasan, meningkatkan produksi lendir akibat
iritasi oleh bahan pencemar sehingga dapat mempersempit sauran pernapasan,
rusaknya sel pembunuh bakteri di salauran pernapasan, pembengkakan saluran
pernapasan, lepasnya silia dan selaput lendir yang kesemuanya akan berujung
pada infeksi saluran pernapasan (Mukono, 2010).
Ditinjau
dari kondisi media lingkungan manapun,-tanah, air, udara- saat ini semua serba
mengkhawatirkan. Pencemaran melingkupi tanah, air dan udara di sekeliling kita.
Kekeringan, musim hujan yang terlambat datang, krisis air bersih, krisis udara
bersih, cuaca yang menyengat, banjir, tanah longsor, semuanya, jika kita cari benang merahnya bersumber dari
tergerusnya areal hutan di sekitar kita.
Hutan,
satu-satunya areal yang bisa mempertahankan kadar oksigen di atmosfir saat ini
makin berkurang jumlahnya. Alih fungsi hutan dengan dalih pembangunan,
pembalakan hutan dan kebakaran (atau pembakaran?) yang mencapai ratusan hektar
di wilayah Kepri dan Riau daratan, telah memicu krisis udara bersih yang
berimbas secara langsung maupun tak langsung pada keberlangsungan hidup makhluk
yang bernama manusia. Udara bersih menjadi barang langka saat ini. Padahal, kita memerlukan udara bersih setiap
saat. Pada udara bersih kita dapat bernafas dengan nyaman, suhu udara
keseharian tidak menyebabkan kita kegerahan di siang hari atau terlalu
kedinginan di malam hari. Tidak ada bau
yang tidak sedap atau bau-bau aneh lainnya yang merangsang kita untuk
batuk.
Kebakaran
hutan telah membuat sekian banyak jiwa manusia resah. Tingginya kadar
partikulat/debu biasanya diikuti dengan
tingginya gas sulfur dioksida. Kedua bahan tersebut diketahui bekerja
secara sinergis untuk menghambat pergerakan silia sehingga tidak dapat
membersihkan saluran pernapasan. Bahkan
lebih jauh dapat mendorong partikulat tersebut lebih banyak masuk ke paru-paru.
Tak heran, jumlah pengidap ISPA akhir-akhir ini meningkat drastis. Belum lagi penyakit kulit, mata dan asma yang
muncul karena tingginya kadar pencemar dalam udara.
Rentetan
bencana yang menimpa Indonesia, seharusnya menjadikan kita, warga Bumi
Indonesia, bermuhasabah. Apa yang salah? Mengapa alam sekarang jauh dari
bersikap ramah kepada kita? Mungkin kita selaku manusia sudah terlampau pongah.
Sehingga alam dengan berbagai mekanismenya menegur kita. Tuhan memainkan tangan-Nya
melalui teguran-teguran bijak-Nya. Lantas, mengapa kita masih larut dalam
keangkuhan dan ketidakpedulian tentang lingkungan kita sendiri? Bumi kita
sendiri? Hidup kita sendiri? Nasib kita sendiri?
Harus
disadari, pencemaran udara sangat berpengaruh pada kenyamanan dan kesehatan
manusia dan lingkungan. Partisipasi masyarakat, seberapapun kecilnya, akan memberi
arti yang besar bagi terciptanya udara bersih-berkualitas yang kita dambakan.
Namun hal ini dibutuhkan prakarsa, fasilitas dan penampungan kegiatan oleh
pemerintah. Partisipasi masyarakat akan menjadi lebih besar jika masyarakat
termotivasi. Berbagai kegiatan
kepedulian lingkungan yang digagas dan dilakukan oleh masyarakat akan makin berkembang
jika pemerintah mau peduli, memfasilitasi atau mengapresiasi.
Seperti
dikemukakan di atas, hutan kita perlu uluran tangan kita. Hutan, pabrik oksigen
kita, pabrik air bersih kita, pengatur iklim mikro kita, kekayaan flora dan
fauna kita, menantikan kepedulian kita. Kepedulian kita pada hutan, berarti
kepedulian kita pada bumi, pada sekian banyak nyawa di permukaan bumi.
Perlu
kita cermati, kebakaran hutan yang terjadi dan meluas akhir-akhir ini tak akan
selesai, jika kita masih saja berpangku tangan, saling tuding atau lempar
tanggung jawab. Pemusnahan pepohonan akibat kebakaran secara hitung-hitungan
tentu saja jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pohon baru yang
membutuhkan waktu bertahun-tahun. Perlu kita cermati, Kita bisa saja memilih
baju yang akan kita pakai, air yang akan kita minum, dan makanan yang akan kita
makan. Tetapi tidak bisa memilih udara yang kita hirup. Saat ini, mungkin kita
masih bisa menggunakan masker atau alat pelindung pernapasan lainnya. Bukan tak mungkin, kelak kita harus memanggul
tabung oksigen kemana-mana, jika saja laku kita masih tak berubah.
Selasa, 21 Januari 2014
KOMPETENSI
#Fragmen 1
Seorang wanita muda, asyik bercuap-cuap di depan sekelompok orang, audiensnya, yang berbeda latar belakang pendidikan. Temanya tentang pendidikan. Tepatnya pendidikan anak. Berbagai teori dikemukakan, berdasarkan referensi dari literatur terkini.
Untaian kalimatnya begitu mempesona. Disertai dengan contoh-contoh kasus bagaimana cara SEHARUSNYA memperlakukan anak, mendidik anak dan menyikapi semua tingkah pola anak.
Sepertinya sangat SOLUTIF, dan bisa dijadikan rujukan dalam berinteraksi dengan anak-anak.
Sebagian audiensnya tampak kagum. Sebagian lagi menganggap biasa.
Ketika perbincangan makin menghangat, seorang audiensnya mengangkat tangan dan buka suara.
"Maaf, Ibu kalau saya boleh tahu, Ibu anaknya berapa orang?"
Si Pembicara tergeragap. Kaget. Mungkin tak menyangka kalau seperti itu justru pertanyaan yang keluar dari bibir audiensnya.
Pertanyaan yang sebetulnya mungkin tak pernah ingin didengarnya. Satu saja sebabnya, karena DIA BELUM MEMILIKI ANAK.
#Fragmen 2
Seorang wanita paruh baya, dengan sangat mantapnya berbicara tentang cinta. Satu kata yang tak pernah habis untuk dijabarkan dalam ucapan dan tulisan. Satu kata yang tak pernah membosankan untuk ditinjau dan diperbincangkan.
Kajian cinta sore itu meluas dari definisi cinta hingga ke ranah yang cukup mendalam. Cinta pasangan suami-istri. Pembicara ini, menyitir pendapat-pendapat para filsuf tentang cinta. Menyampaikan dengan sangat meyakinkan ulasan tentang cinta suami-istri menurut si A, si B dan si C.
Sebagian audiensnya hanya memandangi, setengah melongo, antara paham dan tidak uraian dari mentor cintanya.
Dari pojok belakang, seorang lelaki gempal mengangkat wajahnya dari tugas-tugas yang tadi ditekuninya.
"Pertanyaannya satu saja. Ibu sudah punya suami belum?"
Gerrrr...Seentak, tawa menggema dalam ruangan itu. Sederhana saja, karena semua orang tahu, hingga saat itu, WANITA ITU BELUM PERNAH MENIKAH.
* * *
Saya tak ingin meledek atau mendiskreditkan kedua wanita di atas. Apalagi mempermalukan. Tidak sama sekali.
