Senin, 11 Mei 2020

Menyiapkan Anak menjadi Penghafal Quran (2)

Di part 2 ini saya akan sharing tentang pendidikan Al Quran pada janin. Senyampang kondisi saya yang saat ini tengah hamil, dan masih tetap berkeinginan anak ke-5 ini bisa mengikuti jejak pendahulunya, dekat dengan Al Quran dan semoga bisa menjadi bagian dari penghafal Quran.

Tulisan sebelumnya bisa dibaca pada tautan ini.

Sebetulnya, kehamilan kelima ini seperti 3 lainnya, tidak direncanakan.
Tapi Allah dengan iradahnya berkenan menitipkan lagi sesosok jiwa melalui rahim saya.

Memang sih, sebelumnya Ummi suka mencandai Abahnya anak-anak pasal keinginannya punya anak lima itu. Anak-anak juga sudah sering request adik dengan alasan macam-macam. Mulai dari celetukan "Cuma Utsman di sini yang gak punya adik.", "Kakak gak punya geng main, adiknya ikhwan semua..." sampai ke "Di rumah kita belum ada Ali dan Abu Bakar". Hehehe...
Dan Umminya cuma berkomentar, "Kalo mau apa-apa itu minta sama Allah, bukan sama Ummi."

Walaupun sebetulnya kangen juga menjalani hari-hari hamil-melahirkan yang amaizing, tapi Ummi menekan keinginan itu dalam-dalam. Tak terbayangkan bagaimana repotnya kerja lab-membaca-mereview dan menulis thesis kalo harus ditambahin juga dengan "drama" hamil dan melahirkan semasa studi. Hamil ketika kondisi free saja berat, apalagi jika sedang studi begini.
Cukuplah dengan kisah hamil-melahirkan Mas Irsyad dan Mas Umar yang mengharu biru saja..

Tapi, Allah-lah yang punya kuasa, dan Dia cukup dengan berkata: KUN!

Maka, di suatu petang sepulang dari menghadiri  Konferensi Halal di Universitas Brawijaya- Malang, barulah menyadari bahwa pendarahan yang terjadi sepanjang perjalanan pulang dengan kereta Malang-Yogya adalah pertanda kehadiran sosok baru dalam keluarga kami.
Walau berat, lisan tetap harus berucap Alhamdulillah, kan?
Alhamdulillah 'alaa kulli haal...

Tentang hamil dan penciptaan janin, ada banyak ayat dalam Al Quran yang mengulasnya. Salah satunya di Surat Al A'raf ayat 189:
"Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka, setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), "Jika Engkau memberi kami anak yang shalih, tentulah kami akan selalu bersyukur."

Maka, ketika teman pembaca sekalian mendapatkan berita gembira tentang kehadiran anggota baru dalam keluarga, maka sudah sepatutnya semakin dekat dengan Allah, dan banyak berdoa agar diberikan anak yang shalih. Jangaan, sampai berpikiran buruk, karena Allah itu sesuai apa yang kita persangkakan. Lagi pula, kita tak pernah tahu, dari doa dan amalan shalih anak yang mana kita akan sampai ke surga.


Aih, kepanjangan intronya... Maaf...
Kembali ke topik pembicaraan semula, tentang mendekatkan janin dengan Al Quran.

Di dalam Al Quran Surat An Nahl 115, Allah menyampaikan bahwa urutan penciptaan indera adalah pendengaran, kemudian penglihatan dan kemudian hati (qolb).
Nah, menurut beberapa narasumber beberapa kajian parenting Quran yang pernah saya simak, proses mendidik anak agar dekat dengan Al Quran juga sebaiknya mengikuti  tahapan ini.

Sebetulnya, mendidik janin, adalah fase termudah.
Kenapa dibilang mudah?
Karena janin tidak punya kemampuan menolak apapun "asupan" yang diberikan padanya.
Dengan menstimulus janin dengan Al Quran lebih awal, diharapkan kapasitas otak akan lebih baik, sehingga anak akan lebih cerdas, dan jiwanya akan tenang.

Bagaimana metodenya?

Ada dua metode stimulus yang bisa diberikan, yaitu:

1. Audio atau suara
Metode ini bisa mulai diterapkan mulai usia kehamilan 18 minggu.
Menurut penelitian, janin usia 23-24 minggu sudah mulai bisa merespon suara. Sehingga banyak rekomendasi dari dokter/bidan/pakar pendidikan untuk mulai menstimulasi janin pada usia ini, misalnya dengan mengajaknya ngobrol, membacakan cerita, memperdengarkan musik, dst. Namun, alangkah baiknya jika kita prioritaskan janin untuk mendengarkan bacaan Al Quran, kalam Allah yang mulia.

2. Perabaan atau sentuhan.
Selain merespon suara, janin juga sudah bisa merespon sentuhan. Sehingga, biasanya dokter/bidan juga menganjurkan untuk mengusap, mengelus dan mengajak janin bermain. Macam-macam bentuk permainan yang bisa dilakukan, misalnya mengenal huruf dan huruf hijaiyah, mengenal angka, simbol dan lain-lain. Aktivitas ini sebetulnya bisa dilakukan sejak janin memasuki usia 12-30 minggu.

Siapa yang melakukannya?

Aktivitas mengajari janin ini tentu saja membutuhkan IBU sebagai pelaku utamanya.

