Senin, 22 Januari 2018

Napak Tilas 2017

Tahun 2017 lalu buat saya adalah tahun yang sangat dimanis eh dinamis. Mengapa? Yup, karena di tahun ini, saya si ibu beranak 4 yang biasanya sangat penuh pertimbangan untuk urusan pergi-pergi akhirnya harus mengunjungi banyak kota karena berbagai urusan. Hmm.. Tepatnya menunaikan hajat hidup, hehe..
Jika dikalkulasi, dan dimulai dari Batam Kepri sebagai titik start dimana kami dulu berdomisili, maka pada tahun 2017 saya telah mengunjungi 1 negara, 7 propinsi dan 12 kota di Indonesia.
Kemana saja kunjungan itu? Simak.


1. Malaysia


Menara Kembar, Kuala Lumpur
 Paspor saya akhirnya pecah telor di akhir Januari 2017. Kunjungan ke Malaysia, khususnya ke Gombak Selangor, tempat dimana saya akan menempuh studi doktoral saya. Tepatnya di International Islamic University Malaysia. Saat itu, saya ditemani suami dan si bungsu Utsman. Kami memulai perjalanan dengan sepeda motor ke Harbour Bay Batam Centre, menumpang kapal ferry menuju pelabuhan Stulang Laut di Johor Bahru, dilanjutkan dengan taksi ke Terminal TBS. Qodarulloh, lupa kalau saat itu beririsan dengan hari Imlek. Di terminal, orang tumpah ruah dan harga tiket bus melonjak... Haha, jadi ingat lebaran di Indonesia. Orang-orang Cina pada mudik rupanya. demikian juga para perantau.

Dari TBS, kami naik bus ke KL Central. Di sini kami menyempatkan istirahat di bangku-bangku panjang yang ada di sekitar masjid terminal, sambil menunggu subuh datang. Setelah sholat subuh, kami menuju loket dan membayar tiket LRT untuk menuju stasiun Gombak. Harga tiketnya RM 4.2.
Murah banget.

Ini pengalaman pertama kali aku dan Utsman naik LRT. Kalo suami, sudah pernah sebelumnya ketika menguruskan registrasiku. Utsman excited banget. Hingga akhirnya, sampailah kami pagi itu di stasiun LRT Gombak. Dari sana, kami naik bus ke kampusku, IIUM. Harga tiketnya 1 RM.
Suatu sudut di IIUM

Kami hanya 2 hari di sini. Malamnya, kami menginap di rumah kenalan suami di Taman Harmonis. Alhamdulillah, nambah saudara. Hari ke-3 kami kembali ke Batam, menempuh jalur yang sama. hanya saja dengan arah terbalik.
Setelah kunjungan ini, beberapa kali lagi saya mengunjung Gombak dan stay di mahallah selama masa studi semester 1 dan 2.

2. Pekanbaru, Provinsi Riau

Bulan Maret awal, saya berkunjung ke  Pekanbaru. Kunjungan saya ke sini sebetulnya tidak direncanakan khusus, tetapi dalam rangka transit menuju KL. 
Bandara Sultan Syarif Kasim II (infopenerbangan.com)

Dalam kesempatan ini, saya memanfaatkannya untuk silaturrahim dengan sahabat saya, Te Ja. Dia menemani saya dalam beberapa jam selama transit, dan kami berbincang banyak hal.
Sebelumnya, sebetulnya ada satu kunjungan yang mengharuskan saya pergi ke Pekanbaru. Yaitu kunjungan ke Konjen Malaysia di Pekanbaru  untuk pengurusan Visa Pelajar saya. Namun, suami memaksakan diri untuk membantu menguruskannya dengan beberapa pertimbangan. Akhirnya suami yang berangkat. 

3. Yogyakarta, Provinsi DIY

Masjid Kampus UGM
Ini tempat yang selalu saya rindukan. Kampung kedua bagi kami, karena sebagian episode rumah tangga kami pernah dilalui di kota ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami memilih Yogyakarta sebagai tempat transit dan mencari bekal untuk masa depan. Jadilah, akhirnya kami mengontrak rumah di Sleman sebagai homebase. Tepatnya di Dukuh Sekarsuli.
Kunjungan pertama saya di tahun 2017 adalah pada akhir Mei. Berjumpa kembali dengan beberapa sahabat dan teman lama serta tetangga, suatu hal yang menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi karena banyak spot wisata di Yogyakarta yang menarik. 
Monumen Jogja Kembali alias Monjali

View di Dukuh Sekarsuli

Wisata Lava Bantal, Berbah Sleman
Taman Pintar Yogyakarta

Tinggal pilih mau ke mana pergi. Mau wisata kuliner, wisata sejarah, wisata budaya, wisata edukasi dan tempat nongkrong asyik lainnya, banyaaak...

4. Rembang, Propinsi Jawa Tengah

Ini rumah ketiga. Kunjungan ke sini dalam rangka silaturahmi dengan keluarga besar suami. Yup, ini kota tempat suami dilahirkan dan dibesarkan. Kota yang relatif tenang di pesisir utara Pulau jawa.
Deretan perahu nelayan di Watu Layar, Rembang

Ada beberapa objek wisata di sekitar kota Rembang seperti pantai Kartini, hutan lindung dan makam Kartini, alun-alun dan pantai Karang Jahe.
Asyik main air di Karang Jahe Beach
Pantai yang saya sebut terakhir ini sedang berkembang dan cukup representatif untuk dikunjungi bersama keluarga.