Saya hanya ngin mengulas, bahwa ternyata, kita sering kali terlalu banyak bicara, terlalu berlebihan dalam membahas suatu tema yang sebetulnya bukan wilayah kita. Kalau dalam bahasa kerennya mungkin bisa dibilang "KOMPETENSI".
Hmm, seperti kegiatan belajar saja jadinya.
Tapi memang demikianlah adanya.
Kadang, kita terlalu pede dengan pengetahuan kita, dan enggan membuka keran komunikasi. Merasa kita paling tahu, kita paling benar, padahal di luar sana mungkin masih ada orang yang jauh lebih paham dari kita.
Dua fragmen di atas, mungkin tidak persis seperti itu. Keduanya memang punya bekgron yang mampu menunjang pembicaraan mereka. Wanita di fragmen pertama seorang master psikologi sedangkan di fragmen kedua adalah master filsafat. Keduanya lulusan dari sebuah universitas yang bonafid di pertiwi ini.
Apakah mereka tidak punya kompetensi? Belum tentu juga.
Tetapi sering kali, para master itu begitu sok tahu dan begitu yakin dengan teori-teori yang telah mereka makan selama menempuh pendidikannya. Mereka membuat analisis dan menyimpulkan berdasarkan PENGETAHUAN yang mereka peroleh dari buku-buku, kemudian menjustifikasi bahwa pendapatnyalah yang paling baik. Mereka mungkin melupakan, bahwa REALITA HIDUP kadang tidak selalu sesuai teori.
Bahwa FAKTA DI LAPANGAN kadang bisa berbeda 180 derajat dengan apa yang dikemukakan di buku-buku yang mereka baca. Praktek, tidak selalu sejalan dengan teori.
Katakan, apakah bisa mengajarkan orang mendidik anak, sementara dia belum punya anak dan tidak pernah menghandel anak-anak didik? Apakah bisa merekomendasikan solusi hidup berumah tangga, seseorang yang bahkan belum pernah menikah?
Kalau sekedar ngomong saja, tentu bisa. Tapi perlu diingat bahwa kehidupan, bukan sekedar asal beres. Bukan sekedar urusan kepala-kepala yang berbenturan. Ada hati, ada rasa, dan mungkin disitulah justru yang menyebabkan sulitnya untuk mencari win-win solution.
Seperti kata tetangga saya, "Ah Jarkoni! Bia berujar tapi tidak bisa ngelakoni".
Saya jadi merasakan, bahwa kompetensi seseorang dalam suatu bidang, bukan saja harus ditunjang dari dalamnya keilmuan secara teori, tetapi juga dari prakteknya. Urusan interaksi dengan manusia, tak cukup dengan solusi berdasarkan hakikat dan definisi. Butuh sesuatu yang lebih.
Seperti saat kita memberikan saran atau solusi, tentu akan berbeda rekomendasi dari orang yang hanya melihat sisi luarnya saja dengan yang benar-benar menyelami hingga ke dasarnya. Karena kompetensinya itu tadi.
Ah, tiba-tiba saya mau ketawa ketika ingat teman saya di #fragmen 1 itu pernah berkata, "Bu, aku diminta ngisi seminar tentang Laktasi."
Hoalah....
Seorang wanita muda, asyik bercuap-cuap di depan sekelompok orang, audiensnya, yang berbeda latar belakang pendidikan. Temanya tentang pendidikan. Tepatnya pendidikan anak. Berbagai teori dikemukakan, berdasarkan referensi dari literatur terkini.
Untaian kalimatnya begitu mempesona. Disertai dengan contoh-contoh kasus bagaimana cara SEHARUSNYA memperlakukan anak, mendidik anak dan menyikapi semua tingkah pola anak.
Sepertinya sangat SOLUTIF, dan bisa dijadikan rujukan dalam berinteraksi dengan anak-anak.
Sebagian audiensnya tampak kagum. Sebagian lagi menganggap biasa.
Ketika perbincangan makin menghangat, seorang audiensnya mengangkat tangan dan buka suara.
"Maaf, Ibu kalau saya boleh tahu, Ibu anaknya berapa orang?"
Si Pembicara tergeragap. Kaget. Mungkin tak menyangka kalau seperti itu justru pertanyaan yang keluar dari bibir audiensnya.
Pertanyaan yang sebetulnya mungkin tak pernah ingin didengarnya. Satu saja sebabnya, karena DIA BELUM MEMILIKI ANAK.
#Fragmen 2
Seorang wanita paruh baya, dengan sangat mantapnya berbicara tentang cinta. Satu kata yang tak pernah habis untuk dijabarkan dalam ucapan dan tulisan. Satu kata yang tak pernah membosankan untuk ditinjau dan diperbincangkan.
Kajian cinta sore itu meluas dari definisi cinta hingga ke ranah yang cukup mendalam. Cinta pasangan suami-istri. Pembicara ini, menyitir pendapat-pendapat para filsuf tentang cinta. Menyampaikan dengan sangat meyakinkan ulasan tentang cinta suami-istri menurut si A, si B dan si C.
Sebagian audiensnya hanya memandangi, setengah melongo, antara paham dan tidak uraian dari mentor cintanya.
Dari pojok belakang, seorang lelaki gempal mengangkat wajahnya dari tugas-tugas yang tadi ditekuninya.
"Pertanyaannya satu saja. Ibu sudah punya suami belum?"
Gerrrr...Seentak, tawa menggema dalam ruangan itu. Sederhana saja, karena semua orang tahu, hingga saat itu, WANITA ITU BELUM PERNAH MENIKAH.
* * *
Saya tak ingin meledek atau mendiskreditkan kedua wanita di atas. Apalagi mempermalukan. Tidak sama sekali.
Saya hanya ngin mengulas, bahwa ternyata, kita sering kali terlalu banyak bicara, terlalu berlebihan dalam membahas suatu tema yang sebetulnya bukan wilayah kita. Kalau dalam bahasa kerennya mungkin bisa dibilang "KOMPETENSI".
Hmm, seperti kegiatan belajar saja jadinya.
Tapi memang demikianlah adanya.
Kadang, kita terlalu pede dengan pengetahuan kita, dan enggan membuka keran komunikasi. Merasa kita paling tahu, kita paling benar, padahal di luar sana mungkin masih ada orang yang jauh lebih paham dari kita.
Dua fragmen di atas, mungkin tidak persis seperti itu. Keduanya memang punya bekgron yang mampu menunjang pembicaraan mereka. Wanita di fragmen pertama seorang master psikologi sedangkan di fragmen kedua adalah master filsafat. Keduanya lulusan dari sebuah universitas yang bonafid di pertiwi ini.
Apakah mereka tidak punya kompetensi? Belum tentu juga.
Tetapi sering kali, para master itu begitu sok tahu dan begitu yakin dengan teori-teori yang telah mereka makan selama menempuh pendidikannya. Mereka membuat analisis dan menyimpulkan berdasarkan PENGETAHUAN yang mereka peroleh dari buku-buku, kemudian menjustifikasi bahwa pendapatnyalah yang paling baik. Mereka mungkin melupakan, bahwa REALITA HIDUP kadang tidak selalu sesuai teori.
Bahwa FAKTA DI LAPANGAN kadang bisa berbeda 180 derajat dengan apa yang dikemukakan di buku-buku yang mereka baca. Praktek, tidak selalu sejalan dengan teori.
Katakan, apakah bisa mengajarkan orang mendidik anak, sementara dia belum punya anak dan tidak pernah menghandel anak-anak didik? Apakah bisa merekomendasikan solusi hidup berumah tangga, seseorang yang bahkan belum pernah menikah?
Kalau sekedar ngomong saja, tentu bisa. Tapi perlu diingat bahwa kehidupan, bukan sekedar asal beres. Bukan sekedar urusan kepala-kepala yang berbenturan. Ada hati, ada rasa, dan mungkin disitulah justru yang menyebabkan sulitnya untuk mencari win-win solution.