Karena, suara yang paling didengar dan merasuk ke jiwa janin adalah suara Ibu. Namun tidak menutup kemungkinan untuk melibatkan anggota keluarga lainnya misal ayah, kakak dan abangnya.
Jadi, untuk mengajarkan janin membaca Al Quran, ibu harus baik dulu bacaannya dan benar dalam mengucapkan huruf-huruf dan lafadznya.
Jika masih belum benar, bolehlah ibu belajar lagi, ikut kelas tahsin..ehehe..


Bisa juga sih dengan memperdengarkan audio atau rekaman suara syaikh atau qori'. Namun, audio Quran dengan suara ibu akan mereduksi paparan gelombang elektromagnetik yang mungkin saja akan berdampak pada janin. Allahu a'lam.

Bagaimana cara melakukannya?

Aktivitas ini bisa dilakukan di sela-sela kegiatan santai ibu. Terutama saat ibu selesai makan.
Kalau mengikut budaya Indonesia yang makan 3 kali sehari, maka aktivitas ini bisa dialokasikan waktunya setiap ibu selesai makan dengan durasi waktu kurang lebih 15 menit.
Mengapa?
Biasanya, usai makan, ibu lebih rileks sehingga janin juga berada pada kondisi nyaman. Saat ibu tenang, limbik otak terbuka  sehingga informasi/stimulus akan lebih mudah diterima otak.

Berikut ini, step mengajarkan surat-surat pendek yang dibagikan salah satu nara sumber.
  • Usai makan, ibu rileks dan membaca Al Fatihah.
  • Kondisikan bayi dengan metode mengandangkan pikiran untuk mengumpulkan fokus. Ibu bisa berbicara dengan intonasi cukup dengan menyapa dan menyampaikan materi pembelajaran hari itu. Misal: "Assalamu'alaikum Dede. Ini Bunda. Hari ini, Bunda mau ajarkan Dede surat Al Fatihah. Surat Al fatihah itu adalah ullumul quran. Ada 7 ayat. Surat Al Fatihah ini wajib dibaca kalo kita sedang sholat. Dede simak yaa" 
  • Ibu membaca surat Al fatihah dengan tempo sedang.  Pembacaan surat diulangi tiga kali, selama 3 hari.Jadi total ada 9 kali pembacaan surat pendek, yaitu 3x3 hari.
  • Jika sudah tercapai, boleh ditambah dengan surat pendek lainnya, dengan metode yang sama.
  • Jika sudah dapat 3 surat, maka di hari ke-10, bisa dilakukan muroja'ah. yaitu membacakan 3 surat yang sudah diperdengarkan sebelumnya selama 3 waktu belajar. baru besoknya disambung dengan surat yang baru.
  • Untuk memfokuskan suara, ibu bisa menggunakan kertas yang digulung atau selang yang ujungnya diberi corong dan ditempelkan ke perut ibu.
Demikian yang pernah disampaikan seorang ibu nara sumber. Alhamdulillah, anak yang distimulus dengan al Quran akan mempunyai beberapa kelebihan dalam kebaikan. Insya Allah jiwanya hanif, mudah dinasihati, dan secara kecerdasan- menurut penelitian- juga lebih baik jika dibandingkan dengan anak tanpa treatment. Kita bisa lihat sendiri mungkin pada hafidz-hafidz cilik yang kini mulai banyak di Indonesia.

Memang butuh perjuangan dan konsistensi. Saya sendiri, selaku Phd mommy kadang tak bisa menerapkan full step-step ini. Alasan tagihan paper dan chapter sering kali membuat saya harus banyak fokus di depan laptop.
Namun, saya mensiasatinya bahwa, aktivitas saya di depan laptop juga harus membawa benefit buat dedek janin.
Maka, pola kerja saya, saya modifikasi seperti berikut ini:

  • Ummi menyalakan laptop. Buka file kerjaan/tugas Ummi dan fokus pada kerjaan
  • Sementara Ummi kerja, Dede janin dengerin murottal dari qori yang Ummi pilih sebanyak satu juz.
  • Setelah satu juz selesai, kita istirahat bareng. Rebahan..
Nah, kadang Ummi harus berjam-jam depan laptop.
Misal, kurang lebih 4 jam.
Maka pada hari itu dedek akan menyimak bacaan 4 juz yang berbeda.
Polanya misalnya: Juz 30, rehat; juz 29, rehat; juz 28-rehat dan juz 1 lalu rehat. Begitu tiap hari.  Semoga istiqomah sampai bulan ke-9. Aamiin.

Tapi Ummi usahakan tiap hari ada stimulasi dari suara Ummi yang langsung disimak oleh Dede.  Apakah itu muroja'ah hafalan, tilawah quran, atau membaca dzikir pagi sore.
Bahkan, program Ramadhan kita salah satunya adalah sholat tarawih dengan mengeraskan bacaan Al fatihah dan surat-surat dalam sholat. Biar si Dede mendengar dan terbiasa dengan Al Quran.

Kalo menurut salah satu nara sumber sih, diharapkan selama hamil, janin bisa khatam 30 juz setidaknya 5 kali, bahkan sembilan kali. Itu artinya, Ibunya harus target 1 juz perhari. 
Silakan saja dicoba praktekkan. Semoga mampu dan diistiqomahkan.