5. Malang, Propinsi Jawa Timur 

Kami berangkat dari Rembang dengan menelusuri jalur pantura. Kunjungan ke Malang, kami buat dalam rangka silaturrahmi dengan kakak ke-2. 
Kapan ya terakhir jumpa? Ehm... di tahun 2012 sebelum kami pulang ke Batam. Waktu pamit pulang ke Batam, kakak dan keluarganya masih tinggal di Sidoarjo.

Silaturahmi ini sangat berkesan, terutama bagi anak-anak yang akhirnya ketemu saudara-saudara sepupunya yang selama ini hanya dilihat dan didengar dengan bantuan teknologi, hehe. 

Alun alun Kota Batu

Utsman lagi metik jeruk 


Saat di Malang, kami sempatkan mengunjungi Balitjestro dan alun-alun kota Malang yang bikin anak-anak heboh.Wisata kebun jeruk yang tengah panen... Berasa kebon sendiri euy, haha...

6. Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Pulang dari Malang, kami menyempatkan diri singgah di Lamongan. Kota yang tenang dan teduh. Sebetulnya, awalnya gak niat mampir. Tapi gara-gara salah masuk tol, karena papan penunjuk arah tak terlihat (tertutup badan truk gandeng), kami ambil jalur yang keliru. Qodarulloh, dari sana malah jebul ke jalur tengah dan melintas di tengah kota Lamongan.
Masjid Agung Lamongan (blogsantridrajat.com)
Akhirnya mengontak seorang teman lama mbak Eviek Latifah yang tinggal disana dan meet up di sebuah musholla dekat alun-alun.  Sebetulnya mau ke masjid, tapi sedang renovasi. Lanjut makan siang dan silaturrahim dengan orang tuanya. Kunjungan ini pun seperti sebuah anugerah. Bayangkan, 10 tahun tak jumpa, haha. Makasih mbak Eviek atas jamuannya.
Perjalanan dilanjutkan kembali ke Rembang, dan istirahat selama beberapa hari.

7. Tegal, Provinsi Jawa Tengah

Kota Tegal (infotegal.com)
Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan menyambangi kakak ke satu yang tinggal di Tegal. Menelusuri jalur Pantura juga, namun ke arah barat. Ini silaturrahmi setelah 7 tahun. Terakhir mampir rumahnya ketika baru punya anak dua. beberapa kali lewat melintas, tapi karena naik bus, jadi belum menyempatkan mampir silaturrahim.
Perjalanan ini cukup menegangkan, karena si Merah ngadat beberapa kali dan Qodarulloh, setelah sampai di rumah kakak, mesin mati. Akhirnya, dua hari dihabiskan di rumah saja sambil nyari tukang bengkel yang bisa memperbaiki si Merah. Setelah oke, di hari ketiga langsung cuusss ke Yogya, home base kami sekeluarga saat ini.

8. Palembang, Provinsi Sumatera Selatan

Jembatan Ampera (poskotanews.com)
This is my hometown. Kunjungan ke Palembang tidak untuk tujuan mengeksplor kotanya. Saat itu cuma numpang lewat untuk menuju rumah ortuku tersayang di sebuah desa, Talang Balai Baru. Kunjungan ini, selain untuk silaturahmi, juga diniatkan sebagai kunjungan bakti. Qodarulloh, Bulan Agustus itu, bapak harus menginap di rumah sakit. Akhirnya janjian dengan adik Real untuk pulang. berrgantian dengan adik-adik merawat Pak dan Mak yang tengah menjalani hari-hari tuanya, dalam kondisi yang sudah jauh menurun.
Dua kali kota ini ku kunjungi. Kunjungan kedua ke Palembang adalah di akhir September, saat menerima kabar duka bahwa Bapak telah berpulang. Allahummaghfirlahu warhamhu.

9. Bandung, Provinsi Jawa Barat

Akhir bulan Oktober, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Bandung. Ini kunjungan ke-4 ke Bandung setelah 10 tahun yang lalu, haha..
Masjid Salman ITB (newsokezone.com)
Kesempatan menimba dan berbagi ilmu di event Adiwidya5 yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarjana ITB. Acaranya di adakan di Aula Timur ITB, tidak jauh dari masjid Salman. 
Rencananya akan ditemani adek Real juga, tetapi karena dia mendadak sakit, jadi pergi sendiri menumpang kereta. Sempat juga meet up dengan Mbak Desy, teman sekelas waktu di FKIP Unrika Batam. Beliau yang nyamperin di stasiun Bandung dan anak-anak dibawain oleh-oleh Bagelen dan brownies coklat yang nyammi...
Jazakillah khoyr Mbak Desy

10. Solo, Provinsi Jawa Tengah

Dua kali menyambangi kota Solo di tahun 2017. Yang pertama saat mengurus berkas pendaftaran mahasiswa baru di UMS bersama suami dan anak-anak. Tetapi kemudian, pak suami gak jadi ambil kuliah di sana karena berbagai pertimbangan.
Kunjungan kedua adalah sepulang dari Bandung pada Bulan November. Ini kunjungan main-main saja, karena si bungsu kangen pengen naik kereta. Jadilah kami numpak Prameks Jogja-Solo dengan harga tiket yang murah meriah... 8 ribu saja, Bo'! Murahkaaan? 
Stasiun Balapan (keretaapikita.com)

Start dari Stasiun Maguwo Yogya dan turun di Stasiun Balapan Solo. Main-main seputaran stasiun sambil menikmati sate kuda, nyenengke bocah..


11. Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Ikon kota Klaten
Kunjungan ke Klaten masih dalam rangka Idul Fitri. Silaturahmi dengan keluarga Pak Suheryanto, dosen saya masa kuliah di Unsri, sekaligus mitra penelitian waktu di Unrika. Sudah kayak bapak sendiri jadinya.  Anak-anak sangat senang, karena sambutan dan keramahan keluarga beliau dan dapat teman baru di sana, ponakannya si Bapak.

12. Jakarta, Provinsi  DKI

Sempat juga menjejakkan kaki di Jakarta, walaupun gak ada keperluan khusus. Aslinya sih cuma transit saja, karena kebetulan harus tukar pesawat dan juga pindah ke terminal khusus untuk penerbangan internasional. 
Bandara International Sukarno Hatta, Jakarta
Ah, sebetulnya, ada undangan untuk menjejak kesini juga sih. Kegiatan seminar hasil penelitian yang dikelola Ristekdikti. Tapi karena waktu yang berdempetan dengan kegiatan lain, akhirnya ku amanahkan ke teman satu tim.

Sempat juga menjejak sebentar di beberapa kota lain seperti Demak, Kulon Progo, Grobogan, Salatiga, Semarang, Blora dan Boyolali... Tapi karena tidak ada keperluan khusus dan durasinya singkat, jadi gak aku tuliskan. Urusannya kalo gak sholat, makan, beli bekal atau bensin, hehe..


Mudah-mudahan tahun 2018 ini, ada kesempatan untuk mengeksplor lebih banyak kota-kota lainnya. Aamiin.





Sabtu, 20 Januari 2018

Di Balik ThRU Awards2017

Alhamdulillah, akhirnya berkesempatan menggoreskan sebuah kisah bahagia di awal tahun ini.

Awal Januari lalu, akhirnya bisa juga berpartisipasi dalam sebuah event penulisan dengan tema INSPIRASI BUNDA ADALAH CINTA yang digelar oleh The Real Ummi. 
Sebetulnya, awalnya mau ikut lomba foto. Hanya saja terpaksa batal karena semasa mudik ke Yogyakarta, itu smartphone mendadak mogok gak mau nyala. Seminggu nginap di tempat servis juga tidak membaik. 
Akhirnya, ketika harus balik ke Gombak lebih awal, terpaksa membawa phone milik suami. Bertukar-tukar kartu dan terpaksa menginstal ulang Whatsapp karena kebanyakan urusan kampus de el el diinfokan via grup WA.

Sebetulnya, artikel itu tidak diniatkan untuk event ThRU Awards, karena sebelumnya ada event serupa yang digelar oleh Kemuslimahan FISIP UGM. Qodarullah gak bisa ikut, karena infonya ada di hape yg mogok itu. Akhirnya dikirim juga untuk event ThRU. Selain untuk sharing, sekalian menunaikan "hutang" karena belum-belum sempat juga nulis naskah di websitenya The Real Ummi.

Suatu hari...
Muncullah nama-nama pemenang di grup WA ThRU Family. Daaann... Surprais!! Naskahku menjadi artikel terpilih. 
Sebetulnya isinya tentang keseharian saja... Keseharian bagaimana mengasuh anak-anak ketika mereka berada pada fase emasnya.
Intinya, bagaimana tetap bahagia dengan seabreg-abreg tugas sebagai ibu berbalita. Insya Allah tak ada rasa jumawa, karena pasti banyak ibu-ibu lain yang lebih baik dalam melakukan tugas pengasuhan mereka. Hanya saja, saya ingin bilang, "Ini loh pengasuhan balita versi saya"

Kalau mau tahu artikel lengkapnya, silakan baca Bahagia dengan Empat Balita Solih Solihah 

Nah, kabar gembira lainnya adalah sore tadi. Menerima berita dan bukti foto kalau hadiahnya sudah sampai di rumah. Alhamdulillah...


Sebelumnya, anak-anak beberapa kali menanyakan tentang hadiah itu. Bersyukurnya, hadiahnya memang pas buat anak-anak yaitu paket dari Afra Kids berupa baju, tas, botol minum dan tempat bekal.

Saya sudah membayangkan keramaian dan cerianya 4 anak itu ketika menerima bingkisan dari ThRU. Dan ternyata benar saja... Lihatlah ekspresi mereka..



Gombak, 201018
Kangen Bocahs

Jumat, 08 Desember 2017

Isu dan Fakta tentang Gelatin (4)

Bagian ini merupakan seri terakhir dari pembahasan tentang gelatin.
Di sini kita akan mengulas tentang metode dan alat deteksi gelatin.
Bagian sebelumnya tentang gelatin dapat dibaca di sinidi sini dan di sini.

Sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya, setiap produk yang mengandung turunan babi tidak diizinkan untuk dikonsumsi oleh umat Islam. Oleh karena itu, keberadaan instrumen untuk mendeteksi gelatin babi mutlak diperlukan, sehingga dapat digunakan untuk menentukan status kehalalan suatu produk. Saat ini, pengembangan metode untuk deteksi dan karakterisasi gelatin babi telah dan masih terus dilakukan.