Seperti kata tetangga saya, "Ah Jarkoni! Bia berujar tapi tidak bisa ngelakoni".
Saya jadi merasakan, bahwa kompetensi seseorang dalam suatu bidang, bukan saja harus ditunjang dari dalamnya keilmuan secara teori, tetapi juga dari prakteknya. Urusan interaksi dengan manusia, tak cukup dengan solusi berdasarkan hakikat dan definisi. Butuh sesuatu yang lebih.
Seperti saat kita memberikan saran atau solusi, tentu akan berbeda rekomendasi dari orang yang hanya melihat sisi luarnya saja dengan yang benar-benar menyelami hingga ke dasarnya. Karena kompetensinya itu tadi.
Ah, tiba-tiba saya mau ketawa ketika ingat teman saya di #fragmen 1 itu pernah berkata, "Bu, aku diminta ngisi seminar tentang Laktasi."
Hoalah....
Sabtu, 18 Januari 2014
KB-PAL
Suatu hari...
"Bu, aku kenapa ya, dua hari ini aku nangiisss saja tanpa tahu sebabnya apa?"
"Lha, kok bisa?
"Iyya, aku gak tahu kenapa. Aku sampai lemas, pusing, gak bisa tidur, kayak orang lagi banyak masalah aja. Padahal aku gak mikirin apa-apa. Gak ada masalah keluarga. Dengan suami dan anak-anak juga baik-baik saja, bisnisku lancar, gak ada yang sepatutnya dibikin sedih."
Aku menatap sosok di sampingku. Menghentikan ativitasku, dan mencoba lebih fokus pada tetangga mejaku.
"Iyya bu, bener. Aku sendiri gak tahu kenapa. Apa yang salah ya? Apa aku ada yang jahatin gitu ya Bu?"
Aku mengangkat alis, "Hmm, bisa jadi."
"Bu, ibu tahu gak orang pinter yang bisa ngobatin sakit kayak gini?"
"Coba diruqyah aja Bu. Tapi saya juga gak bisa merekomendasikan terapisnya. Ibu ruqyah sendiri aja dengan doa-doa dari Al Quran. Dzikir pagi sore, banyak mengingat Alloh."
"Iya Bu, saya juga berusaha tak lepas dari mengingat Alloh. Saya gak kuat, gak bisa bangun kalau gak sambil dzikir. Ini saja saya memaksakan diri kesini. Pokoknya, saya harus melawan sebisa-bisa saya, biar kondisi saya gak makin kacau."
Pukul 17.00.
Perbincangan itu berlalu karena kami sudah ditunggu.
Beberapa minggu berikutnya.
"Bu, tahu gak?" Adik bungsu Ibu yang di kisah di atas bertanya.
"Nggak. Ada apa rupanya?" Saya mengalihkan pandangan padanya.
"Bu X, lagi sakit. Kayaknya dibikin orang."
"Hush, dibikin gimana?"
"Dia itu kemarin tiba-tiba kena sakit cacar. Ehm, maksudnya kayak cacar gitu."
"Trus???" Aku penasaran. Saat itu memang lagi musim cacar, campak.
"Iya, tadinya dikira cacar, karena ada bintil-bintil berisi air gitu, tapi lama-lama membesar dan yang bikin kami heran, bentuknya kayak kalung. Kalau cacar kan pasti bintil-bintilnya acak. Lha ini enggak. Polanya dia melingkari leher."
"Innalillahi wainna ilaihi roojiuun, Naudzubillah..." dadaku tiba-tiba sesak.
Tiba-tiba aku ingat tuturan Bu X beberapa waktu lalu.
Sore hari, beberapa hari kemudian.
Aku mengulurkan sebuah buku dan sebuah bungkusan, titipan suamiku.
Buku ruqyah syar'i dan bungkusan plastik berisi beberapa helai daun bidara.
"Maaf Ibu, kalau berkenan, tolong Ibu rutinkan membaca dzikir-dzikir seperti yang ditulis dalam buku ini. Usahakan bersuci sebelumnya. Trus, daun ini Insya Alloh berkhasiat mengobati gangguan jin dan sihir. Namanya daun bidara. Cuma dapat beberapa helai, mudah-mudahan bermanfaat. Semoga Alloh membantu menyembuhkan."
Benda-benda itu berpindah tangan.
Ibu X membuka-buka buku tersebut, dan bertanya beberapa hal yang dianggap perlu penjelasan. Aku menjelaskan sebisaku.
Ya Alloh, tolong sembuhkan temanku, bisikku ketika kami berpisah.
Minggu depannya kami bertemu lagi.
"Gimana kabarnya, Bu?"
"Alhamdulillah, Bu. Aku sudah sembuh. Aku ngamalin dzikir-dzikir di buku yang ibu pinjemin itu.
Trus, bintil-bintil itu akhirnya copot, tinggal bekasnya aja nih, kayak habis kena cacar."
Disibakkannya sedikit kerudungnya, dan aku melihat beberapa bekas seperti bekas luka bakar yang sudah terkelupas di seputar lehernya.
"Alhamdulillah...syukurlah kalau sudah sembuh."
"Eng.." Aku ragu antara mau bertanya atau tidak. Tapi rasa penasaran dengan sakitnya mendorongku untuk tahu lebih jauh. Ternyata, aku tak perlu bertanya, beliau sudah bertutur.
"Ih, Bu, aku kok sering dikerjain begini ya. Kayak yang kemarin aku cerita itu, iyya. Trus, yang sakit ini. Trus, kalau aku ingat-ingat, ada beberapa kejadan lagi yang kayaknya gak masuk akal, tapi bener aku alami. Mungkin ada orang yang iri dengan bisnisku. Jadi ngirimin sakit kayak gini."
"Kayak gini gimana Bu?"
"Kemarin itu, aku baru pulang, trus sambil ganti baju dan nyisir, sambil ngaca. Tiba-tiba, muncul bintil kayak cacar itu di dekat leherku. Waktu itu, aku sempat mikir, eh, apa iya aku kena cacar? Masih mikir dan masih ngaca gitu, tiba-tiba muncul lagi. Kayak disundut rokok gitu, trus melembung. Trus muncul lagi, melembung lagi. Aku sampai panik. Loh, loh, kok begini?
Anehnya, bentuknya itu seperti kalung. Aku sampai teriak-teriak ke suamiku, "Mas, aku kenapa?"
Antara panik plus takut juga. Tapi gak tau mesti bagaimana."
Aku merinding, sambil istighfar dalam hati. Antara percaya gak percaya. Tapi jadi yakin, karena melihat bekas seperti koreng yang sudah terkelupas seperti yang tadi dituturkannya.
"Kok bisa kayak gitu ya, Bu?"
Aku bingung mau komentar apa.
"Iyya, kayaknya, sejak lama, aku suka dikerjain orang Bu. Kadang sepertinya gak masuk akal, tapi saya mengalaminya. Cuma saya gak mau cerita ke orang sembarangan, takut dibilang mengada-ada."
"Lha, kok cerita ke saya?" Aku iseng.
Dia tersenyum. "Ibu bisa dipercaya, dan gak mungkin nganggap saya gila."
Waduh! Aku terkekeh.
Dia melanjutkan, "Mungkin karena saya jarang suci juga Bu, jadi yang seperti ini sering terjadi."
"Maksudnya?"