Demikian, sesi sharing kali ini. Next tulisan insya Allah bagaimana setelah bayi lahir..
Allahu a'lam bisshowab

Gombak, 11Mei 2020.
*Tulisan ini membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Ummi nulis, Dede nyimak juz 1 dari Abu Usamah


Minggu, 10 Mei 2020

Menyiapkan Anak menjadi Penghafal Quran (1)

Hingga saat ini, dalam berbagai perjalanan yang melibatkan perbincangan tentang anak, tak jarang saya mendapati komentar-komentar miring, bahkan menusuk tentang keberadaan keempat anak saya. Mulai dari tudingan kebobolan, kejar tayang, hingga tidak mengikuti anjuran pemerintah, hehe. Karena jumlah anak saya yang empat orang itu dianggap menyalahi program pemerintah. 

Usia keempat anak saya memang tidak terlalu terpaut jauh. Basusun paku, kata orang Padang. Anak kedua lahir saat anak pertama berusia 13 bulan. Anak ketiga lahir saat anak kedua berusia 16 bulan. Sedangkan anak keempat lahir saat anak ketiga berusia 27 bulan. Jadi saat anak keempat lahir kakak pertamanya usia 56 bulan. Jadi, saya mengalami suatu fase dimana saya harus mendampingi pengasuhan 4 balita.




Bagaimana mengelola dan menjalankan peran sebagai ibunya?
Sama seperti ibu-ibu lain. Bangun di awal pagi menjelang subuh. Kemudian mensucikan diri untuk persiapan sholat subuh. Termasuk mensucikan si kecil dan anak yang lebih besar. Alhamdulillah, sejak kecil, mereka akrab dengan masjid dan mulai biasa ikut subuh ke masjid. Selanjutnya menyiapkan sarapan, memandikan anak-anak, menyalin bajunya, menghidangkan sarapan dan makan bersama, menyiapkan bekal suami dan anak kesatu yang sudah di TK A dan menghantarkannya hingga ke pintu pagar.

Setelah itu, mulai beres-beres, merendam cucian, belanja ke warung, menyapu rumah hingga halaman, mencuci pakaian kotor terutama pakaian si bayi yang pastinya kena najis hingga menjemurnya. Selanjutnya menemani anak-anak bermain, belajar, kadang sambil baca-baca atau menyiapkan materi untuk mengajar. Hobi lain yaitu membuat cemilan untuk anak-anak dan terakhir menyiapkan makan siang. Menjelang asar, bersiap masuk kerja sebagai pengajar di sebuah kampus di Batam, hingga pukul 21.00.

Capek? Mestilaaah.
Apalagi semua dikerjakan sendiri tanpa bantuan ART.
Tapi jangan khawatir, karena ada dua jagoan yang akan selalu sedia memijit dan menginjak-injak punggung emak yang keletihan. Sambil belajar berhitung satu hingga sepuluh, satu hingga seratus. Sambil menyenandungkan surat-surat pendek dari juz tiga puluh. Belajar dapat, bermain dapat. Alhamdulillah.

Kapan istirahatnya?
Kapan tidurnya?
Well…waktu istirahat buat saya pada waktu itu adalah ketika sholat dan menyusui. Karena pada saat itulah, anak-anak yang lebih besar menjadi lebih mudah dikondisikan. Tentu saja sebelumnya saya sudah sounding-sounding bahwa kalau Ummi sedang sholat atau menyusui, diharapkan anak-anak tenang dan tidak mengganggu.

Kalau waktu tidur sih, sebutuhnya. Bahkan menurut saya, seorang ibu berbayi sesungguhnya ‘tidak pernah tidur’. Selelap apapun tidur ibu, ia akan terjaga ketika bayinya merengek. Maka, tak jarang saya tertidur saat sedang bermain bersama mereka, atau sedang menyusui si bayi.

Bukan ibu yang baik? Mungkin.
Tapi, anak-anak saya tak pernah protes. Mereka bahkan sering menyarankan saya untuk istirahat alias tidur jika saya terlihat sangat mengantuk atau merasa kurang sehat.
“Ummi bobok saja, kami bisa main sendiri.” Begitu ujar mereka.

Anak-anak usia segitu bisa berempati juga. Dan saya dengan senang hati akan menerima tawaran itu. Tentu saja setelah mengunci pintu pagar dan pintu depan agar mereka tidak bisa kabur keluar.


Saya dan suami menargetkan anak-anak untuk bisa menghafalkan Al Quran. Tentu saja, ini harus dimulai dari diri kami sendiri. Saya pribadi, paling tidak suka yang namanya menghafal. Juz 30 saja saya rampungkan ketika saya menjadi pengajar TPA di sebuah masjid di perumahan di Batam. Namun target saya, sebelum menikah harus sudah hafal juz 30. Biidznillah, azzam itu tertunaikan. Alhamdulillah.

Banyak program, yang kami rancang di masa awal kami menikah untuk meningkatkan kapasitas ruhiyyah. Namun, tidak semuanya berjalan lancar karena berbagai hal. Terutamanya karena kami kurang istiqomah, Nastaghfirullah.. Namun, untuk program menyiapkan anak-anak sebagai penghafal al Quran, kami sudah mencanangkan dari diri kami sendiri. Setidaknya, untuk saya, saya sudah menguasai juz 30 itu, hehe..