Beberapa teknik/metode yang telah digunakan untuk mendeteksi gelatin babi adalah sebagai berikut:
1. Metode Spektroskopi
Metode spektroskopi yang digunakan untuk deteksi gelatin meliputi spektroskopi massa (MS) dan spektroskopi infra merah (FTIR, ATIR). Penggunaan FTIR untuk deteksi dan karakterisasi gelatin telah dilaporkan oleh beberapa peneliti (Cebi, Durak, Toker, Sagdic, & Arici, 2016; Kusumastuti et al., 2014; Hermanto, Sumarlin, & Fatimah, 2013). FTIR spectroscopy adalah teknik yang digunakan untuk menentukan fitur kualitatif dan kuantitatif dari molekul infrared aktif dari sampel padatan organik maupun inorganik, cairan atau gas. FTIR spectroscopy dapat digunakan untuk menganalisis berbagai bahan pangan seperti lemak hewani, coklat, kue serta biskuit untuk mendeteksi adanya bahan tidak halal berupa lemak babi (Muniroh, L, 2014). Grundy et al. (2016) menggunakan spektroskopi massa untuk autentikasi komersial gelatin sedangkan Zhang et al. (2009) menggunakan HPLC yang dikombinasikan dengan spektrometri massa untuk membedakan gelatin sapi dengan babi.

2. Metode berbasis protein
Metode berbasis protein meliputi elektroforesis dan ELISA.
Teknik elektroforesis untuk deteksi gelatin babi telah dilaporkan oleh Hermanto et al. (2013). Elektroforesis merupakan teknik pemisahan kimia yang didasarkan pada perbedaan muatan listrik dari senyawa-senyawa yang akan dipisahkan. Teknik ini umum digunakan untuk pemisahan asam-asam amino.
Azira et al. (2016) menggunakan teknik enzyme linked immune-sorbent assay (ELISA) untuk deteksi gelatin pada sampel sarang burung wallet. Teknik ini didasarkan pada reaksi antara antigen dan antibody dalam teknik ELISA yang dapat membantu menemukan bahan spesifik dari suatu protein babi. Teknik ELISA menggunakan antibody untuk mengisolasi komponen target yang dikombinasikan dengan radiokativitas atau perubahan warna berdasarkan enzim untuk menentukan jumlah senyawa dalam sampel.

3. Metode berbasis DNA
Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan metode yang didasarkan pada deteksi molekul DNA. PCR dapat digunakan dalam produk mentah dan dimasak dan tidak terrpengaruh oleh proses pemanasan karena DNA tetap utuh dan stabil dengan pemanasan. Menurut Sepminarti, Wardani, & Rohman (2016), PCR merupakan suatu teknik yang ideal untuk deteksi turunan babi ditinjau dari sisi sensitifitas dan spesifisitasnya. Metode PCR untuk deteksi gelatin babi telah dilaporkan oleh Demirhan et al. (2012), Ali, Razzak, Bee, & Hamid (2014), Shabani et al. (2015) dan Sepminarti (2016). Teknik PCR merupakan teknik yang popular karena dapat mendeteksi DNA sapi dan babi dalam campuran gelatin, gelatin dalam produk pangan dan dalam cangkang kapsul (Shabani et al., 2015).

Berikut ini fitur beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi gelatin.
Instrumen GC-MS

Instrumen FT-IR Spectroscopy


Namun metode-metode tersebut memerlukan instrumen yang canggih, tenaga dengan keahlian khusus, biaya yang relatif mahal dan harus dilakukan di laboratorium. Oleh karena itu, instrumen deteksi halal yang cepat namun akurat, murah, portable dan dapat dilakukan oleh siapa saja tetap perlu untuk dikembangkan.




Referensi


[1]   Ali, E., Razzak, A., Bee, S., & Hamid, A. (2014). Multiplex PCR in Species Authentication : Probability and Prospects — A Review, 1933–1949. https://doi.org/10.1007/s12161-014-9844-4
[2]   Cebi, N., Durak, M. Z., Toker, O. S., Sagdic, O., & Arici, M. (2016). An Evaluation of Fourier Transforms Infrared Spectroscopy Method for the Classification and Discrimination of Bovine, Porcine and Fish Gelatins. Food Chemistry, 190, 1109–1115. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2015.06.065
[3]  Grundy, H. H., Reece, P., Buckley, M., Solazzo, C. M., Dowle, A. A., Ashford, D., … Collins, M. J. (2016). A mass spectrometry method for the determination of the species of origin of gelatine in foods and pharmaceutical products. Food Chemistry, 190, 276–284.
[4]   Hermanto, S., Sumarlin, L. O., & Fatimah, W. (2013). Differentiation of bovine and porcine gelatin based on spectroscopic and electrophoretic analysis. Journal of Food and Pharmaceutical Sciences, 1(3), 68–73.
[5]   Kusumaningsih, T., Suryanti, A., & Rahmat, B. (2014). Karakterisasi gelatin tulang sapi dan tulang babi. Prosiding Seminar Nasional Nutrisi, Keamanan Pangan dan Produk Halal. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
[6]   Muniroh, L. (2014). Kajian Pengembangan alat portable deteksi sederhana keamanan pangan dan kehalalan produk makanan. Prosiding Seminar Nasional Nutrisi, Keamanan Pangan dan Produk Halal. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
[7]   Sarbon, N. M., Badii, F., & Howell, N. K. (2013). Food Hydrocolloids Preparation and characterisation of chicken skin gelatin as an alternative to mammalian gelatin. Food Hydrocolloids, 30(1), 143–151. https://doi.org/10.1016/j.foodhyd.2012.05.009
[8]    Sepminarti, T., Wardani, H. S., & Rohman, A. (2016). Real-Time Polymerase Chain Reaction for Halal Authentication of Gelatin in Soft Candy. Asian Journal of Biochemistry, 11(1), 34–43. https://doi.org/10.3923/ajb.2016.34.43
[9]    Shabani, H., Mehdizadeh, M., Mousavi, S. M., Dezfouli, E. A., Solgi, T., Khodaverdi, M., … Alebouyeh, M. (2015). Halal authenticity of gelatin using species-specific PCR. Food Chemistry, 184, 203–206. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2015.02.140
[10]  Zhang, G., Liu, T., Wang, Q., Chen, L., Lei, J., Luo, J., … Su, Z. (2009). Mass spectrometric detection of marker peptides in tryptic digests of gelatin: A new method to differentiate between bovine and porcine gelatin. Food Hydrocolloids, 23(7), 2001–2007. https://doi.org/10.1016/j.foodhyd.2009.03.010 

