Sabtu, 26 Januari 2019

Mas Sholih dan Kisah Umar bin Khattab


Bebek Ungkep,  rasanya manteb
Pada zaman dahulu, di sebuah  desa di pelosok Bantul.
Tersebutlah seorang anak lelaki berumur 9 tahun. Yang katanya mau jadi anak sholih. Yang katanya mau meneladani Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya.

Suatu hari, Emaknya baru pulang mudik. Selain membawa oleh -oleh berupa buah-buahan, juga membawa beberapa bungkus bebek ungkep Betra produksi pabriknya Pak Guru Apik.
Malam itu, emaknya memanggil anaknya untuk segera ke tempat hidangan, buat makan bersama. Anaknya menolak, dengan alasan sebagaimana disampaikan di kisah Umar. Umar bin Khattab ya, bukan Umar bin Agus, hehe...
Tau kan?
Maksud emak, tau kan kenapa Umar bin Khattab tidak mau makan bersama-sama dengan ibunya?
Ya, betul.,..
"Karena aku tidak mau tanganku mengambil makanan lebih dulu dari ibuku. Sementara ibuku lebih dulu melihat makanan itu, dan menginginkannya."
Maasya Allah...
Emaknya terharu.
Namun tak kurang akal, dibujuknyalah si Anak Sholih tersebut.
"Kan, kita bisa potongan... Kita bagi, supaya Mas dapet dan Ummi juga dapet bagian."
Anaknya keukeuh menggeleng. Hingga suara adzan Isya terlantun dari salah satu masjid.
Anaknya bergegas bangun.
"Mas mau ke masjid dulu. Mau adzan." Demikian dia mengelak.
"Nak, kalau hidangan sudah tersedia, kita boleh menunda ke masjid kok. Lebih afdhol makan dulu. Supaya nanti pas sholat bisa lebih khusyuk, gak terbayang-bayang dengan makanan yang dihidangkan." Ibunya berusaha menahan.
Namun, anaknya tetap berlalu ke masjid.
Tak lama, sang Emak mendengar suara adzan mengalun. Suara khas putranya.
Dia menyimaknya dengan takzim.
Namun, setelah lantunan 'Hayya 'ala..' suara adzan berhenti sejenak. Kentara, muadzinnya bingung.
Emaknya menghela napas...
Kemudian terdengar 'sholaah...'
Emak tersenyum tipis.
Akhirnya berlalu ke tempat wudhu.
Meninggalkan sejenak hidangan yang sudah tersaji. Mengikuti jejak putranya yang lebih dulu menunaikan panggilan sholat.
Usai sholat berjama'ah, mereka kembali menghampiri hidangan tersaji. Paket terakhir bebek ungkep yang sudah digoreng si Emak akhirnya berpindah ke piring-piring semua anggota.
Si Muadzin yang terakhir mengambil bagiannya.

Ketika hendak mengambil nasi, Emaknya buka suara, "Mas, tadi lupa ya?" Sambil mengulas senyum supaya anaknya tidak merasa sebagai tersalah. "Kan tadi sudah Ummi bilang, kata Rasulullah, boleh kok, menunda berangkat ke masjid kalau hidangan telah disajikan. Hanya saja gak boleh sering-sering terlambat ke masjidnya. Ini pengingat juga buat Ummi, biar menghidang makan malamnya gak mepet-mepet waktu Isya. Supaya bisa makan dengan tenang dan gak harus buru-buru ke masjid."
Si Sholih hanya tersenyum kecil. Lalu segera menyuap makanan ke mulutnya.
"Enak, Mi bebek gorengnya. Apalagi pakai sambel."
"Alhamdulillaaah.."
"Masih ada lagi gak, Mi?"
Lhooo.... Ketagihan yaa?

Gombak,260119

Selasa, 01 Januari 2019

Rihlah Akhir Tahun

Akhir tahun, full kegiatan nge-trip.
Duo Mas Sholih, sudah diagendakan outbond dari sekolah.
Abi ada trip ke Malaysia-Thailand bareng kampusnya.
Sementara Ummi, harus nge-trip ke Gombak lagi sehubungan dengan urusan administrasi kampus.

Tinggallah si Kakak Cantik dan adek ganteng yang masih kosong jadwal.
Jadi berkeinginan juga ngajak mereka nge-trip alias rihlah tipis-tipis seputaran Bantul saja. Tak lain tujuannya untuk merekatkan hati, secara emaknya sering pergi-pergi.


Quality time for quality bonding
Nah, Ummi penasaran banget, pengen lihat hutan wisata Mangunan.
Sepertinya spot wisata ini menarik untuk dikunjungi.
Tadinya mau ngajak kakak juga.
Tapi, dia sudah terlanjur berangkat ke sekolah, bareng si Duo sholih yang berangkat outbond, juga dari sekolah.
Maka dimulailah perjalanan kami bertiga.
Ternyata, Gmaps tidak selalu menuntun ke jalan yang benar.
Beberapa kali, kami harus turun kendaraan dan bertanya pada penduduk setempat.

View menuju Bantul
Namun, view sepanjang perjalanan cukup menyejukkan mata.
Cukup lamaaa dan jauh perjalanan, akhirnya kami tiba di...
Puncak Becici, hehe...
View menuju Becici

Hutan pinusnya Becici
Karena capek dan cuaca bergerimis, sudahlah, berhenti di sana saja.
Namun, suasana di sana di luar ekspektasi kita. Karena banyak pengunjung yang justru tidak mengenal etika lingkungan.
Kita pengen nyari udara segar... Eh, pengunjung merokok bebas saja di mana-mana, hiks.