"Dari dulu kan saya ikut KB, macam-macam udah saya coba. Pernah pakai kontrasepsi A, B, C dan D. Nah, efeknya macam-macam. Kadang saya mens sampai 2 bulan. Baru 3 hari suci, trus keluar lagi, satu minggu. Apalagi sejak saya keguguran itu, kan pake B, jadi badan rasanya campur aduk. Saya udah bolak-balik ke dokter untuk periksa, konsultasi dan pengobatan, tapi masih kayak gini juga. Entah, berapa duit udah saya habiskan untuk berobat."
"Emh, gitu ya Bu."
"Iya Bu, KB itu kan cocok-cocokan. Kadang cocok dengan satu orang, tapi dengan yang lain enggak.
Tapi kalau Ibu, kayaknya gak KB ya?" Dia terkekeh.
Saya tertawa.
"Iya Bu, saya gak pake kontrasepsi juga karena alasan itu. Setahu saya alat kontrasepsi memang bekerjanya mengacaukan hormon. Saya sensitif dengan perubahan hormon. Lagi pula, Alhamdulillah siklus haid saya sangat teratur. Ditawari juga sih sama bidan, bahkan disaranin steril, karena udah punya anak 4, tapi saya dan suami milih yang alami saja. Walaupun beresiko nambah lagi." Saya nyengir.
"Wong yang sudah disteril aja masih bisa nambah, kalau Alloh berkehendak. Saya menjalani sebisa saya saja. Alloh tahu yang terbaik buat kita".
"Iya Bu."
"Eh, tapi saya ikut KB kok Bu. KB-PAL malah." Saya senyam-senyum.
Dia mengernyit, "Apa itu?"
"Hm, Ibu belom pernah dengar ya? KB-PAL itu... Keluarga Berencana Punya Anak Lima, hehe. Mottonya: Dua Anak Lebih, Baik!"
Saya tertawa. Dia tertawa.
"Ah Ibu bisa saja."
***
Kisah di atas nyata adanya. Mungkin terlalu berlebihan bagi sebagian orang jika mengaitkan KB dengan penyakit seperti yang dialami Ibu teman saya itu. Tapi begitulah adanya.
Wanita, seperti yang dikatakan Rasulullah saw adalah makhluk lemah. Dan kelemahannya itu salah satunya karena ada fase yang membuatnya terpaksa tidak bisa melakukan aktivitas ibadah untuk menguatkan ruhnya. Jadi rentan juga dengan gangguan jin dan sihir.
Bukan rahasia, bahwa berbagai alat kontrasepsi yang ada dan umum digunakan telah menyebabkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh wanita. dari yang ringan, misal pusing, sampai yang berat seperti pendaharan atau hamil di luar kandungan.
Saya tidak bermaksud mengompori teman-teman untuk tidak menggunakan kontrasepsi, silakan saja. Itu pilihan Anda dan suami. Tapi, sepanjang bisa diusahakan cara lain, yang relatif aman, saya lebih memilih teknik itu. Toh KB juga tidak jaminan 100% kita tak akan hamil. Seperti yang saya tuturkan, ada juga wanita yang karena sudah puny 5 anak, kemudian memutuskan untuk 'diikat' saluran telurnya, ternyata qodarulloh, hamil lagi yang ke-6. Subhanalloh... Untuk urusan ini memang hak prerogratif Alloh.
Jadi saya pikir, sah-sah saja saya berseberangan dengan banyak orang, bahkan menuai cibiran seperti yang pernah saya ceritakan disini atau di sini.
Setiap kita boleh memilih. Yang harus kita sadari adalah konsekuensi dari tiap pilihan hidup kita. Saya memilih KB-PAL, tentu harus siap dengan konsekuensinya. Capek, berisik, rumah berantakan, dompet kering, de el el. Tapi bagi saya, semua itu sangat berharga. Menorehkan moment-moment manis dalam tiap langkah hidup saya. Yang jelas, saya akhirnya memilih, mendingan DOMPET yang kosong, ketimbang HATI yang kosong :). Tanpa anak-anak, terasa sepinya dunia.
"Bu, aku kenapa ya, dua hari ini aku nangiisss saja tanpa tahu sebabnya apa?"
"Lha, kok bisa?
"Iyya, aku gak tahu kenapa. Aku sampai lemas, pusing, gak bisa tidur, kayak orang lagi banyak masalah aja. Padahal aku gak mikirin apa-apa. Gak ada masalah keluarga. Dengan suami dan anak-anak juga baik-baik saja, bisnisku lancar, gak ada yang sepatutnya dibikin sedih."
Aku menatap sosok di sampingku. Menghentikan ativitasku, dan mencoba lebih fokus pada tetangga mejaku.
"Iyya bu, bener. Aku sendiri gak tahu kenapa. Apa yang salah ya? Apa aku ada yang jahatin gitu ya Bu?"
Aku mengangkat alis, "Hmm, bisa jadi."
"Bu, ibu tahu gak orang pinter yang bisa ngobatin sakit kayak gini?"
"Coba diruqyah aja Bu. Tapi saya juga gak bisa merekomendasikan terapisnya. Ibu ruqyah sendiri aja dengan doa-doa dari Al Quran. Dzikir pagi sore, banyak mengingat Alloh."
"Iya Bu, saya juga berusaha tak lepas dari mengingat Alloh. Saya gak kuat, gak bisa bangun kalau gak sambil dzikir. Ini saja saya memaksakan diri kesini. Pokoknya, saya harus melawan sebisa-bisa saya, biar kondisi saya gak makin kacau."
Pukul 17.00.
Perbincangan itu berlalu karena kami sudah ditunggu.
Beberapa minggu berikutnya.
"Bu, tahu gak?" Adik bungsu Ibu yang di kisah di atas bertanya.
"Nggak. Ada apa rupanya?" Saya mengalihkan pandangan padanya.
"Bu X, lagi sakit. Kayaknya dibikin orang."
"Hush, dibikin gimana?"
"Dia itu kemarin tiba-tiba kena sakit cacar. Ehm, maksudnya kayak cacar gitu."
"Trus???" Aku penasaran. Saat itu memang lagi musim cacar, campak.
"Iya, tadinya dikira cacar, karena ada bintil-bintil berisi air gitu, tapi lama-lama membesar dan yang bikin kami heran, bentuknya kayak kalung. Kalau cacar kan pasti bintil-bintilnya acak. Lha ini enggak. Polanya dia melingkari leher."
"Innalillahi wainna ilaihi roojiuun, Naudzubillah..." dadaku tiba-tiba sesak.
Tiba-tiba aku ingat tuturan Bu X beberapa waktu lalu.
Sore hari, beberapa hari kemudian.
Aku mengulurkan sebuah buku dan sebuah bungkusan, titipan suamiku.
Buku ruqyah syar'i dan bungkusan plastik berisi beberapa helai daun bidara.
"Maaf Ibu, kalau berkenan, tolong Ibu rutinkan membaca dzikir-dzikir seperti yang ditulis dalam buku ini. Usahakan bersuci sebelumnya. Trus, daun ini Insya Alloh berkhasiat mengobati gangguan jin dan sihir. Namanya daun bidara. Cuma dapat beberapa helai, mudah-mudahan bermanfaat. Semoga Alloh membantu menyembuhkan."
Benda-benda itu berpindah tangan.
Ibu X membuka-buka buku tersebut, dan bertanya beberapa hal yang dianggap perlu penjelasan. Aku menjelaskan sebisaku.
Ya Alloh, tolong sembuhkan temanku, bisikku ketika kami berpisah.
Minggu depannya kami bertemu lagi.
"Gimana kabarnya, Bu?"
"Alhamdulillah, Bu. Aku sudah sembuh. Aku ngamalin dzikir-dzikir di buku yang ibu pinjemin itu.
Trus, bintil-bintil itu akhirnya copot, tinggal bekasnya aja nih, kayak habis kena cacar."