Berikut ini beberapa langkah yang kami dilakukan dalam menyiapkan anak-anak menjadi penghafal al Quran:

1. Berdoa
Doa adalah hal yang utama. Tanpa doa, sangat tidak mungkin keinginan untuk mendapatkan anak yang shalih akan terwujud. Menyitir Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam bukunya Amalan yang Langgeng dikatakan bahwa kesholihan didapati dengan taufik dan petunjuk dari Allah. Karena hidayah terletak di tangan Allah, maka tentulah kita harus banyak memohon kepada-Nya. Beberapa doa yang bisa diamalkan diantaranya: Doa Nabi Ibrahim as (QS. Ash Shaffat: 100), doa Nabi Zakariya as (QS. Ali Imron: 38) dan doa hamba Allah yang beriman (QS. Al Furqan: 74). Dan doa orang tua kepada anaknya adalah salah satu doa yang mustajab. Maka, hendaklah kita selaku orang tua selalu mendoakan yang baik-baik untuk anak-anak kita.

2. Memilih pasangan yang baik.
Mencetak anak yang sholih/ah, sesungguhnya bukan dimulai dari semenjak anak dilahirkan, namun jauh sebelum itu. Yaitu dengan memilih pasangan hidup yang baik. Para lelaki sangat dianjurkan untuk memilih istri yang sholihah, karena di tangan istrilah pembinaan anak-anak pada masa awal kehidupannya akan berlangsung. Sebaliknya, kita selaku para wanita, juga harus memantaskan diri untuk menjadi seorang pasangan yang baik alias sholihah.

3. Mengonsumsi hanya makanan yang halal dan baik.
Kriteria ini penting, namun kadang kita mengabaikannya. Bisa jadi karena ketidaktahuan atau karena hanya ingin praktisnya saja. Makanan yang halal dan thoyyib akan mempengaruhi pertumbuhan fisik dan jiwa anak. Bagi saya pribadi, halal adalah hal yang wajib. Kalau aspek thoyyib, kadang bisa ditoleransi, sepanjang tidak membahayakan. Misalnya, dulu saya dan suami menghindari makan bakso karena banyak mengandung MSG, dan melarang anak-anak batita itu jajan bakso. Ketika saya hamil anak ketiga dan kepengen bakso, si nomer dua itu nyeplos, “Bakso gak sehat!” . Akhirnya saya hanya gigit jari dan membuang jauh-jauh keinginan makan bakso, hehe.

4. Mengenalkan anak-anak dengan agama dan Al Quran sejak dini.
Sejak dinyatakan hamil, saya dan suami merutinkan memperdengarkan bacaan al Quran kepada janin di perut. Baik melalui bacaan sendiri, maupun melalui bacaan murottal. Kami percaya, ini akan memberikan efek yang sangat luar biasa dan mempermudah anak-anak untuk menghafal, kelak. Dan itu terbukti. Anak pertama hingga ketiga lebih mudah menghafal Al Quran dan familiar dengan bahasa Arab.

Selanjutnya, ketika mereka sudah di dunia fana, kegiatan ini diteruskan. Aktivitas menjelang tidur kami adalah membaca doa pengantar tidur berupa ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al Baqarah, 3 Qul (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas) serta doa mau tidur dan doa perlindungan dari syaiton. Jika masih belum tidur, dilanjut dengan melafalkan surat Al Fatihah dan surat-surat pendek lainnya sesuai permintaan anak-anak. Al Fatihah ini kami tekankan karena keutamaannya, dan karena kami ingin memperoleh aliran pahala dari setiap lantunan al Fatihah yang keluar dari lisan anak-anak kami kelak. Maka, menjadi semacam tugas wajib bagi saya dan suami untuk mengajari anak-anak membaca al Fatihah dengan sesempurna mungkin.

5. Menyiapkan anak agar bisa membaca al Quran sebelum usia sekolah.
Bagi kami, ini penting. Mengenalkan huruf hijaiyyah dan iqro terlebih dahulu sebelum mereka bisa membaca huruf latin. Alhamdulillah, 3 anak pertama sudah memenuhi target. Jika pun belum bisa membaca, maka penekanannya adalah dengan menghafal. Keajaiban yang sering kali saya dapati adalah anak-anak jauh melampaui target saya. Misalnya, di usia 2 tahunnya, anak kedua mampu menghafal surat Adh Dhuha hanya dalam waktu sehari. Di usia 3 tahunnya, anak-anak itu sudah mampu menghafal lebih dari separuh juz 30. Anak kedua bahkan mampu menghafal 50 ayat pertama surat Al Baqarah dari menyimak lantunan murottal yang diputar di masjid setiap menjelang maghrib, dan banyak surat-surat lain yang kadang saya sendiripun belum mengajarkannya. Semisal, dia sholat dhuhur dengan bacaan surat Al Insaan atau ayat-ayat pertama Al Kahfi. Alhamdulillah, Allah memberikan kemampuan anak-anak dalam menghafal hanya dari mendengarkan murottal.

6. Program mengaji bersama
Program ini bentuknya bermacam-macam. Bisa dengan muroja’ah bersama, lomba sambung ayat, panggung baca Quran atau bentuk yang lainnya sesuai kreatifitas untuk meningkatkan bacaan dan hafalan. Saat ini, program yang dirancang suami selain program wajib murojaah adalah merutinkan membaca dzikir pagi dan sore, Al Kahfi pada hari Jumat, dan membaca surat As Sajadah dan Al Mulk setelah sholat Isya. Belum sebulan program ini launching, si nomer dua sudah hafal As Sajadah. Maasya Allah. Tentu saja, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Maka, sudah sepantasnya orang tua terus memperbaiki diri dan kesholihannya.