Hanya sebentar di Becici. Lalu turun dan memutar mengambil jalan pulang lewat jalur yang berbeda.
Eh, ketemu spot lain yang cukup cantik, Pegunungan Mungker.
Akhirnya memutuskan mampir, dan agak lama ngadem di sini, karena memang viewnya lebih memanjakan mata. Plus cukup banyak spot yang instagramable, hehe..
Kalaulah tak ingat si Kakak, mau lebih lama lagi di situ.

Eksyen di salah satu spot Gunung Mungker

Di depan kebun herbal Fakultas Farmasi UGM

Rihlah akhir tahun full sekeluarga, adalah perjalanan ke kampus UGM. Melongok lab tempat Ummi kerja. Dilanjut singgah ke LPPT  UGM untuk mengantar sampel uji dan melongok koleksi kebun herbal di Fakultas Farmasi seusai sholat asar.
Hari terakhir di Jogja, akhirnya mengajak anak-anak ke Klaten, mengintip Prambanan, Candi Sewon dan Candi Gana. Lalu lanjut maen air di kawasan Kalasan.
Lumayan, menghibur anak-anak, sekaligus mengeratkan bonding sebelum Umminya nge-trip selama 2 minggu lebih ke Gombak.

Merasakan, betapa penuh perjuangan untuk menjaga keterikatan hati dengan mereka. Mengukir momen-momen manis dalam jiwa kanak mereka, supaya bisa kelak dikenang ketika beranjak dewasa.
Mungkin tak tunai sepertimana seharusnya.
Tetapi semoga kelak diberikan kesempatan di hari-hari mendatang.
Berkumpul, berbagi cerita, ceria dan cinta. Aamiin

2018 in Review

Tahun 2018 adalah tahun yang cukup signifikan dalam petualangan intelektual saya.
Tidak banyak kunjungan dibuat dalam tahun ini. Namun, step-step dalam studi lumayan signifikan meningkat.
Seminar proposal dan revisi tuntas, kerja lab sudah bisa dimulai (walaupun harus indent chemical sampai 4 bulan) dan bisa publish satu artikel pada skala international bareng Pak Suheryanto.
Semoga 2019 bisa menulis dan publish lebih banyak.

Aktivitas, lebih banyak di seputaran Jogja. Sesekali ke Gombak untuk diskusi, buat laporan dan urusan administrasi lainnya.
Sempat singgah Juga ke Semarang, Rembang, Solo untuk kunjungan keluarga dan nganterin teman. Alhamdulillah, azzam untuk bertemu dengan Mak tercapai di akhir tahun. Akhirnya menjejak juga di kota kelahiran, Palembang, walaupun tanpa perencanaan matang sebelumnya.

Memanglah tak mudah menjalani kondisi ini. Status sebagai ibu pembelajar yang juga masih menyambi beberapa tugas dari kampus sebagai pengelola jurnal, seringkali membuat fokus terpecah.
Apalagi beberapa kerja sebagai redaksi seringkali loading menjelang nge-trip.

Penampakan GeNose

Alhamdulillah, dalam hal pelaksanaan penelitian progress cukup signifikan.
Ketika akhirnya melihat senyum lebar Pak Pembimbing Riset setelah melihat hasil analisis data, rasa syukur tak terkira. Akhirnya pencarian ini menemukan muaranya, walaupun masih jauh lagi perjalanannya. Baru 20% euy.
Hari-hari melototi skala termometer, hotplate  dan GeNose,  sepertinya masih akan berlanjut. Bahkan masih harus berjibaku pula dengan instrumen lainnya seperti UV-Visible spektro, HPLC-MS, bahkan SPME-GC-MS yang entah dimana bisa kutemukan.
Tetapi, optimis sajalah.
Semoga, metode autentikasi yang masih dalam tahap investigasi lanjut, bisa segera dibakukan. Aamiin.



Alhamdulillah juga, suami dan anak-anak sangat kooperatif dan pengertian. Walaupun dalam hati terkadang diliputi rasa bersalah, karena tak purna menjalankan peran sebagai ibu mereka. Namun, capaian anak-anak sangat membanggakan. Semoga bisa istiqomah dan makin baik di hari-hari selanjutnya.


Bersama Emak, guru terbaikku dan my lovely sister
Hadiah akhir tahun terindah, adalah keluarnya izin untuk berziarah kepada Mak di Talang Balai.
Lama tak pulang. Rindu menggunung sudah.
Mencium tangan keriputnya, dan menjumpainya dengan senyum menyambutku, sudah cukup melunturkan semua rasa. Walau beliau tak mengenali lagi jati diriku, tak mengapa.
Memanglah, Allah selalu punya skenario manis untuk hamba-hambaNya.
Semoga makin tebal kesyukuran dan kesabaran dalam meniti hari-hari penuh perjuangan di tahun 2019.

Temu kangen with MIKI '95 personels

Ah ya, sempat bertemu beberapa dosen dan teman-teman mipa kimia Unsri, juga adalah hadiah manis. Tak terasa 18 tahun sudah berlalu saja. Tersadarkan diri semakin tua, hehe..
Berharap, kedepannya, silaturrahim tetap terjaga.


Besok, insya Allah akan kembali ke Jogja. Kembali ke pangkuan keluarga. 2 kali ganti tahun, tak bisa ngumpul bersama. Semoga tahun depan bisa...
Semoga di 2019 tercurah keberkahan dan kebaikan untuk kita semua. Bismillah..

Jumat, 07 Desember 2018

Review on: Kuda Terbang Pelepah Pisang

Membaca judulnya, membuat pikiranku melayang ke beberapa dekade lalu. Di pelupuk mata, berkelebatan momen-momen manis saat bermain segala macam permainan anak desa zaman dulu, yang mungkin tidak dikenal oleh anak-anak zaman now. Sebut saja, main benteng, lompat tali, engklek, patok lele, ular naga, pasar-pasaran, congklak, egrang, sumputan, main kelerang segitiga, tangguhan, bekel, pangkahan biji karet, main hadang atawa gobak sodor, dan berbagai mainan lain yang dimainkan bersama dengan sepupu yang sebaya, atau teman-teman tetangga.