Disibakkannya sedikit kerudungnya, dan aku melihat beberapa bekas seperti bekas luka bakar yang sudah terkelupas di seputar lehernya.
"Alhamdulillah...syukurlah kalau sudah sembuh."
"Eng.." Aku ragu antara mau bertanya atau tidak. Tapi rasa penasaran dengan sakitnya mendorongku untuk tahu lebih jauh. Ternyata, aku tak perlu bertanya, beliau sudah bertutur.
"Ih, Bu, aku kok sering dikerjain begini ya. Kayak yang kemarin aku cerita itu, iyya. Trus, yang sakit ini. Trus, kalau aku ingat-ingat, ada beberapa kejadan lagi yang kayaknya gak masuk akal, tapi bener aku alami. Mungkin ada orang yang iri dengan bisnisku. Jadi ngirimin sakit kayak gini."
"Kayak gini gimana Bu?"
"Kemarin itu, aku baru pulang, trus sambil ganti baju dan nyisir, sambil ngaca. Tiba-tiba, muncul bintil kayak cacar itu di dekat leherku. Waktu itu, aku sempat mikir, eh, apa iya aku kena cacar? Masih mikir dan masih ngaca gitu, tiba-tiba muncul lagi. Kayak disundut rokok gitu, trus melembung. Trus muncul lagi, melembung lagi. Aku sampai panik. Loh, loh, kok begini?
Anehnya, bentuknya itu seperti kalung. Aku sampai teriak-teriak ke suamiku, "Mas, aku kenapa?"
Antara panik plus takut juga. Tapi gak tau mesti bagaimana."
Aku merinding, sambil istighfar dalam hati. Antara percaya gak percaya. Tapi jadi yakin, karena melihat bekas seperti koreng yang sudah terkelupas seperti yang tadi dituturkannya.
"Kok bisa kayak gitu ya, Bu?"
Aku bingung mau komentar apa.
"Iyya, kayaknya, sejak lama, aku suka dikerjain orang Bu. Kadang sepertinya gak masuk akal, tapi saya mengalaminya. Cuma saya gak mau cerita ke orang sembarangan, takut dibilang mengada-ada."
"Lha, kok cerita ke saya?" Aku iseng.
Dia tersenyum. "Ibu bisa dipercaya, dan gak mungkin nganggap saya gila."
Waduh! Aku terkekeh.
Dia melanjutkan, "Mungkin karena saya jarang suci juga Bu, jadi yang seperti ini sering terjadi."
"Maksudnya?"
"Dari dulu kan saya ikut KB, macam-macam udah saya coba. Pernah pakai kontrasepsi A, B, C dan D. Nah, efeknya macam-macam. Kadang saya mens sampai 2 bulan. Baru 3 hari suci, trus keluar lagi, satu minggu. Apalagi sejak saya keguguran itu, kan pake B, jadi badan rasanya campur aduk. Saya udah bolak-balik ke dokter untuk periksa, konsultasi dan pengobatan, tapi masih kayak gini juga. Entah, berapa duit udah saya habiskan untuk berobat."
"Emh, gitu ya Bu."
"Iya Bu, KB itu kan cocok-cocokan. Kadang cocok dengan satu orang, tapi dengan yang lain enggak.
Tapi kalau Ibu, kayaknya gak KB ya?" Dia terkekeh.
Saya tertawa.
"Iya Bu, saya gak pake kontrasepsi juga karena alasan itu. Setahu saya alat kontrasepsi memang bekerjanya mengacaukan hormon. Saya sensitif dengan perubahan hormon. Lagi pula, Alhamdulillah siklus haid saya sangat teratur. Ditawari juga sih sama bidan, bahkan disaranin steril, karena udah punya anak 4, tapi saya dan suami milih yang alami saja. Walaupun beresiko nambah lagi." Saya nyengir.
"Wong yang sudah disteril aja masih bisa nambah, kalau Alloh berkehendak. Saya menjalani sebisa saya saja. Alloh tahu yang terbaik buat kita".
"Iya Bu."
"Eh, tapi saya ikut KB kok Bu. KB-PAL malah." Saya senyam-senyum.
Dia mengernyit, "Apa itu?"
"Hm, Ibu belom pernah dengar ya? KB-PAL itu... Keluarga Berencana Punya Anak Lima, hehe. Mottonya: Dua Anak Lebih, Baik!"
Saya tertawa. Dia tertawa.
"Ah Ibu bisa saja."
***
Kisah di atas nyata adanya. Mungkin terlalu berlebihan bagi sebagian orang jika mengaitkan KB dengan penyakit seperti yang dialami Ibu teman saya itu. Tapi begitulah adanya.
Wanita, seperti yang dikatakan Rasulullah saw adalah makhluk lemah. Dan kelemahannya itu salah satunya karena ada fase yang membuatnya terpaksa tidak bisa melakukan aktivitas ibadah untuk menguatkan ruhnya. Jadi rentan juga dengan gangguan jin dan sihir.
Bukan rahasia, bahwa berbagai alat kontrasepsi yang ada dan umum digunakan telah menyebabkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh wanita. dari yang ringan, misal pusing, sampai yang berat seperti pendaharan atau hamil di luar kandungan.
Saya tidak bermaksud mengompori teman-teman untuk tidak menggunakan kontrasepsi, silakan saja. Itu pilihan Anda dan suami. Tapi, sepanjang bisa diusahakan cara lain, yang relatif aman, saya lebih memilih teknik itu. Toh KB juga tidak jaminan 100% kita tak akan hamil. Seperti yang saya tuturkan, ada juga wanita yang karena sudah puny 5 anak, kemudian memutuskan untuk 'diikat' saluran telurnya, ternyata qodarulloh, hamil lagi yang ke-6. Subhanalloh... Untuk urusan ini memang hak prerogratif Alloh.
Jadi saya pikir, sah-sah saja saya berseberangan dengan banyak orang, bahkan menuai cibiran seperti yang pernah saya ceritakan disini atau di sini.
Setiap kita boleh memilih. Yang harus kita sadari adalah konsekuensi dari tiap pilihan hidup kita. Saya memilih KB-PAL, tentu harus siap dengan konsekuensinya. Capek, berisik, rumah berantakan, dompet kering, de el el. Tapi bagi saya, semua itu sangat berharga. Menorehkan moment-moment manis dalam tiap langkah hidup saya. Yang jelas, saya akhirnya memilih, mendingan DOMPET yang kosong, ketimbang HATI yang kosong :). Tanpa anak-anak, terasa sepinya dunia.
Jumat, 13 September 2013
Hubungan Usia, Kapasitas Lambung dan Kebutuhan ASI
Beberapa hari ini sempat bingung dengan gaya ngASI dek Utsman. Sempat juga bertanya-tanya, apa mungkin seorang bayi bisa mengalami trauma menyusu. Pasalnya, setiap kali nyusu, selalu terjadi proses letdown ASI akibat hisapan si Adek (pengaruh oksitosin tuh kayaknya). Ditambah lagi frekuensi nyusu Dek Utsman yang relatif jarang- soalnya masih doyan merem, walaupun gak bobo-, menjadikan ASI yang keluar seperti air mancur.
Si Adek sering kewalahan dan gelagapan, sehingga seringkali tersedak kalau tidak buru-buru mengeluarkan puting dari mulutnya. Haddeh, sudah satu bulan lebih, masih belum pandai juga nyusunya. Beda banget sama mas-masnya.
Seperti yang pernah aku ketahui sebelumnya, volume menyusui bayi berbanding lurus dengan kapasitas lambungnya. Semakin lama, volume lambung semakin besar yang artinya kebutuhan bayi akan ASI juga semakin banyak.