Memiliki empat balita dengan karakter berbeda dan irama tubuh yang berbeda, tentu saja penuh dinamika. Tidak mudah untuk selalu bermanis muka. Perlu banyak stok sabar dan energi ekstra untuk tetap bisa melayani segala keinginan dan kebutuhan mereka. Perlu ilmu diplomasi dan ketegaran hati untuk tidak menuruti semua keinginan mereka. Alhamdulillah, semua itu menjadi pembelajaran bagi saya, yang sebelumnya tidak pernah betah untuk tugas momong anak.

Terkadang, saya kehabisan stok energi. Lalu saya akan meminta mereka supaya beramai-ramai menyalurkan energi mereka dengan memeluk dan mencium saya. Maka, nikmat yang mana lagi yang engkau dustakan?

Tak jarang juga, saya kehabisan stok sabar sehingga terpaksa harus mendiamkan diri saya sejenak, berlama-lama dalam sujud, atau memperlama di kamar mandi mengurai letih dengan lulur dan shampoo wangi.

Senandung pengurai penat saya adalah lantunan adzan dan bacaan Al Quran dari mulut-mulut mungil mereka. Hiburan saya adalah semua tingkah pola lucu dan lugu mereka. Berebutan menjadi muadzin, rebutan menjadi imam atau rebutan peran sebagai khalifah pemimpin perang dengan kuda dan pedang di tangan. Oh ya, tiga dari 4 anak saya adalah lelaki. Maka, berkumpul dengan anak-anak menjadi suatu kebahagiaan tersendiri buat saya, seorang ibu yang kini terpaksa harus berjauhan karena suatu tugas. Segala penat, letih akan terurai melihat ceria mereka, mendengar senandung mereka, menyimak lantunan al Quran dari lisan mereka.

Pada akhirnya, saya memang merasa harus lebih banyak bersyukur atas anugerah berupa anak-anak yang insya Allah sholih-sholihah, penyejuk mata dan hati. Semoga Allah berikan petunjuk dan kemampuan bagi saya dan suami untuk terus istiqomah membimbing mereka sesuai tuntunan Al Quran dan sunnah Rasulullah saw. Aamiin.


*tulisan ini pernah memenangi event Inspirasi Bunda adalah Cinta yang digelar threrealummi tahun 2017
*dengan beberapa modifikasi

Minggu, 03 Mei 2020

Tetap Produktif WFH selama Ramadhan

Hampir satu setengah bulan sudah kita menjalani Work From Home alias WFH.
Iyya, kehadiran corona di muka bumi ternyata telah menghadirkan banyak perubahan dalam keseharian kita.

Bagi kalangan guru, dosen dan pendidik umumnya, WFH membuka mata bahwa ada banyak metode yang bisa dilakukan untuk tetap melaksanakan pembelajaran atau perkuliahan. Tak sekedar hadir di kelas atau sesekali kuliah lapangan. WFH juga menuntuk guru/dosen lebih kreatif dalam menyajikan konten pembelajaran. Tak sekedar menyiapkan bahan kuliah, namun juga diharapkan mampu mengemasnya dalam paket yang istimewa: mudah dipahami, tepat sasaran dan menarik tentu saja.
Walaupun terpaksa, dan harus mengerahkan energi ekstra, namun apa mau dikata? Demi tetap terlaksananya dan tercapainya tujuan pembelajaran, kenapa tidak?

Bagi orang tua dengan anak-anak yang SFH alias Study from home, episode corona juga membuka mata. Bahwa menjadi guru, bahkan bagi anak-anak sendiri, itu tak mudah. Bahwa harus banyak keterampilan dan kesabaran yang perlu dipersiapkan setiap harinya dalam menghadapi para siswa. Kedepannya, semoga para orang tua bisa berempati dengan jerih-lelah para guru dalam mendidik dan membimbing anak-anak mereka. Aamiin.

Bagi sebagian pekerja dan mahasiswa seperti saya, WFH ini menggoreskan cerita tersendiri. Antara kekecewaan karena tidak bisa menjalankan banyak aktivitas harian, namun juga menjadi sarana melepas kebosanan dari rutinitas yang selama ini dijalani. Kerja, kerja, kerja!

Ramadhan, saat ini juga telah memasuki pekan kedua. Masa adaptasi atau penyesuaian telah terlampaui. Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk tetap produktif dalam berbagai rutinitas harian kita. Baik ibadah, maupun dalam bermuamalah.

Dalam surat Al Insyirah ayat 7, Allah berfirman: Faidza faraghta fanshob.
Yang artinya: Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).
Perhatikanlah bahwa ayat ini tidak menyuruh kita istirahat ketika selesai dengan suatu pekerjaan, namun memerintahkan kita selaku muslim, untuk berlaku produktif dalam setiap amalan/kerja kita.

Nah, dalam tulisan ini, saya akan berbagi tips agar tetap produktif selama WFH di sepanjang Ramadhan.

1. Luruskan niat
Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Maka niat harus diset dengan benar. Niatkan aktivitas kita karena Allah, agar amalan/aktivitas tersebut bernilai ibadah.

2. Tentukan target
Banyak orang yang terlena dan akhirnya menyiakan waktunya karena tidak punya target yang jelas. Padahal, menentukan target ini penting untuk memudahkan kita mengevaluasi capaian. Target utama yang sifatnya kompleks bisa dipecah menjadi target-target harian yang lebih kecil sehingga memudahkan kita untuk mencapai, sekaligus mengevaluasinya. Misalnya, target mengkhatamkan Al Quran dua kali sepanjang Ramadhan. Dari target itu, kita bisa memecahnya menjadi target harian yang lebih memungkinkan untuk dicapai. Misalnya dengan mengagendakan 2 jam perhari untuk tilawah. 1 jam di rentang waktu subuh-dhuhur untuk khatam 1 juz, 1 jam lagi di rentang waktu maghrib-bada isya untuk khatam 1 juz berikutnya. Atau, bisa dengan model lainnya sefleksibel dan nyamannya diri kita.