Masa kanak-kanak saat itu, saya tinggal di sebuah desa di pelosok Sumatera. Di sebuah rumah panggung dengan pohon-pohon pisang berjajar di ujung halaman depan rumah yang berbatasan dengan jalan raya. Permainan kuda-kudaan dengan pedang atau senapan dari pelepah pisang biasa kami lakukan, terutama kalau nenek sedang membuat macam-macam kue dari tepung yang dibungkus dengan daun pisang.
Pelepah pisangnya kami minta untuk bikin macam-macam kreasi, hehe...
Setelah capek main, kami makan kue buatan nenek yang rasanya sedaaap.

Maka, jari pun mengetikkan pesan untuk mengorder buku ini melalui penulisnya, Mbak Sri Widyastuti.

Buku ini mengulas dengan cukup lengkap berbagai permainan yang saya sebutkan di atas. Cerita- ceritanya bergulir manis, dilengkapi dengan sedikit ulasan sejarah dan cara memainkan permainan tersebut. Jadi, pembaca bisa memahami dan mencoba memerankan atau melakukan permainan yang dilakukan para tokoh dalam tiap-tiap cerita.

Buku ini, berisi 20 judul cerita yang ditulis oleh penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dapat mengenal berbagai permainan anak dari daerah lain, juga dapat menambah wawasan pembaca. Setiap cerita juga dilengkapi ilustrasi sehingga memberi variasi dan visualisasi tentang permainan yang diceritakan.

Menurut saya, buku ini menarik. Saking menariknya, buku ini sudah berpindah ke rumah tetangga terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan saya, selaku pemesannya, hehe... 
Sepertinya, anak-anak saya yang waktu itu menerima paketan, langsung membukanya dan tak sabar untuk menikmati isinya.

Hal yang mungkin menjadi -kelemahan (kalau boleh disebut begitu)- dari buku ini adalah ada beberapa permainan yang ditulis oleh beberapa penulis dengan versi yang berbeda.  Mungkin akan lebih baik jika penyuntingnya lebih selektif lagi dalam memilih naskah, sehingga 20 judul bisa mewakili 20 jenis permainan yang berbeda (maunya pembaca nih, hehe...). Namun, jika ada pertimbangan tersendiri, yaa... selaku pembaca, kita nikmati saja. Iya kan?

Over all... bukunya bagus, kontennya aman buat anak, keceriaannya khas anak dan bahasanya mudah dicerna. Recommended buat yang mau nambah koleksi bacaan anak di rumah.


Piyungan Bantul, 07 Des 18

Selasa, 02 Oktober 2018

8 Prinsip Pendidikan Anak

Kemarin, sepulang dari lab dan melepas atribut, aku menuju dapur dan menemukan sebuah buku tergeletak di dekat tumpukan belanjaan. Dua ikat kangkung, dua potong tempe, seplastik ubi jalar, sekantong kopi dan sebuah buku. Walau letih, dan sendi dan tulang terasa kaku, tanganku tetap terjulur meraih buku itu. membaca judul dan daftar isinya sekilas, lalu melemparkan tanya pada si Kakak yang asyik di depan laptop.

"Buku siapa Kak?"

"Nggak tau, Mi. Sudah ada di situ dari Kakak pulang sekolah tadi."

Aku mengangguk. Mungkin si Abah yang punya buku. Tadi pagi sebelum mengantar ke kampus memang sempat menyoalkan buku manajemen pendidikan. Etapi, ini buku malah bahasannya tidak sinkron, walaupun masih bertema pendidikan.
Judulnya menarik: Melukis Jiwa Sang Buah Hati: Mencetak Anak Cerdas, Taqwa dan Santun kepada Orang Tua

Di tulisan ini, aku ingin berbagi sedikit point yang dikupas dalam buku itu, yaitu tentang prinsip pendidikan anak.

Sebenarnya, ada banyak point yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak. Mendidik anak, bukan sejak anak masuk sekolah, namun jauh sebelum itu. Pendidikan anak itu sendiri sebetulnya sudah dimulai seorang (calon) ayah memilihkan calon ibu untuk anak-anaknya.

Anak adalah buah hati. Anak adalah amanah. Pendidikan anak, menjadi amanah penting bagi kedua orang tuanya. Terutama bagi kaum ayah. Salah besar jika kaum ayah beranggapan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab ibunya dan menyerahkan ke sang ibu tanpa pernah mau peduli dengan urusan anak. Lebih salah lagi, ketika kedua orang tua menyerahkan bulat-bulat pendidikan anak ke sekolah, dan kemudian berlepas tangan. Merasa tidak perlu campur tangan karena sudah memberikan sejumlah nominal sebagai pembayaran. Na'udzubillahi min dzaalik.

Ada 8 prinsip penting dalam pendidikan anak.
Yang pertama adalah  keteladanan
Anak adalah peniru ulung. Mereka akan merekam kejadian dan perilaku orang-orang dekatnya dan akan menduplikasinya. Maka, orang tua perlu menjadi teladan dalam banyak hal kebaikan, sehingga bisa menjadi role model bagi anak.

Yang kedua adalah pembiasaan
Perbuatan baik, sebaiknya dibiasakan sejak dini. Sesuatu yang sudah dibiasakan akan terasa ringan dikerjakan, bahkan bisa menjadi tabiat/akhlak keseharian. Mengucapkan salam, mendekatkan anak ke masjid, membiasakan bangun pagi, bersedekah, berkata jujur, menjaga kebersihan dan banyak hal baik lainnya. Memang, butuh waktu dan effort lebih untuk menjadikan berbagai perbuatan baik menjadi biasa. Namun, insya Allah perjuangan orang tua dalam mendekatkan anak pada kebaikan akan dibalas berlipat ganda.