Berhubung tiap Ahad sekarang ini harus nuton, maka mengetahui dan memprediksi kebutuhan ASI tiap kali si Adek menyusui adalah hal yang wajib. Takutnya, pas ditinggal, stok susu tidak bisa memenuhi kebutuhan si Adek.
Jangan sampailah karena kesalahan memprediksi, si Adek jadi kelaparan.
Nah, kebetulan dapat info tentang kapasitas lambung bayi baru lahir dari sebuah grup di fb. Jadi biar gak lupa, sekalian diposting di sini. Simak yaaa...
Jadi, kalo minggu-minggu kemarin aku ninggalin 80-90 ml ASIP untuk tiap kali Utsman ngASI, masih mencukupi kebutuhannya. Alhamdulillah...
Semoga bisa lulus ASIX dan wisuda sampe S2 ASI ya Dek...Aamiin
Si Adek sering kewalahan dan gelagapan, sehingga seringkali tersedak kalau tidak buru-buru mengeluarkan puting dari mulutnya. Haddeh, sudah satu bulan lebih, masih belum pandai juga nyusunya. Beda banget sama mas-masnya.
Seperti yang pernah aku ketahui sebelumnya, volume menyusui bayi berbanding lurus dengan kapasitas lambungnya. Semakin lama, volume lambung semakin besar yang artinya kebutuhan bayi akan ASI juga semakin banyak.
Berhubung tiap Ahad sekarang ini harus nuton, maka mengetahui dan memprediksi kebutuhan ASI tiap kali si Adek menyusui adalah hal yang wajib. Takutnya, pas ditinggal, stok susu tidak bisa memenuhi kebutuhan si Adek.
Jangan sampailah karena kesalahan memprediksi, si Adek jadi kelaparan.
Nah, kebetulan dapat info tentang kapasitas lambung bayi baru lahir dari sebuah grup di fb. Jadi biar gak lupa, sekalian diposting di sini. Simak yaaa...
- Usia bayi 1-2 hari, ukuran lambungnya sebesar kelereng, jadi kebutuhan/minum sekitar 5-7ml atau 1 sendok teh
- Usia bayi 3-6 hari, ukuran lambungnya sebesar biji karet (???...buah balam kali), kebutuhannya 22-27 ml
- Usia 1 minggu, ukuran lambungnya sebesar bola pingpong, kebutuhannya 45-60 ml
- Usia 1-6 bulan, ukuran lambung seperti 1 minggu, hanya saja kebutuhannya sekitar 80-150ml
- Usia 6 bulan-1 tahun, ukuran lambung seperti bola takraw dengan kebutuhan per ngASI sekitar 100-150 ml
Jadi, kalo minggu-minggu kemarin aku ninggalin 80-90 ml ASIP untuk tiap kali Utsman ngASI, masih mencukupi kebutuhannya. Alhamdulillah...
Semoga bisa lulus ASIX dan wisuda sampe S2 ASI ya Dek...Aamiin
Rabu, 11 September 2013
Induksi Alami
Kali ini saya mau share pengalaman melahirkan anak ke-3 yang membuat saya merasakan betapa nyamannya melahirkan dengan prosesi yang benar-benar normal. Dua kehamilan saya sebelumnya, walaupun proses kelahirannya normal, tapi melalui induksi kimia, karena pembukaan jalan lahir tak kunjung bertambah.
Waktu kehamilan pertama ketuban sudah pecah sejak pagi. Karena khawatir kehabisan cairan ketuban, maka DSOG merekomendasikan untuk induksi. Saya, yang belum punya pengalaman apa-apa manut saja. Saat itu, saya berpikir DSOGnya lebih tahu yang terbaik. Apalagi bidanpun sudah angkat tangan. Lalu sayapun diinjeksi dengan cairan itu, entah apa namanya. Beberapa saat, mulai terasa mulas, sakiiiittt, sakiit banget. Saya sampai merengek untuk punya satu anak saja pada suami yang waktu itu menemani. Nakes dan kakak saya yang waktu itu ada di sana cuma senyam-senyum. Selang beberapa jam, lahirlah putri pertama saya. Cantik. Rasa sakit itu seketika hilang, berganti lega dan syukur.
Waktu kehamilan kedua, saya sempat tertekan. Saat itu sudah mendekati hpl seperti yang diprediksi DSOG dan bidan saya di Batam. Beberapa kali saya sempat khawatir dengan mulas yang melanda saat malam hari. Teman-teman di asrama (waktu itu saya di Jogja) sangat perhatian, bahkan sering kali mereka mampir melongok ke kamar saya sekedar menanyakan kondisi saya. Waktu itu, saya satu-satunya warga yang berstatus ibu-ibu, sementara mereka semua masih anak-anak gadis. Melewati 2 minggu setelah hpl, saya makin resah, karena si janin tak kunjung menampakkan tanda-tanda mau keluar. Kontraksi-kontraksi saja, tapi belum juga ada tanda-tanda mau nongol. Sekalinya keluar flek dan terasa mulas sekali, saya minta suami mengantar ke RS tempat saya biasa kontrol. Sempat menginap semalam, ternyata saya malah merasa nyaman dan dedeknya juga belum keluar. Akhirnya kami pulang.
Beberapa hari berlalu hingga masuk minggu ke-45. Saya berinisiatif mengajak suami untuk mencari dokter lain. Begitu ketemu dokter yang direkomendasikan beberapa kenalan, saya diperiksa, di USG, ternyata plasentanya sudah putih-putih karena pengapuran. Walaupun kondisi janin dan air ketuban masih bagus, dokter merekomendasikan saya harus SEGERA melahirkan. Khawatir plasenta lepas sehingga membahayakan janin dan ibunya. Saya langsung masuk ke ruang penanganan dan dengan tak berdaya, saya harus menganggukkan kepala ketika solusinya (lagi-lagi) induksi. Sakitnya itu lho…
Kelahiran ke-3, berjarak 17 bulan dari yang ke-2. Waktu itu, saya sedang sibuk-sibuknya di lab menyelesaikan riset saya. Mengejar waktu supaya sebelum hpl, kerja saya sudah beres. Tapi Alloh berencana lain. Hari lahir si Adek maju 2 minggu sebelum hpl, dan kerja saya di lab masih belum rampung.
Pagi itu saya sudah melihat bercak kental ketika mandi. Saya menenangkan diri, ah paling flek saja karena saya agak lelah. Ketika berganti pakaian, tiba-tiba darah segar mengucur membasahi kaki saya. Beberapa bagian menciprat di lantai. Suami yang kebetulan duduk lesehan tak jauh dari saya kaget. Berinisiatif untuk membawa saya ke klinik. Saya tak begitu panik, tetap menyiapkan diri untuk ke lab merampungkan kerja saya.
Setelah menitipkan 2 anak kami ke tetangga, suami mengantar saya ke lab, naik motor. Melewati klinik, beliau membelokkan motornya masuk dan mau tidak mau, saya menurut. Saat diperiksa nakes, sudah pembukaan 2 dan saya tidak diijinkan untuk melanjutkan perjalanan ke kampus, karena prediksinya si bayi akan keluar dalam 6 jam ke depan. Hwaahhh…
Jadilah saya kembali menghuni kamar saya dulu, pas melahirkan si Irsyad. Kiri-kanan saya dua pasien dengan resiko tinggi dengan kondisi yang panik membuat saya nervous menjalani prosesi mulia ini. Apalagi pasien di kamar sebelah kiri terus berteriak dan menjerit-jerit, saya berusaha tenang agar tidak stress dengan banyak mengingat-Nya. Suami pulang untuk mengambil perlengkapan dan mencek kondisi anak-anak.