3. Atur dan kondisikan diri dan waktumu.
"Jika ingin suatu pekerjaan cepat rampung, berikan tugas itu pada orang sibuk" demikian pepatah orang bijak.
Berbeda dengan orang biasa, orang sibuk biasanya akan lebih bertanggung jawab soal tugas. Orang dengan beban kerja sedikit dengan tenggang waktu yang lama, punya kecenderungan untuk bersantai-santai. Sehingga, pekerjaan yang diharapkan cepat selesai, bisa jadi akan molor beberapa lama.
Manajemen waktu memang susah-susah gampang. Bukankah salah satu nikmat yang sering membuat kita tertipu adalah waktu luang? Dengan alasan masih banyak waktu, kita cenderung menunda mengerjakan suatu pekerjaan.

Ramadhan, kadang membuat kita berapologi dan merasa sah-sah saja untuk bermalas-malasan. Banyak dari kita yang memanfaatkan waktu pagi untuk menebus waktu tidur yang terpotong.
Nastaghfirullah... Padahal pagi adalah waktu yang tepat untuk produktif dan memanen pahala.

Selain mengatur waktu, kita juga sebaiknya mengkondisikan diri. Mungkin, WFH yang membebaskan kita dari seragam dan aturan-aturan tertentu akhirnya membuat kita merasa santuy. Maka, tak ada salahnya, kita melalui aktivitas WFH kita sebagaimana hari-hari normal kita bekerja. Mandi sebelum subuh, sholat subuh dan dzikir pagi plus tilawah, bersiap bekerja sesuai dengan jam kerja yang aslinya dan memakai kostum yang representatif bisa membuat kita termotivasi untuk produktif. Waktu sarapan dan perjalanan menuju kantor bisa kita isi dengan tilawah al quran atau membaca buku yang bermanfaat, dan seterusnya. Yang jelas, kita kondisikan diri dan waktu kita sebagaimana hari-hari normal kita bekerja.

4. Hadirkan waskat.
WFH memungkinkan kita untuk bekerja tanpa pengawasan dari atasan. Pemikiran bahwa 'yang penting tugas selesai' kadang melenakan kita sehingga membuang-buang waktu tanpa kita sadari yang berujung pada keteteran dan akhirnya kerja asal jadi.
Soal kualitas? Nomer tiga belas.
Nah, menghadirkan perasaan diawasi oleh atasan, bisa membantu kita untuk tetap fokus pada tugas-tugas dan target harian kita. Toh, pada kenyataannya kita memang selalu diawasi, bukan?

5. Fokus
Hal yang bisa memecah fokus kita pada pekerjaan salah satunya adalah gadget. Tak dipungkiri, gadget yang memudahkan kita berinteraksi dengan sesama penghuni dunia maya telah mengambil begitu banyak waktu dan fokus kita. Simpan atau matikan gadget selama jam kerja. Atau setidaknya, jauhkan dari jangkauan tangan sehingga tidak membuat kita tergoda untuk sering mengintipnya.

6. Evaluasi capaianmu
Evaluasi, penting untuk mengetahui sampai dimana progres atau kemajuan kita.
Evaluasi, bisa dilakukan harian, mingguan atau periode tertentu tergantung target kerja yang kita buat. Segera perbaiki kinerja, jika hasil evaluasi menunjukkan progress yang tidak signifikan. Dengan demikian, apa yang telah kita rencanakan akan dapat kita capai dengan optimal. Ingat, apapun kerja kita, semua kelak akan ada pertanggungjawabannya.

Mari, belum terlambat untuk berbenah dan memulai hidup yang lebih berkualitas. Masih dua mingguan lagi hari-hari berkah Ramadhan. Semoga dengannya kita dapat menempa diri menjadi muslim/ah yang lebih berkualitas.
Allahu a'lam bisshowab.

Gombak,03052020







Sumber: pinterest.com

Sabtu, 22 Februari 2020

Ibroh Kembara Musa: Nasihat buat para Pencari Ilmu (Bagian 5)


Bagian terakhir dari kisah pengembaraan Musa alaihissalam adalah ketika beliau berjalan bersama Al Khadir. Di bagian 4, sudah disampaikan beberapa adab dalam menuntut ilmu. diantaranya adalah FOKUS, TAAT ATURAN, SABAR, BERSUNGGUH-SUNGGUH, MENEPATI JANJI, TIDAK MENYELISIHI GURU DALAM HAL YANG KITA TIDAK TAHU PERKARANYA.

Selanjutnya, di ayat 71 yang artinya:
Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.

Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa Musa menyalahi aturan dan kesepakatan yang telah ditetapkan oleh Al Khadir.
Kenapa? Karena dia mempertanyakan kepada Al Khadir apa yang secara logika tidak dia pahami. Dan ini adalah kesalahan Musa yang pertama.