Yang ketiga adalah kasih sayang
Jalinan kasih sayang dari orang tua kepada anaknya memang tulus. Tak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Namun, tidak semua anak merasa mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua. Sering kali, orang tua mengekspresikan kasih sayangnya dengan tolok ukur pikiran dan perasaannya sendiri, bukan seperti yang diinginkan oleh anak.
Beberapa bentuk kasih sayang diantaranya adalah perhatian, komunikasi, penerimaan anak apa adanya, dan sikap mau memaafkan dari orang tua kepada anaknya.

Selanjutnya adalah penghargaan
Anak yang mendapat pujian ketika ia berhasil dengan sesuatu, ia akan tersanjung. Pujian itu ibarat pupuk dan motivasi sehingga  memberikan semangat untuk berkembang. Memuji mungkin akan lebih mudah bagi kita. Namun ketika anak melakukan kesalahan, akan lebih baik jika kita menghindari celaan. Marilah kita fokus pada keberhasilannya, dan mengapresiasinya. Menurut penulis buku ini, salah satu penyebab anak menjadi nakal atau bandel adalah karena tidak mendapat pengakuan dan penghargaan, sehingga anak berusaha menarik perhatian orang lain, walaupun dengan menunjukkan sikap yang negatif.

Yang kelima adalah memupuk keberanian
Pada dasarnya, Allah telah memberikan sikap pemberani kepada manusia. Pengalaman selama perjalanan hidup, sikap orang tua dan lingkungan sekitarlah yang akan mengubah seorang anak menjadi lebih berani, atau lebih penakut. Keberanian dapat ditumbuhkan dengan memberikan pengalaman pada kegiatan-kegiatan yang menantang. Misalnya, menjelajah, perlombaan, menyampaikan pendapat, tampil di pentas dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan seperti ini akan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian anak.

Yang ke enam adalah memilih pendidik yang benar
Peranan pendidik sangat dominan, terutama di kalangan anak yang mengalami krisis kepercayaan terhadap orang tuanya. Pada fase tertentu dalam usia sekolahnya, anak menjadi lebih penurut terhadap gurunya dibandingkan dengan orang tuanya. Oleh karenanya, dalam menitipkan anak hendaknya mencari pendidik yang bagus imannya, benar ibadahnya, berakhlak yang bagus, penyayang, dan berwawasan luas.

Selanjutnya yang ketujuh adalah memprioritaskan aqidah
Skala prioritas pendidikan terkait dengan tujuan, harapan, dan obsesi orang tua terhadap anaknya. Namun yang perlu diingat kembali  bahwa tugas orang tua utamanya kepala keluarga adalah menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Oleh sebab itu, prioritas pendidikan anak adalah penanaman aqidah yang kuat, kesungguhan beribadah, serta pendalaman Al Quran dan As Sunnah.

Yang terakhir adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran
Dalam Surat Ali Imron ayat 104 Allah swt berfirman:
"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka-lah orang-orang yang beruntung."
Kemungkaran atau pelanggaran syar'i harus ditanggulangi dengan jalan menunjukkan kepada anak bahwa itu adalah suatu kemungkaran. Jangan dibiarkan, walaupun anak belum lagi paham. Jika melarang sesuatu berilah alternatif yang lebih baik dan tunjukkan alasannya. Luruskan kesalahan anak sebatas kemampuan kita dengan cara dan pendekatan yang lembut.

Anak adalah ibarat kertas putih yang belum terisi. Kitalah yang mengisi jiwanya, sehingga bisa terwarnai dan merekam celupan fitrah dari Rabb-nya. Orang tua berperan sangat besar, Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan kesabaran pada kita dalam mendidik mereka.
Allahu a'lam bishshowaab.


Piyungan, 021018

Selasa, 24 Juli 2018

TANDEM: Mengapa dan Bagaimana?

Hasil gambar untuk tandem
Sumber: google.com

Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud menggurui atau melebihkan diri. Hanya sharing, jika kondisi teman-teman kebetulan serupa atau mirip dengan kondisiku, namun punya keinginan untuk tetap menunaikan hak penyusuan anak.

Beberapa waktu lalu, pernah dijapri seorang teman sekelas. Beliau minta tips menyusui tandem.
Nah, berhubung waktu itu lagi safar dari mudik, jadi dipending. Akhirnya terendapkan lama.
Dan karena beberapa alasan harus safar-safar lagi, jadi belum kepegang juga.

Malam ini, tadi, habis ngopi jadi agak belum ngantuk. Kompensasinya, aku mencoba produktif. Mudah-mudahan bisa berbagi manfaat dari pengalaman yang ada.


Setelah kupikir-pikir, ternyata dari 10 tahun perjalanan pernikahan, 8 tahun kehidupan pernikahan di 10 tahun pertama itu kujalani sebagai bumil-busui, hehe. Siklusnya hamil-melahirkan-menyusui-hamil-melahirkan-menyusui-hamil-melahirkan-menyusui-hamil-melahirkan-menyusui, ahaha...

Jadi ceritanya, Aku punya anak di tahun pertama pernikahan. Setelah selesai nifas langsung hamil anak kedua. Setelah si nomer dua lulus ASIX, hamil anak ke-3, dst. Hingga akhirnya di tahun ke-6 punya 4 anak. Produktif banget yak, ahaha...