Kamis, 07 Desember 2017

Isu dan Fakta tentang Gelatin (3)

Tulisan ini bagian dari paper saya yang diikutkan di lomba paper pada acara CFP Adiwidya 5 Kamil Pasca ITB Oktober lalu. Ceritanya serunya bisa dibaca di sini.
Jadi tulisan kali ini bahasanya agak sedikit ilmiah, dan menyertakan referensi dari beberapa jurnal yang disitasi.
Sebelumnya, paparan tentang gelatin bisa dibaca di sini dan di sini.

Gelatin merupakan suatu hidrokoloid penting yang banyak digunakan dalam industri pangan, farmasetik dan kosmetik.  Sifat unik dari gelatin terutama karena kemampuannya untuk membentuk gel yang termo-reversibel, dapat meleleh pada temperatur yang sangat dekat dengan temperatur tubuh, dan larut dalam air (Sarbon, Badii, & Howell, 2013). Penggunaan gelatin pada makanan, fotografi, kosmetik dan produk farmasi sebagian besar didasarkan pada sifat pembentuk gelnya. Namun, saat ini, gelatin telah digunakan juga  sebagai pengemulsi, bahan pembusa, stabilisator koloid, bahan pembentuk film biodegradable, agen pengkapsul mikro, dan juga sumber peptida bioaktif (Go'mez, 2011).


Kualitas gelatin tergantung pada sifat fisiko-kimianya.  Sifat kimia gelatin dipengaruhi oleh komposisi asam amino, yang serupa dengan kolagen induk, sehingga dipengaruhi oleh spesies hewan dan tipe jaringan (Karim & Bhat, 2009) serta metode pemrosesannya (Sarbon et al., 2013)

Gelatin dihasilkan dari hidrolisis parsial kolagen, suatu jenis protein yang banyak dijumpai pada jaringan ikat mamalia. Menurut Tronci (2010), kolagen merupakan protein yang paling besar kelimpahannya pada matriks ekstra seluler, yang dijumpai pada tendon, ligamen dan jaringan penghubung pada kulit, pembuluh darah dan paru-paru. Proses hidrolisis gelatin dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu hidrolisis asam dan hidrolisis basa yang menghasilkan gelatin tipe A atau dengan hidrolisis basa yang menghasilkan gelatin tipe B. Proses asam lebih menguntungkan karena waktu perendaman yang lebih singkat dan biaya lebih murah (Kusumaningsih et al., 2014).

Komposisi dan urutan asam amino dalam gelatin berbeda dari suatu sumber ke sumber lainnya, tetapi selalu terdiri dari sejumlah besar glisin, prolin dan hidroksiprolin. Pola ini diulang dengan urutan khas, Gly-X-Y dimana glisin adalah asam amino paling banyak kelimpahannya dalam gelatin; X dan Y sebagian besar adalah prolin dan hidroksiprolin (Hafidz & Yaakob, 2011). Tabel di bawah ini menunjukkan komposisi asam amino dalam gelatin.

Asam amino
Gelatin sapi*
Gelatin babi*
Gelatin ikan**
Alanin
33
80
12.10
Valin
10
26
2.50
leusin
12
29
2.30
Isoleusin
7
12
1.24
Phenylalanin
10
27
1.82
Menthionin
4
10
1.82
Prolin
63
151
14.32
Glisin
108
239
26.44
Serin
15
35
3.59
Threonin
10
26
3.57
Tyrosin
2
7
0.40
Asam aspartiat
17
41
6.29
Asam Glutamat
34
83
11.14
Lysin
11
27
2.51
Arginin
47
111
9.84
Histidin
-
-
0.11

Sumber: *Hafidz & Yaakob, 2011; **Monsur, Jaswir, Salleh, & Alkahtani, 2014


Keberadaan instrumen laboratorium untuk mendeteksi gelatin babi mutlak diperlukan, sehingga dapat digunakan untuk menentukan status kehalalan suatu produk. Pengembangan metode untuk deteksi dan karakterisasi gelatin babi telah dan masih terus dilakukan. Beberapa metode deteksi dan autentikasi gelatin yang telah digunakan adalah Spektroskopi (ATIR, FTIR), kromatografi (GC-MS, LC-MS, HPLC), elektroforesis, metode berbasis DNA (PCR) dan metode berbasis enzim (Enzyme linked immuno-sorbent assay, ELISA). Namun metode-metode tersebut memerlukan instrumen yang canggih, tenaga dengan keahlian khusus, biaya yang relatif mahal dan harus dilakukan di laboratorium. Apa dan bagaimana metode tersebut bekerja bisa dibaca di sini.