Kemudian, mari kita simak apa yang diucapkan oleh Al Khadir dalam ayat 72:
Dia berkata, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

Ayat ini mengindikasikan bahwa Al Khadir merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan Musa, dan ia mempertegas pernyataannya semula pada ayat 68. Hanya saja, dalam ucapan yang ini, al Khadir lebih memberikan impressi/penekanan pada kalimatnya.

Selanjutnya di ayat 73, Musa mengakui kesalahannya dan memohon supaya Al Khadir tidak mempersulit/menambah bebannya. Disampaikan dalam ayat tersebut yang artinya:
Dia (Musa) berkata, “Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.”

Jadi, point dari ayat ini adalah SEGERA MINTA MAAF kepada guru, jika murid berbuat salah/melanggar aturan.

Kalau kita mengilas balik fenomena zaman ini, adab ini sudah hampir sukar ditemui, karena keegoisan orang tua dan murid yang menganggap posisi mereka lebih tinggi dari pada guru, disebabkan mereka/orang tua telah membayar guru untuk mengajari anaknya. Catat ya, mengajari, bukan mendidik. (Ini opini pribadi saya, Allahu a'lam).

Selanjutnya Musa dan Al Khadir berjalan lagi sebagaimana dikisahkan dalam ayat 74, dan lagi-lagi Musa mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Al Khadir dalam perjalannya. Artinya, Musa kembali menyalahi aturan yang ditetapkan oleh Al Khadir.

Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

Sehingga, dalam ayat 75, tersirat bahwa Al Khadir marah kepada Musa, disebabkan perbuatannya itu.
Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

Maka, Musa pun merasa tidak enak hati, disebabkan oleh ketidaksabarannya yang membuat Al Khadir menegurnya keras, maka ia pun mengajukan syarat, jika ia berbuat salah/melanggar lagi, maka Al Khadir boleh menjatuhkan hisab/hukuman atas kesalahannya itu.

Lihatlah dalam ayat 76:
Dia (Musa) berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku.”

Ayat ini menunjukkan bolehnya meng-iqob/menghukum diri supaya kita lebih disiplin. Dan juga orang yang bersalah, lebih patut untuk menunjukkan bahwa dia bersalah dan harus berusaha memperbaiki salahnya.

Lalu...ayat 77:
Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”

Dari penjelasan yang diuraikan dari hadits Rasulullah saw, marilah kita petakan dalam benak kita kilas balik tentang perjalanan Musa dan Al Khadir.

Musa, dalam kondisi sudah berjalan jauh dan lelah, bekalnya (ikan dalam wadah) yang dibawanya hilang sehingga mereka kelaparan. Namun, dia tetap meneruskan pencariannya untuk bertemu Al Khadir di tempat ikan tersebut menghilang.
Setelah bertemu, dia kemudian meminta izin kepada Al Khadir untuk belajar kepadanya.

Al Khadir menerimanya dengan syarat tadi, yaitu harus sabar,tidak boleh bertanya, sampai ia menjelaskannya kepada Musa. Lalu mereka berjalan bersama di pinggir laut, menumpang sebuah perahu, dan Al Khadir melubanginya. Musa merasa kaget dan tanpa sengaja ia melupakan syarat yang ditetapkan Al Khadir. Musa protes, sehingga Al Khadir mengingatkannya pada kesalahannya, yaitu bertanya.
Lalu, mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Di perjalanan ini, mereka menemukan seorang anak kecil, dan Al Khadir membunuhnya. Lagi-lagi, Musa protes dan Al Khadir sedikit menegaskan kesalahan Musa. Dan Musa pun mengaku salah dan menetapkan iqob/hukuman jika ia melanggar aturan lagi.

Selanjutnya, mereka berjalan lagi, dalam keadaan letih dan lapar, namun penduduk kampung yang dijumpainya enggan menjamu mereka. Lalu, mereka menemukan rumah yang sudah hampir roboh di kampung tersebut dan dia (maksudnyaAl Khadir) memperbaikinya, sedangkan Musa tidak membantu. Namun setelah itu Musa mengomentari Al Khadir dengan kalimat, "jika engkau mau, kamu dapat minta imbalan untuk usahamu membetulkan dinding rumah itu."
Maksudnya, kalau Al Khadir dapat imbalan, maka dapatlah mereka membeli makanan.

Ayat-ayat ini mengandung makna tersirat bahwa, Menuntut ilmu pada umumnya BUTUH HARTA (mereka kelaparan dan kehabisan harta). Membutuhkan pengorbanan.

Ayat 77 ini juga menyiratkan bahwa penuntut ilmu TIDAK MENUNJUKKAN KEDUDUKANNYA pada masyarakat umum yang tak mengenalnya.

Kan, bisa saja, andai Musa dan Al Khadir menyampaikan kepada penduduk kampung bahwa mereka adalah Nabiyullah, bisa jadi saja penduduk di kampung tersebut akan membantu mereka.

Astaghfirullah, jadi catatan juga buat kita bersama, terutama saya, untuk tidak show off the social status, di hadapan orang awam, apalagi di komunitas yang kita baru di dalamnya, kecuali dengan alasan yang dibenarkan/syar'i untuk kemaslahatan bersama.

So, pointnya TETAP RENDAH HATI dan MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN ILMU.

Selanjutnya, di ayat 78 ending dari kebersamaan Musa dan Al Khadir.
Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.

Disebabkan Musa lagi-lagi menyalahi kesepakatan/aturan yang ditetapkan oleh Al Khadir, maka... akhirnya Al Khadir meng-iqob Musa atas perbuatannya itu.
Namun, sebelum berpisah, Al Khadir memberikan penjelasan kepada Musa perihal apa-apa yang tadi dikomplainkan Musa dalam perjalanan mereka.