Hingga dhuhur, pembukaan tak bertambah, nakes menyarankan untuk induksi.
Induksi lagi??? Hwaduh…
Saya diam saja, mencari alasan untuk menunda. Akhirnya saya bilang, “Tunggu suami saya datang ya Bu.”
Suami kembali ke klinik setelah ashar. Mengurus segala sesuatunya, membawakan saya bekal kurma, zaitun, habbatussaudah dan minyak but-but. Saya ceritakan kondisi saya pada suami. Saya juga menyampaikan bahwa saya gak mau diinduksi lagi dengan cairan itu. Saya meminta suami untuk mentreatmen saya dengan induksi alami saja.
Suami setuju dan menangani saya dengan pijatan-pijatannya yang menyamankan saya plus herbal-herbalnya. Beberapa kali, nakes kembali menanyakan kesediaan saya untuk diinduksi, tapi suami minta waktu untuk menjalankan treatmen alami saja dulu. Hingga setelah sholat Isya, DSOGnya sendiri yang memeriksa saya dan akhirnya menyerahkan segala sesuatunya pada saya dan suami. Beliau mau bersabar menunggu hasil induksi alami tersebut. Alhamdulillah dapat dokter yang baik.
Jam 9-an malam, baru terasa kontraksi yang mulai sering, mulas yang menandakan bahwa si Adek tengah berjuang menuju mulut rahim. Alhamdulillah, beberapa jam kemudian Dek Umar muncul ke dunia. Tak begitu terasa sakitnya melahirkan walaupun sosoknya paling besar dibanding dengan kedua kakaknya (3500gram).
Saya baru merasakan nyamannya melahirkan kali ini. Seperti mau (maaf) BAB saja, dan setelah keluar, hanya lega yang terasa. Saya juga merasa fit dan segar setelah melahirkan. Berbeda jauh dengan waktu melahirkan yang ke-2, saya bahkan tak bisa untuk sekedar menggerakkan jempol kaki. Lemas…
Berikut ini, beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu merangsang pembukaan jalan lahir.
1. HSI (Hubungan suami-istri).
Kondisi ini dimungkinkan selama darah nifas belum keluar. Jadi kalo sudah lewat hpl tapi janinnya belum juga lahir, bisa sering-sering melakukan HSI ini. Sperma mengandung prostaglandin alami yang berfungsi melunakkan mulut rahim sehingga akan memicu kontraksi dan pembukaan leher rahim. Selain itu, saat orgasme tercapai saat berhubungan intim, hormone oksitosin juga akan terpicu keluar dan pada akhirnya akan memicu persalinan.
2. Merangsang ibu pada payudara atau tempat-tempat sensitive lainnya guna melepaskan oksitosin.
Pijatan lembut pada payudara, khususnya puting dapat merangsang produksi hormon okstosin yang akan menimbulkan kontraksi rahim. Menurut penelitian, perubahan hormon yang terjadi pada akhir kehamilan membantu rahim menjadi lebih sensitif terhadap oksitosin, yang menimbulkan kontraksi awal. Oksitosin dikenal juga sebagai hormon cinta. Kekuatan hormone ini bisa membantu ibu mendorong bayi keluar (kelahiran normal tanpa disobek sengaja di vagina ibu). Hormon cinta juga yang menimbulkan kekuatan dalam diri ibu untuk segera melihat bayinya, memeluk dan menyayangi.
3. Pijat endorphin.
Pijat endorphin merupakan teknik pijatan dengan sentuhan ringan. Teknik ini dipakai untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saat proses melahirkan. Fungsinya yang lain adalah untuk meningkatkan relaksasi dan memicu perasaan nyaman melalui permukaan kulit. Sentuhan ringan dalam teknik Endorphin Massage mencakup pemijatan sangat ringan. Dengan pemijatan ini, hormon endorfin yang dihasilkan otak dan syaraf tulang belakang bisa mengurangi nyeri kontraksi saat persalinan. Hormon endorphin, disebut opium alami, membantu ibu bebas dari rasa sakit, (orang lain melihat ibu melahirkan kesakitan karena vagina yang sempit dilewati badan bayi yang secara kasat mata sangat besar dan tidak mungkin bisa melewati lubang vagina yang kecil,belum lagi darah yang keluar). Dengan endorphin ini, rasa sakit bisa jadi tidak terasa, karena pada dasarnya rasa sakit ketika melahirkan adalah normal, tidak bisa disamakan dengan rasa sakit karena terluka lain. Riset juga telah membuktikan kalau teknik ini bisa membantu meningkatkan pelepasan hormon oksitosin yang berfungsi memfasilitasi persalinan. Untuk mulai menerapkan teknik ini, ibu dapat berbaring, dan biarkan si Ayah duduk nyaman sambil mengelus-elus permukaan tangan ibu, dari tangan hingga lengan bawah. Belaian ini akan sangat lembut karena hanya menggunakan jemari atau ujung-ujung jari saja. Setelah lima menit, minta Ayah untuk berpindah tangan. Teknik ini juga bisa dilakukan pada bagian tubuh lain seperti telapak tangan, leher, bahu, dan paha. Pada saat memijat bagian punggung, Ibu dapat berbaring dengan posisi miring. Minta si Ayah memijat ringan membentuk huruf V mulai dari leher, ke arah luar menuju sisi tulang rusuk. Terus lakukan pijatan hingga turun ke bawah dan belakang.
4. Mengonsumsi buah-buahan yang dapat membantu merangsang persalinan.
Mengonsumsi buah yang dapat membantu merangsang persalinan seperti kurma, mangga, papaya, nanas dan buah kiwi. Buah – buah ini mengandung enzim proteolitik bernama bromelin yang bisa melunakkan leher rahim. Walaupun 4 jenis buah terakhir khasiatnya belum terbukti secara ilmiah untuk membantu merangsang persalinan, tetapi dipercaya bisa membuat rileks seseorang. Kalau buah kurma, saya yakin semua setuju karena memang diperintahkan dalam al Quran kepada Bunda Maryam yang ketika itu akan melahirkan Nabi Isa alaihissalam.
Demikian, mungkin masih banyak lagi trik-trik yang dapat dipakai. Yang saya tulis based on pengalaman pribadi. Jadi Insya Allah sudah terbukti. Allahu a’lam. Tips di atas hanya sebagai ikhtiar, Allah jua yang punya skenario terbaik.
Repost
Batam 25 April 2013
Anak-anak, Lebaran dan Angpau
Apa yang paling
menyenangkan dari lebaran bagi anak-anak?
Baju baru?
Sepatu baru?
Kue-kue?
Atau… Uang Angpau?
Setidaknya, itulah yang mungkin akan terlontarkan dari mulut anak-anak pada umumnya kalau ditanya tentang lebaran.
Lebaran yang baru lalu, kukira akan ada hal yang berbeda. Tetapi tidak untuk ketiga permataku. Tak ada yang minta baju atau sepatu baru buat lebaran.
Memang kami tidak menanamkan "tradisi" itu. Yang penting bersih dan layak pakai.
So, kalau tetangga sebelah sudah pusing dengan tuntutan baju baru dan sepatu baru buat lebaran dari anak-anaknya sejak hari kedua Ramadhan, maka ketiga permataku anteng-anteng saja. Baju baru tidak harus ada saat mau lebaran, kalo ada rizqi lebih, Insya Alloh dapet baju baru dan boleh beli kapan saja, tak harus tunggu lebaran.
Baju baru?
Sepatu baru?
Kue-kue?
Atau… Uang Angpau?
Setidaknya, itulah yang mungkin akan terlontarkan dari mulut anak-anak pada umumnya kalau ditanya tentang lebaran.