Referensi 
Hafidz, R., & Yaakob, C. (2011). Chemical and functional properties of bovine and porcine skin gelatin. International Food Research Journal, 817, 813–817. Retrieved from http://ifrj.upm.edu.my/18 (02) 2011/(48) IFRJ-2010-159.pdf
Monsur, H. A., Jaswir, I., Salleh, H. M., & Alkahtani, H. A. (2014). Effect of pretreatment on properties of gelatin from Perch (Lates nicotilus) skin. International Journal of Food Properties, 17, 1224–1236.
Karim, A. A., & Bhat, R. (2009). Fish gelatin: properties, challenges, and prospects as an alternative to mammalian gelatins. Food Hydrocolloids, 23(3), 563–576. https://doi.org/10.1016/j.foodhyd.2008.07.002
Kusumaningsih, T., Suryanti, A., & Rahmat, B. (2014). Karakterisasi gelatin tulang sapi dan tulang babi. Prosiding Seminar Nasional Nutrisi, Keamanan Pangan dan Produk Halal. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Sarbon, N. M., Badii, F., & Howell, N. K. (2013). Food Hydrocolloids Preparation and characterisation of chicken skin gelatin as an alternative to mammalian gelatin. Food Hydrocolloids, 30(1), 143–151. https://doi.org/10.1016/j.foodhyd.2012.05.009
Tronci, G. (2010). Synthesis , Characterization , and Biological Evaluation of Gelatin-based Scaffolds Dissertation.

Sabtu, 25 November 2017

Isu dan Fakta tentang Gelatin (2)

Postingan kali ini melanjutkan pembahasan tentang gelatin yang sebelumnya sudah saya tulis yaitu tentang gelatin dan manfaatnya.
Silakan buka lagi di sini

Di postingan ini, saya mau cerita isu dan fakta tentang gelatin.
Siap? Simak yaa...

Apa yang menjadi isu dari gelatin?
Ada yang tahu?
Tepat! Isunya adalah pada kehalalan gelatin.

Sebagai mana kita ketahui bersama, di dunia ini ada 2 kelompok protein. Ada protein hewani yang berasal dari hewan, ada yang berasal dari tumbuhan yang disebut protein nabati.

Nah, gelatin ini seperti sudah disampaikan sebelumnya berasal dari jaringan ikat hewan.  Karena gelatin ini hanya bisa dihasilkan dari hewan, maka sumber utamanya adalah hewan mamalia atau hewan yang menyusui. Jadi, sumber yang umum adalah tulang dan kulit sapi dan babi.
Bahaya kan? Apalagi buat kita yang muslim yang dilarang makan derivat atau turunan babi.

Menurut sebuah riset di tahun 2009, 46% dari gelatin yang diproduksi di dunia berasal dari kulit babi, 29,4% dari kulit sapi, 23,1%  dari tulang sapi dan hanya 1,5% dari sumber lain.
Nah, kalaupun  dia bersumber dari sapi, perlu juga diketahui apakah sapi yang digunakan itu disembelih sesuai syariat Islam, atau tidak. Begitu juga jika digunakan kambing atau ayam.

Beberapa waktu lalu, secara tak sengaja saya membuka buku manual tahunan BPS tentang import daan perdagangan Indonesia tahun 2016. Waktu itu saya iseng saja. Namun iseng itu kemudian berubah menjadi rasa ingin tahu ketika saya menemui hal-hal yang menarik tentang impor gelatin dan limbah rambut manusia di tahun 2016.

Jadi di buku itu dilaporkan bahwa impor gelatin kapsul untuk produk farmasetik Indonesia adalah sebesar 71.521 kg atau 71.5 ton denggan nilai 1.683.129 US$. Terus, impor pasta berbasis gelatin adalah sebanyak 809,456 kg atau 809,5 ton dengan nilai 4.596.202 US$. Selanjutnya, impor turunan gelatin sebanyak 100 kg dengan nilai 900 US$ dan pasta dengan basis gelatin yang ready to use sebanyak 600kg dengan nilai 900US$.

Data tersebut, adalah rekapan sepanjang 2016 hingga bulan Oktober.
Jadi total impor gelatin dan produk berbasis gelatin ini adalah sebanyak 881,7 ton.
Itu impor loh yaaa.
Dan impornya itu notabene dari negara kafir, yang kita taulah, sangat mungkin tidak menerapkan sistem penyembelihan yang sesuai syariat jika menyembelih sapi, atau bahkan sumber tulang dan kulitnya adalah berbahan babi.
Na'udzubillah... Ngeri..