Maka menjadilah aku dan paksu ortu yang punya 4 balita, haha... dimana masa itu adalah masa yang heboh banget dan penuh keseruan (seru kalo diingat, pas ngejalaninnya sih kadang lelah juga, Mak).
Tapi aku bukan mau cerita tentang itu. Kalau yang itu kan sudah pernah aku tulis.
Silakan baca 
di sini.

Kali ini aku mau sharing tentang tips ngASI-in itu anak-anak yang basusun paku, hehe..

Jujur, anak pertamaku, gak lulus ASIX. Bukan karena anaknya bermasalah. Tapi karena emaknya bodoh dan pasrah. Selain itu, emak juga sudah isi calon debay dan mulai mabok parah hingga bulan ke-6 kehamilan. Jadi, kondisinya lemes dan lemes.

Si Kakak Aya Sholihah, nyusunya males. Tapi emaknya juga gak kelakonan untuk memberikan hak terbaiknya. Jadi, kalo anaknya males, emaknya males-malesan juga. Malah kepikiran buat ngasih sufor di usia sebelum 6 bulannya. Si Kakak ni, ASIX nya cuma sampai 4 bulan-an. Habis itu, dia pernah nyobain sufor yang Alhamdulillah-nya, gak bisa diterima sama perutnya, bahkan dia muntahkan. Habis itu dia ngASI dikombinasi sama air madu. Bener, di usia 5 bulan dia minum madu yang dikocok dengan air zamzam.

Sebulan pertama, kantong si Abi, masih oke dengan beliin air zamzam khusus buat putrinya ngedot. Lama-lama pertahanan jebol, karena selain minumnya kenceng, nih anak pipisnya juga kenceng, hehe. Kebayang dong berapa duit kebuang buat beliin pospak. Sehari dia pake pospak 5-8, kadang lebih. Walo begitu, diladenin juga, namanya juga anak pertama.

Lama-lama, karena anggaran meningkat, gak lagi pake air zamzam buat madunya. Tapi pakai air kemasan bermerk, ehehe... Terus, turun lagi, sampai akhirnya di usia 8 bulan minumnya sama kayak emak-abinya, pakai air galon. 

Unfortunately, saat itu, emak harus berangkat ke Yogya buat belajar.
Jadilah, si kakak ditinggal sama Abi dan bude untuk sementara, sampai kondisi memungkinkan untuk dibawa.


Nah, sekitar 2 minggu setelah si Adek Icad lahir, si Kakak dianter sama bude ke Yogya dan akhirnya kita ngumpul lagi. Awalnya, dia masih setia dengan dot dan madunya. Lama-lama, Ummi merasa bersalah, karena si Kakak ini tidak tertunaikan haknya. Apalagi, saat punya adek, dia usianya baru 13 bulan. Maka, Ummi nawarin dia untuk mimik ASI lagi bareng si Adek. Dia sih kadang mau, kadang enggak. Mungkin sudah ngerasa nyaman dengan madu yang rasanya manis, ketimbang ASI yang rasanya tawar.
Tapi kadang, dia mau juga mimik bareng Adek yang selalu semangat, kalo Ummi ada di rumah. Nempel sama Ummi memang hobinya Adek. Sambil mik ASI maksudnya.

Ceritanya, Ummi kan sekolah. Jadi si Adek kalo ditinggal ke kampus, dibekalin ASIP yang disimpan di icebox . Waktu itu, bener-bener prihatin lah hidup. Benar, belajarnya disubsidi. Tapi uang bulanannya sering telat dan kadang harus nombok dulu, hiks. Nah, selama 6 bulan pertama kehidupan Adek, ya begitulah. Adek ASIX, kakak nebeng ASInya adik, walaupun tidak full.


Qodarulloh, di bulan ke-7 usia Adek Icad, Umminya isi lagi. Gak sadar sih waktu itu. Malah ijin sama Pak Dosen buat mudik ke Palembang. Nge-bis 2 hari-2 malam. Eh tau-tau pulang mudik itu maboknya gak ilang-ilang. Kirain mabok perjalanan, ternyata mabok karena sudah isi 8 minggu, hihi...Tapi alhamdulillah, Adek Icad sudah lulus ASIX, jadi sudah bisa minum yang lain. Dia juga menolak sufor, sama kayak si kakak. Dia sukanya air putih dan jus jambu.

Nah, lepas mabok di trimester pertama, emak tetap nyusuin itu anak berdua. Pikir emak, itu kan memang masih hak mereka. Alhamdulillahnya, walaupun nyusuin tetap lanjut, gak ada efek ikutan seperti kontraksi atau flek seperti pas kehamilan Dek Icad. Jadi, memang aman-aman saja.
Saat itu, emak menyusui tandem sampai masuk usia kehamilan 8 bulan. Sempat stop sebulan hingga melahirkan Dek Umar, karena khawatir kontraksi ikutan plus khawatir juga Dek Umar lahir maju dari ha-pe-el, secara waktu itu hitung-hitungan Emak, kerja lab masih belum rampung.


Ternyata, apa yang dikhawatirkan emak terbukti juga. Hari pertemuan dengan Dek Umar, maju 2 pekan dari perkiraan, dimana saat itu, kerjaan lab sedang di puncaknya. Terpaksa deh, dari Lab pindah ke Rumah Bersalin.

Si Adek Umar ini, bayinya tipe anteng. Kerjanya tidur saja dan malas nyusu kayak si Kakak. Sementara si Ummi orangnya produktif (sudah keliatan dari jumlah dan komposisi anaknya, haha..). Sepanjang hari meringis, karena ASInya gak diminum si baby, bahkan sempat mastitis. Akhirnya si Kakak dan Dek Icad ditawarin buat minum ASI lagi. Bisa ditebak, Dek Icad yang kini sudah jadi Mas Icad, seneng dong. Si Kakak juga mau, tapi miknya pake gelas. 