Lebaran yang baru lalu, kukira akan ada hal yang berbeda. Tetapi tidak untuk ketiga permataku. Tak ada yang minta baju atau sepatu baru buat lebaran.
Memang kami tidak menanamkan "tradisi" itu. Yang penting bersih dan layak pakai.
So, kalau tetangga sebelah sudah pusing dengan tuntutan baju baru dan sepatu baru buat lebaran dari anak-anaknya sejak hari kedua Ramadhan, maka ketiga permataku anteng-anteng saja. Baju baru tidak harus ada saat mau lebaran, kalo ada rizqi lebih, Insya Alloh dapet baju baru dan boleh beli kapan saja, tak harus tunggu lebaran.
Lantas apa yang menarik dari lebaran buat mereka?Takbiran dan Sholat di lapangan. Itu yang membuat mereka bersemangat.
Mas Irsyad bahkan wanti-wanti mau pakai baju coklat yang dalam persepsinya "baju takbir" karena dulu belinya waktu mau takbiran di usia 2 tahunnya (Sekarang usianya mau 4 tahun). Padahal ada bajunya yang jauh lebih baru, dan masih fresh warnanya ketimbang baju coklat takbirnya itu, hehe.
Beberapa hari menjelang lebaran, mereka selalu bersemangat saat mendengar takbir, dan menantikan hari Ied itu tiba.
Tak ada persiapan khusus.
Hanya saja, aku yang khawatir dan was-was bakal mengecewakan mereka. Khawatir tak bisa nemani ke lapangan lantaran keburu melahirkan.
Hari Iedul Fitri tiba, dan mereka dengan semangat bangun pagi, mandi dan bersiap ke lapangan. Tak sabar sepertinya. Berhubung kondisi hamil tua, maka kami memilih sholat di lapangan kompleks saja. Si Umar bahkan dengan gagahnya melangkah sendiri meninggalkan rombongan, menuju ke lapangan masjid. Di sela-sela rintik hujan, semua tampak ceria walau tanpa baju dan sepatu baru.
Beda banget dengan anak-anak tetangga..
Alhamdulillah...
Hal kedua tentang
lebaran yang diminati anak-anak umumnya adalah uang angpau, yang akan diperoleh
dari salam tempel atau kunjungan ke rumah-rumah.
Tetangga (lagi-lagi) bahkan setengah mengeluh, kalau anak-anak di kompleks sini bahkan kadang "namu" berulang-ulang untuk mendapatkan uang saku tambahan itu.
Lagi-lagi hal berbeda kutemui pada anak-anakku.
Tetangga (lagi-lagi) bahkan setengah mengeluh, kalau anak-anak di kompleks sini bahkan kadang "namu" berulang-ulang untuk mendapatkan uang saku tambahan itu.
Lagi-lagi hal berbeda kutemui pada anak-anakku.
Lebaran tahun lalu,
mereka bahkan tak mengerti, bahwa amplop yang diselipkan oleh para tetua yang
kami kunjungi itu bakal membuat mereka mendadak kaya. Mereka terima saja
amplop itu, lalu diserahkan padaku untuk disimpan.
"Nih Mi!" Begitu ucapan Kakak dan Mas Icad, tiap kali dapat amplop.
"Nih Mi!" Begitu ucapan Kakak dan Mas Icad, tiap kali dapat amplop.
Lugu banget, hehe.
Pas sampai di rumah, ketika iseng mereka menanyakan amplop-amplopnya, mereka surprais,
"Ih, Ummi, ini ada uangnya!" begitu teriak mereka.
Dan aku cuma tertawa geli.
Pas sampai di rumah, ketika iseng mereka menanyakan amplop-amplopnya, mereka surprais,
"Ih, Ummi, ini ada uangnya!" begitu teriak mereka.
Dan aku cuma tertawa geli.
Berbeda dengan
sekarang (mereka sudah mengenal uang jajan dan sudah pandai jajan), tradisi
angpau ini sempat membuatku khawatir akan anak-anak. Aku memang tidak
begitu setuju, dengan tradisi yang menurutku
kurang mendidik karena membuat niat silaturrahmi yang tulus jadi kabur.
Khawatirnya, ketika agak besar, anak-anak hanya akan ikut berkunjung
karena mengharapkan angpaunya.
Bukan tanpa alasan.
Tak jarang, kudengar anak-anak usia SD bergerombol membicarakan tentang rumah incaran mereka yang tuan rumahnya ngasih angpau dengan nominal cukup besar.
Bahkan pernah ada komentar begini, "Wah, janganlah.. aku gak mau kalau ke rumah Pak X. Kalau ke sana, kita gak dikasih angpau, cuma salaman sama kue-kue doang."
Padahal Pak X ini adalah guru mereka.
Bukan tanpa alasan.
Tak jarang, kudengar anak-anak usia SD bergerombol membicarakan tentang rumah incaran mereka yang tuan rumahnya ngasih angpau dengan nominal cukup besar.
Bahkan pernah ada komentar begini, "Wah, janganlah.. aku gak mau kalau ke rumah Pak X. Kalau ke sana, kita gak dikasih angpau, cuma salaman sama kue-kue doang."
Padahal Pak X ini adalah guru mereka.
Alhamdulillah, si
Adek ngasih tanda akan segera hadir seusai sholat Ied.
Jadi, lebaran ini tak banyak pergi berkunjung. Lagi pula, teman-teman banyak yang pulang kampung.
Jadi, lebaran ini tak banyak pergi berkunjung. Lagi pula, teman-teman banyak yang pulang kampung.
Tapi yang namanya
rejeki, memang sudah ada jatahnya.
Walaupun gak ngider, anak-anak tetap dapat uang angpau dengan jumlah yang lumayan. Ketika ditanya, untuk apa uangnya, mereka menjawab, “Yang keras uangnya buat naik haji, yang lembut buat beli jajan.”
Walaupun gak ngider, anak-anak tetap dapat uang angpau dengan jumlah yang lumayan. Ketika ditanya, untuk apa uangnya, mereka menjawab, “Yang keras uangnya buat naik haji, yang lembut buat beli jajan.”
Maasya Allah... kepikirannya malah buat naik haji…
Sama sekali tak terpikirkan olehku sebelumnya jawaban seperti itu.
Kukira mereka akan menagih janji beli mainan, sepeda, baju atau lain-lainnya yang sebelumnya pernah mereka utarakan.
Akhirnya, sebagai orang tua yang baik, demi melaksanakan amanat, menyalurkan aspirasi dan memfasilitasi cita-cita mereka, tanggal 14 Agustus itu, Abinya menemani Irsyad sebagai perwakilan mereka, membuka rekening di salah satu bank syariah untuk menitipkan tabungan haji mereka.
Barokallohufiikum
Semoga Alloh sampaikan hajat dan cita-cita kalian untuk berkunjung ke rumah-Nya. Aaamiin
Sama sekali tak terpikirkan olehku sebelumnya jawaban seperti itu.
Kukira mereka akan menagih janji beli mainan, sepeda, baju atau lain-lainnya yang sebelumnya pernah mereka utarakan.
Akhirnya, sebagai orang tua yang baik, demi melaksanakan amanat, menyalurkan aspirasi dan memfasilitasi cita-cita mereka, tanggal 14 Agustus itu, Abinya menemani Irsyad sebagai perwakilan mereka, membuka rekening di salah satu bank syariah untuk menitipkan tabungan haji mereka.
Barokallohufiikum
Semoga Alloh sampaikan hajat dan cita-cita kalian untuk berkunjung ke rumah-Nya. Aaamiin
Langganan:
Postingan (Atom)