Lantas kita bisa apa?
Sebisa mungkin, kita mengecek kehalalan produk-produk yang melibatkan gelatin di dalamnya. Cek ingredient atau komposisi produk yang dibeli.

Sebetulnya,  saat ini beberapa (banyak sih) penelitian juga telah mengembangkan gelatin dari berbagai hewan, seperti kulit dan tulang kambing, kulit, tulang dan ceker ayam, dari ikan bahkan dari serangga. Bahkan, Prof. Irwandi Jaswir, seorang Profesor yang menekuni halal industri asal Indonesia, namun kerja di Malaysia (Sst.. ini mah dosen di kampus saya, Inhart), telah mengembangkan gelatin halal dari unta. Proyek ini bekerjasama dgn Arab Saudi. Kan di Arab berlimpah-limpah tuh unta yang disembelih tiap ada umroh atau haji.

Namun, dengan berat hati saya juga mesti menyampaikan bahwa sifat fisiko-kimia dari gelatin-gelatin (selain babi) ini masih tetap belum bisa menyamai sifat gelatin babi. Lagi pula, harganya masih lebih tinggi dari gelatin babi.  Sementara, produsen mestilah memilih gelatin yang BAGUS dan MURAH demi kualitas dan menekan cost produksi.

Nah, ada lagi orang yang mengatakan, gelatin halal dari tumbuhan ada. 
Disini saya ingin meluruskan ya, bahwa sejauh ini belum ditemukan tumbuhan yang mensintesis kolagen. Produk tumbuhan yang digunakan untuk penstabil atau pengental sejauh ini adalah sejenis agar-agar yang dikenal sebagai karagenan yang berasal dari rumput laut. Dulu juga biasanya orang bikin es krim dengan menambahkan CMC (karboksi metil selulosa), sejenis tepung yang menyerupai kanji atau menggunakan tepung maizena.

Jadi, gelatin ini, hingga kini masih tetap merupakan kontroversi di industri pangan, farmasi dan kosmetik. Maka sepatutnya, kita semua berhati-hati, agar tidak sampai mengonsumsi gelatin yang tidak halal.

Gombak, 251117

Di balik CFP Adiwidya Kamil Pasca ITB


Di postingan sebelumnya, aku sudah pernah menceritakan tentang CFP Adiwidya Kamil Pasca ITB. Lihat disini


Naah, di postingan ini, aku mau cerita keseruan dan kisah sedih di balik kegiatanku mengikuti even itu.

Awalnya sih gak terlalu minat. Tapi karena penasaran pengen nyoba yah sudah akhirnya memaksakan diri.
Oke, bersiap nulis abstrak dulu. Karena memang peserta harus mengirimkan abstrak untuk seleksi awal.

Kebayang gak sih, menulis abstrak sementara papernya sendiri masih di awang-awang? Hehe... Swuussyaah..
Kata temanku, ini abstrak yang benar-benar abstrak.
Iyya, karena abstrak itu sebetulnya intisari dari tulisan yang memuat latar belakang, masalah, metode dan kesimpulan.
Lah, ini tulisannya belum dibuat, tapi sudah kudu setor abstraknya.
Gak papa lah, aku menyemangati diri. Bismillah saja.
Nulis.

Karena memang tipe penulis moody, yang adrenalinnya keluar dan otaknya bisa bekerja dalam kondisi deadline dan underpressure, abstrak itu baru selesai beberapa hari saja menjelang deadline pengiriman abstrak ditutup. Apalagi, saat itu kejar tayang sama revisi naskah untuk ICICS 6 di Palembang plus paper presentation-nya.
Tapi syukurnya, sempat minta tolong direview oleh seorang kolega yang juga bertugas sebagai auditor halal di LPPOM MUI Palembang.

29 September akhirnya abstrak itu selesai.
Sore itu dikirim dan menerima konfirmasi bahwa pengumuman akan keluar seminggu kedepannya.
Ternyata, petang itu juga dikabari bahwa bapak kritis.
Galau, pengen pulang tapi belum lama juga balik ke asrama.
Dalam kesedihan terdalam hanya bisa mengirim doa sebanyak-banyaknya untuk Pak tercinta, untuk kesembuhan dan untuk keputusan yang terbaik menurut Allah.

Hari itu Jumat, dan sore itu adalah waktu diijabahnya doa-doa.
Selepas maghrib, aku turun ke kantin dan akhirnya menerima kabar bahwa Pak sudah berpulang.
Innalillahi wainna ilaihi roojiúun.
Berupaya menguatkan hati, dan meminta bantuan teman untuk memesan tiket pulang.

Malam itu juga berangkat menuju KLIA. Paginya sudah sampai di Palembang dan langsung menuju rumah Pak di Talang Balai. Alhamdulillah masih bertemu dengan jenazahnya, menciumnya dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.

Beberapa waktu, adiwidya ini terlupakan, hingga suatu hari suami mengabari bahwa abstrakku lolos dan diminta untuk mengirimkan full paper. Alhamdulillah.

Habis dari Palembang, aku nyamperin anak-anak ke Yogya, gak langsung ke KL. Pikirku, mau nulis di Yogya saja. Lebih sepuluh hari di Yogya, paper tak kunjung kelar.
Namun, akhirnya rampung menjelang deadline penyerahan. 
Tanggal 19 Oktober malam paper terkirim, deadlinenya tanggal 20, hiks. Terus, dapat konfirmasi lagi bahwa pengumuman 15 terbaik akan disampaikan tgl 24 Oktober.