Karena Dek Umar ini doyan tidur dan sering tersedak, biasanya, emak nawarin PDnya ke Mas Icad dulu. Setelah lunak, baru disusukan ke Dek Umar. Jadi, biasanya, kalo emak nyusui Dek Umar yang males-malesan, PD yang satu lagi ASInya diperah atau ditampung buat si Kakak.
Begitu juga dulu pas Dek Utsman lahir. Rasanya seru-seru sedap gitu, hehe. Tapi, itu kalau di rumah ya.


Nah, masalahnya adalah, Dek Umar lahir di saat kerja lab Ummi belum lagi kelar. Jadi, usia 3 minggu, si Adek ini sudah dibawa ngampus. Terus, mereka bertiga, berempat dengan Abinya nungguin Ummi di mushola atau masjid kampus. Kadang di musholah MIPA, kadang di masjid Mardhiyyah UGM, kadang juga di Maskam. Sementara Ummi kerja di lab, si Adek dibekali ASIP juga, yang perahan pagi. 

Jam break dhuha, Ummi biasanya merah ASI lagi buat diminum Adek di sesi siang. Kan kalo di suhu ruang, ASIP bisa bertahan 6 jam. Sementara kalau break siang, kita ketemuan karena waktu breaknya kan cukup panjang. Bisa sholat, makan dan nyusui.
Nah, kalo Dek Umar gak minta ASI sampai saat Ummi pulang nge-lab, ASIPnya diminum Mas Icad sama Kakak Aya. 
(Ahaha... geli sendiri aku mengingatnya. What a wonderfull moment...:)

Seperti aku sampaikan di awal tulisan ini, ini bukan buat bangga-banggaan atau keren-kerenan ya.
Iyya, mungkin ada yang pro, ada juga yang kontra. Tapi, waktu itu, perasaan bersalah karena kasus anak pertama itu sangat membekas. Cukup sekali dan jangan mengulang kesalahan yang sama pada anak yang lain.
Apalagi, waktu itu, Allah benar-benar baik, mencukupkan ASI buat anak-anak bertiga itu.
Padahal, emaknya bodynya masih seperti yang dulu. Naik signifikan sesuai standard itu cuma pas hamil Irsyad.


Jadi, aku gak menyarankan juga, kalo kalian di posisi yang kebetulan mirip, untuk melakukan hal serupa. Karena, kondisi tiap orang tidak sama.
Kalau aku, dulu itu, alhamdulillah banget disupport sama suami. Habis lahiran Umar itu, aku benar-benar gak pusing urusan dapur, sumur, kasur. Tapi ya mikirin itu, ngASI sama tehSIS, ahaha...


Tapi, kalo mau nyoba juga, ini beberapa tips, biar bisa produktif, insya Allah.

Pertama, niatkan karena Allah, jadi bernilai ibadah.

Kedua, yakin. 

Menyusui itu harus yakin. Yakin dengan pertolongan Allah. Yakin kalo ASInya bakal cukup. Ini akan mempengaruhi sistem syaraf pusat dan menstimulasi produksi ASI. Yakin juga dengan kemampuan Bunda. Gak perlu minder dengan ukuran cup-bra. Produksi ASI tergantung pada ukuran PD, itu mitos. Banyak kok perempuan yang PDnya kecil, tapi ASI buat anaknya tercukupi.

Ketiga, lakukan dengan senang hati, ikhlas. Karena suasana hati ibu akan mempengaruhi produksi ASI. Kalo ibu senang, happy, bahagia, insya Allah ASInya banyak. Kalo ibu stress, sedih, ya ASInya macet, hehe.

Keempat, manfaatkan LDR.
LDR disini bukan Long Distance Relationship yaa, tapi Let Down Refleks. Jadi, busui itu kan kadang, tiba-tiba ASInya ngaliiirrr saja sampai tumpah-tumpah, padahal lagi gak diapa-apain. Itulah LDR. 

Nah, kalo aku ngakalin LDRnya ini pas waktu merah ASI. Aku ngebayangin tengah menyusui sambil memandang wajah anak-anak yang bikin hati sejuk. Daaannn... Currr... itu ASInya bisa tiba-tiba mancur. Kadang sekali merah bisa dapet 2 botol dot loh, hehe. Btw, aku merah pake tangan yah, enggak pake pump. Jaman itu gak kebeli benda-benda begitu. Status mahasiswa subsidi, bener-bener prihatin. 

Kelima, minum air putih hangat atau jus buah sebelum menyusui atau merah ASI. Buatku, ini bisa menambah volume ASI. Habis menyusui atau merah ASI, minum lagi 1-2 gelas plus makan. Laper Mak, habis disedot.

Keenam, mengonsumsi sayur dan buah booster ASI.
Ada banyak sayur dan buah buat boster ASI. Silakan googling dan pilih sesukanya. Kalau dulu, menu harianku sampai si Adek Umar usia hampir 2 bulan adalah sayur bening bayam/katuk, tahu atau tempe goreng, plus marning kalo di rumah. Tahu kan marning? Jagung yang digoreng kering itu. Ibu mertuaku dulu bawain jauh-jauh dari Rembang. Sayang kalo gak dimakan. Padahal, dulu, aku juga belum tahu apa benar marning itu terbukti sebagai booster ASI. 
Nah, kalau pas jajan sendiri di kantin kampus, menunya nasi pecel plus ikan bandeng dan tempe goreng. Minumnya jus jambu, hehe, nyesuaikan kantong mahasiswa.

Ketujuh, menyusui sampai PD benar-benar terasa kosong dan bergantian. Jadi akan segera terisi lagi. Kadang kalo PD penuh, aku kosongin dulu sebelah (diperah), dan yang sebelahnya disusukan ke bayi. Nanti pas menyusui kan akan diproduksi lagi. Nah, yang produksi ketika nyusui, ini bisa buat tandemannya.

Sebagai catatan juga, jika kehamilan bermasalah, sebaiknya tidak menyusui ketika hamil. Untuk hal ini silakan berkonsultasi dengan dokter masing-masing.


Allahu a'lam bisshowab.
Semoga bermanfaat.
Mahallah Asiah UIA, 23/07/18

Selasa, 17 Juli 2018

8 Point Penting dalam Mendidik Anak

Setiap orang tua, pasti punya target terhadap anak-anaknya. Baik anak sendiri, maupun anak titipan yang harus berada dalam pengawasan atau pendampingannya. Misalnya, anak murid, anak asuh, keponakan, anak tetangga, dan sejenisnya.

Mendidik anak, bukan perkara sepele. Tentu saja, karena proses pendidikan anak-anak dalam Islam adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya menyelamatkan keluarga dari api neraka. Masih ingat kan surat dan ayat berapa?
Tul, At-Tahrim ayat 6.

Jika kita mengilas balik perjalanan kehidupan manusia, kita akan paham bahwa keimanan dan ketaqwaan itu tidak diwariskan. Lihatlah pada kisah beberapa manusia pilihan. Sebagian dari mereka, ada yang anaknya tidak termasuk golongan yang beruntung, padahal ayahnya adalah orang yang menjadi penyampai risalah.

Bertahun lalu, dalam sebuah kunjungan ke sebuah institusi pendidikan di Batam, saya menemukan tulisan bagus ini. Saya lupa dalam kunjungan apa (entah supervisi, tutorial, promosi atau mengajar) dan di unit mana. Tulisan ini dicetakkan di tembok dekat tangga kantor ruang guru. Jadi sekalian reminder kali yah buat para pendidik di sana, biar tetap bisa mengontrol diri dalam perjuangan mendidik anak.

Isi tulisan itu adalah 8 point yang harus diingat oleh pendidik dalam menjalan tugasnya. Apa saja?

Yang pertama adalah IKHLAS
Mendidik anak (siapapun) haruslah ikhlas. Jangan menganggap tugas mendidik ini sebagai beban. Walaupun aslinya tugas mendidik itu dibebankan pada ayah, namun di rumah pelaksananya umumnya adalah ibu. Jika ada sesuatu yang buruk "nempel" pada anak, orang-orang juga akan menuding ibunya.

'Ih... anak ini kok.... banget, Emaknya nggak ngajarin apa ya?'

'Ini anak kok kurang .... ya? Gak diajarin apa sama ibunya?"

Tuuh kan, ibu lagi... ibu lagi...
Padahal si anak juga milik Bapaknya. Heuheu...

Kalau menurut aku, ikhlas ini penting banget loh. Karena keikhlasan akan meringankan langkah-langkah kita dalam setiap kerja yang dilakukan. Juga menurunkan potensi stress dan konflik.

Yang kedua DOA
Doa itu permohonan, dan bagian dari ibadah. Doa ibu untuk anaknya adalah doa yang mustajab. Maka, setiap ibu hendaklah berhati-hati dengan ucapannya. Karena, mungkin tanpa disadari, ucapan itu menjadi doa yang menembus langit, disimpan oleh Yang Di Atas dan akan di"hadiah"kan kembali kepada si pendoa, khususnya ibu.
Ingat kisah Malin Kundang, kaan?
Ingat juga kisah Syaikh Suddais?
Sangat mungkin, itu semua adalah buah doa dari lisan seorang ibu.

Doa juga mempunyai kekuatan untuk menolak takdir.
Saya selalu mengingat petuah dari Kepsek saya saat mengajar di sebuah sekolah Islam bertahun lalu. Ketika kami, para guru sering mengeluh dan kewalahan dengan tingkah polah anak-anak yang naudzubillah...
Beliau menjawab, "Doakan, doakan dengan sepenuh hati. Sebut namanya dalam lantunan doa-doa ibu-bapak. Sesungguhnya Allah-lah yang menggenggam hati-hati mereka."

Pikir-pikir, yaa.. begitulah.
Manusia hanya berusaha, Allah-lah yang membolak-balik hati.
Bukan hanya hati anak-anak/anak didik kita, bahkan hati kita sendiri.
Selalu fluktuatif, naik dan turun, yazid wa yankus.
Makanya, suami juga selalu mengingatkan, agar istiqomah dengan doa "Yaa Muqallibal quluub, tsabbit quluubana 'alaa diinik."

Yang ketiga SABAR
Sabar ini, ringan di lisan namun berat dijalankan. Huhu...
Apalagi, katanya, sabar itu tiada batasnya... Hiks
Padahal, sabar jugaaa... yang selalu digandengkan dengan syukur, digandengkan dengan sholat.
Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Ketika dapat ujian, banyaklah bersabar, sambil tetap bersyukur.

Ngomong memang enak, prakteknya... tak se-enak ngomongnya.
Nah, dalam mendidik anak pun demikian. Perlu mengedepankan kesabaran.
Pendidikan adalah kerja sepanjang hayat, bukan sekedar usia sekolah.
Pendidikan, hasilnya tidak bisa dilihat sekejap mata, sebulan, enam bulan, tiga tahun..
Bukaann...Bukan proses instant.
Ngajarin bayi bisa nyusu dengan benar saja, butuh waktu. Apalagi mendidik anak supaya jadi baik dan aqidahnya lurus. Iya apa iya?