What???
Aku sudah booking tiket untuk balik ke KL tanggal 24 Oktober.
Ah, tapi, sepertinya paperku gak bakal masuk nominasi, apalagi itu paper tidak melalui proses review yang seharusnya.
Yang nulis, ngedit dan mereview aku sendiri, hihi.
Lagipula suami berkeberatan jika aku pergi sendiri ke Bandung untuk kegiatan itu.
Okehhh.. tak apa. Itung-itung ajang latihan nulis.
Setidaknya, jika paper itu terpilih untuk diterbitkan di prosiding sudah lumayan. Jadi bisa diklaim buat publikasi ilmiah.

Ternyata, pengumuman 15 terbaik diundur jadi tanggal 25 Oktober.
Sebelumnya aku sudah reschedul penerbanganku ke tanggal 5 November.
Eh, galau juga, ketika dari kampus tiba-tiba ada pengumuman bahwa pembayaran segala tagihan kuliah paling telat tanggal 23 Oktober.
Posisi di luar negara, dan belum urus Certification Letter (CL), hiks.
Belum mengajukan pembayaran juga ke sponsor karena harus melampirkan CL, karena kepulangan ke Indonesia yang mendadak.

Beruntung ibu pejabat Head of Department INHART berbaik hati mau meng-approve permintaan CL via email dan mengirimkannya hari itu juga, yaitu tanggal 27 Oktober.
Alhamdulillah... Makasih Dr. Betania.

Alhamdulillah juga, akhirnya suami mengizinkan berangkat, dengan catatan ditemani si adek Real. Akhirnya menugaskan dek Real untuk membookingkan tiket kereta Malang-Yogya buat dirinya sendiri, dan aku membooking tiket kereta Yogya-Bandung PP buat berdua. Done.

Dek Real tiba di Yogya senin dini hari, dengan kondisi badan panas dan pusing. Kupikir mabok perjalanan. Jadi seharian itu diterapi dan disuruh istirahat.
Qodarulloh, kondisinya makin memburuk hingga menjelang maghrib. Akhirnya, diputuskan aku berangkat sendiri ke Bandung.
Suami dan Utsman mengantarkan hingga ke peron stasiun Tugu, Yogya.

Pagi Selasa itu, akhirnya sampai di lokasi acara bersama anak-anak dari UGM. Singgah dulu di Masjid Salman ITB untuk mandi dan sarapan, lalu berjalan kaki ke Aula Timur ITB yang letaknya di seberang jalan, tak jauh dari Masjid Salman.

Setelah acara pembukaan, kami digiring ke ruang CFP untuk penjurian. Aku tampil di urutan ketiga dengan paper berjudul "Tinjauan terhadap Reaksi Maillard untuk Pengembangan Autentikasi Halal". Alhamdulillah, peserta yang tampil sebelumku juga membahas tentang gelatin. Jadi sedikit terbantu.

Aku tampil sangat biasa jika dibandingkan dengan peserta lain yang bersemangat dan memikat presentasinya. Keder juga, karena aku tahu bagaimana kemampuan public speaking-ku yang tak juga bertambah baik. Walaupun support dan motivasi dari suami mengalir, tetap saja aku nervous, hehe.
Namun, pertanyaan dari dewan penguji semua bisa terjawab.

Acara presentasinya sendiri berlangsung dari 09.30 sampai 14.30 diselingi dengan ishoma yang dipersingkat waktunya.
Setelah itu, kami kembali ke ruang utama dimana kegiatan seminar nasional dengan para pakar sebagai pembicaranya berlangsung.

Saat pengumuman pemenang, aku tak begitu antusias. Apalah diriku, yang cuma seorang pemula. Cukuplah berpartisipasi dalam kegiatan, bertemu orang-orang yang peduli dengan isu halal di Indonesia, sudah cukup menyenangkan hati.

Tiba-tiba aku terhenyak, ketika namaku disebut sebagai terbaik ketiga. Tak percaya rasanya. Tapi, adik-adik peserta yang berada di dekatku menyalami dan mengucapkan selamat. 
Bersama tim dari FEB UGM usai lomba CFP Adiwidya 5 
Alhamdulillah, walaupun 'hanya' terbaik ketiga, cukup membuat bahagia dan menaikkan self confidence si emak ini.
Gimana enggak, lha pesertanya saja dari ITB, UGM, UMS, UPI, UNDIP dan beberapa kampus dengan reputasi baik lainnya.

Terbaik pertama dan kedua adalah mahasiswa pasca sarjana ITB yang (sepertinya) telah merampungkan risetnya pada topik yang diangkat, yaitu tentang bahan alternatif untuk halal industri. Si emak ini, modalnya cuma review paper. Huhu...
Mana bawa nama Inhart dan Unrika pula di papernya.
Semoga lain kali bisa menampilkan research paper di even berikutnya.

Ketika pulang, di Stasiun Bandung, bonus pula bisa ketemu dengan mbak Desy, salah satu mahasiswa Unrika yang sekarang tinggal di Bandung. Sayang, waktu yang sempit tak memungkinkan berlama-lama di Bandung.
Sore itu juga, langsung menuju Stasiun Bandung, dan menumpang Lodaya menuju Yogyakarta.