Saya teringat dengan ucapan suami, ketika suatu hari kami menjemput anak-anak dari sekolahnya. Si Bapak ini yang sekarang menghandle semua urusan anak-anak, bilang ke saya.
"Tadi, sempat dengar kajian dari ustadz-entah tentang sabar dalam mendidik anak. Yang harus dilakukan orang tua adalah bersabar, dan jangan menyerah. Karena kita tidak tahu melalui usaha kita yang mana, kelak anak itu akan berubah. Kapan dia akan berubah. Tetap optimis, sabar dan kencengin doa."
Saya manggut-manut.
Padahal, waktu itu, di perjalanan dari bandara ke rumah, dia baru saja curhat tentang turunnya kedisiplinan anak-anak dalam sholat dan muroja'ah. 
Yaa.. gitu deh. Alhamdulillah diingatkan. Selanjutnya, beliau mengingatkan saya untuk berhati-hati kalau berbicara, seperti point yang selanjutnya ini.

Yang keempat JAGA LISAN
Menjaga lisan, pentiiingg... banget. 
Selain terkait dengan point nomer 2, yaitu DOA, hal ini juga berkaitan dengan komponen penyusun tubuh. Kalau menurut pelajaran biologi, 80% dari tubuh manusia, itu adalah air. Nah, air ini, menurut penelitiannya Masaru Emoto (Kalau gak salah namanya itu), bisa membentuk kristal yang cantik, kalo diafirmasi positif. Maksudnya, kalo kita ngomongnya baik, sopan, bagus, kristal airnya cantik. Berlaku juga sebaliknya.

Ucapan yang baik, akan direspon oleh tubuh dengan baik. Sebaliknya ucapan yang kurang baik, akan masuk ke memori bawah sadar dan suatu ketika akan dikeluarkan melalui koordinasi otot tubuh menjadi perilaku. Begitu riset Dr. Asiah Dahlan.

Jadi, ngomong yang baik, dengan intonasi yang baik, dan cara yang baik. Hehe...
Mau contoh?

Misal nih yaa... Kejadian umum nih kalo di rumahku.
Si Emak lagi ngepel. Hehe... Masih belum kelar, lantai masih basah. 
Tiba-tiba, anak bujang dari luar nyelonong masuk sambil ngucap salam dengan kenceng. Padahal dia tadi habis main tanah dan siram-siram di depan rumah. Mana belum nyuci kaki dan tangan pula...hiks

Reaksi Emak apa? 
Ngomel? 
Ahahaha...
Biasanya sih kita, "Astahgfirulloooohhh... Masuk rumah gak cuci kaki? Gak tengok ini emaknya lagi apa? Tengok tuh lantainya jadi kotor lagi. Kamu apa gak punya....bla..bla..(lanjutin sendiri)"

Coba deh kita perhatikan.
Astaghfirulloh itu ucapan apa? Istighfar kan? Artinya kita minta ampun sama Allah.
Tapi coba bayangkan, nadanya bagaimana? Yang seharusnya bagaimana?
Masa kita minta ampun nadanya marah-marah, hehe..
Kira-kira nyaman gak ya? 
Yuuk evaluasi bersama.
Bagaimana kalo diubah?
Emang bisa? 
Bisa!

Yang kelima JAGA PERILAKU
Pasti semua tahu kan, kalau anak adalah peniru ulung dari model di sekitarnya. Nah model yang paling dekat dan sering dilihat anak adalah kedua orang tuanya.
Disadari atau tidak, mereka melihat, mendengar, merekam dan meniru apa yang dilakukan orang tuanya.
Jujur, saya dulu sering nyengir sendiri kalo dengar dan lihat gaya si Kakak ngomelin adik-adiknya. Persis gaya saya, hiks

Habis itu saya ngaca, istighfar dan mulai mengubah diri.
Asli, saya takut. Bahkan, kecemasan saya pun kadang diadaptasi oleh salah satu anak.

Jadi, saya sering sekali menekankan ke anak-anak untuk berperilaku baik, menjaga adab.
Detilnya gimana? Silakan cari bagaimana adab-adab dalam Islam.

Yang keenam sampai delapan adalah JANGAN MARAH, JANGAN MARAH dan JANGAN MARAH
Kenapa tiga kali?
Yaa... memang tiga kali kan?
Tidak marah-marah dalam mendidik anak, ngomel dikit boleh. Upss, ya enggaklah.
Susah? Iyya susah karena hadiahnya surga.

'Laa taghdhob walakal jannah', Janganlah (engkau) marah, maka bagimu surga.

Saya, pernah dikomplain si Solih. "Ummi kalo pulang marah-marah saja kerjanya."
Mungkin dia shock. Biasanya, kalau sama Abi, ngobrol seperlunya, canda-canda, muroja'ah, dst. Paling-paling kalo negur, abinya langsung instruksi.
Kalo Emaknya, karena butuh menyalurkan 20 ribunya, kalimatnya jadi panjang berliku-liku. 

Nah, emak lupa kalo di rumahnya anaknya dominan jagoan, yang gak bisa ngimbangin semua obrolannya dan instruksinya si Emak. Jadi, kalo ngomong panjang-panjang dengannya, anaknya pusing, wkwkwk.

Tapi, karena dikomplain, emak ini juga akhirnya introspeksi.
Apakah memang kalo anak salah harus dimarahi?
Apakah anaknya paham kalo dia salah? Jangan-jangan karena dia belum tahu.
Apakah kalau anaknya sudah tahu, apa masalahnya bisa selesai dengan marah-marah?
Yang pasti, kita merasa tidak nyaman ketika dimarahi. Iya apa iya?

Maka, kadaang emak mencoba menempatkan diri di posisi anak, melihat dari sudut yang berbeda, sehingga bisa lebih legowo dengan kesalahan anak. Sepanjang itu bukan kesalahan yang fatal tentunya.

Begitu ya. Semoga bermanfaat.


Gombak, 17Juli2018