Selanjutnya....
Insya Allah di postingan berikutnya, yaa..

Allahu a'lam bisshowab.
Semoga bermanfaat. Baarokallahu fiikuma jamii'an.

Ditulis di Gombak, 230219

Sabtu, 15 Februari 2020

Ibroh Kembara Musa: Nasihat bagi Para Pencari Ilmu (Bagian 4)


Ayat 66 mulai menceritakan tentang pengembaraan Musa bersama hamba Allah yang sholih yang dikenal sebagai al Khadr (dalam riwayat banyak dikenal sebagai Nabi Khidr alaihissalam).

Dalam ayat 66 yang artinya:Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”

Ayat ini mengindikasikan bahwa dalam belajar seseorang harus FOKUS dan MENGIKUTI RULE atau aturan yang telah ditetapkan oleh gurunya. Menurut ustadz, hikmah dari hal ini adalah supaya ilmu yang diperoleh tersebut dapat menjadi lebih berkah dan bernilai.

Kadang, dalam beberapa kondisi, kita merasa aturan yang diterapkan oleh seorang guru untuk murid-muridnya seperti tidak masuk akal, atau menyulitkan atau tidak sesuai dengan keinginan kita. Contoh, pada kasus saya sendiri. Bulan lalu segera balik ke Jogja, supaya bisa segera menyambung kerja lab untuk pengambilan data. Ternyata, sampai di Jogja, Ustadz saya memerintahkan untuk menyelesaikan dulu manuskrip laporan. Setelah selesai, baru boleh lanjut ke lab lagi. Awalnya, saya sempat kecewa. Tapi, beliau adalah pembimbing dan saya adalah tholibah alias murid. Bagaimanapun, aturan beliaulah yang berlaku. Dan saya berusaha legowo. Saya percaya, skenario Allah yang terbaik.

Selanjutnya, di ayat 67 disebutkan:
Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.

Dalam ayat ini, penekanannya adalah bahwa, mencari ilmu itu butuh melipatgandakan KESABARAN. Apalagi kalau ilmu-ilmu yang akan kita pelajari itu sebangsa ilmu tingkat tinggi yang bahasannya lebih kepada konsep. Tentu saja butuh membaca, mencerna, mengkaji, menganalisis supaya bisa memahaminya. Dan itu butuh kesabaran tingkat tinggi.
Kadang, kalo di bangku kuliah, dosen hanya bicara pokok-pokoknya saja. Bahkan kadang bicara topik yang sepertinya sama sekali tidak relevan dang materi pembahasan. Jadi, memang kitalah yang harus berusaha sabar dan tetap sabar menekuni dan mengkaji ilmu tersebut. Kalau jaman dulu, mungkin istilahnya CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif. Kalau sekarang, mungkin semacam discovery learning, kali yah? Dimana guru hanya sebagai fasilitator...

Next, ayat 68.Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Nah, ini lanjutannya. Dalam ayat ini, seolah al Khadir meragukan kesabaran Musa. Ayat 67-68 ini juga mengindikasikan bahwa ilmu tidak datang secara tiba-tiba.

Dalam mencari ilmu, ADA PERSYARATAN tertentu yang harus dipenuhi.Misal, kalau mau masuk SMA, ada syarat, harus lulus SLTP dibuktikan dengan ijazah, nilai, dan sejumlah persyaratan lain.Mencari ilmu, juga meminta kita persyaratan lain selain administrasi seperti, waktu, tenaga dan biaya.

Ayat 69:Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.”

Nah, ini adalah ADAB dalam mencari ilmu.Jadi, dalam berguru dan berburu ilmu, kita harus MENUNJUKKAN KESUNGGUHAN kita, berusaha MENEPATI JANJI, dan TIDAK MENYELISIHI GURU.

Dalam ayat ini, disampaikan juga bahwa kalau berjanji, ucapkanlah Insya Allah yang artinya jika Allah menghendaki.Sebagai catatan, kata Insya Allah ini diucapkan ketika kita benar-benar ingin melakukan apa yang kita azzamkan itu. Bukan insya Allah basa-basi ala orang Indonesia yang memasang nama Allah, padahal dalam hatinya ia berniat untuk tidak melakukan seperti apa yang dikatakannya itu, hanya karena tidak enak untuk berkata "Tidak."

Ayat 70:Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Ayat ini seolah-olah bertentangan dengan salah satu prinsip mencari ilmu, yaitu: Bertanya kepada yang tahu.Namun, pada kenyataannya, ada banyak karakter guru yang kita temui, yang dalam dia membagikan ilmunya, dia menetapkan syarat-syarat tertentu seperti yang tadi disampaikan di ayat sebelumnya.

Ayat ini menyatakan: Jangan bertanya, sampai dijelaskan.Mengandung hikmah bahwa seseorang akan DIUJI KESUNGGUHANNYA dalam belajar.

Sebagaimana mungkin sering kita temui di kelas-kelas, ada guru yang tidak membolehkan muridnya mencatat ketika dia menerangkan pelajaran. Ada guru yang membolehkan siswanya memotong penjelasannya, ada yang tidak. Ada guru yang hanya memaparkan tapi tidak mau menjelaskan, dan seterusnya.Nah, tipe-tipe guru seperti ini, menguji kesungguhan kita dalam belajar. Apakah kita akan terus menekuni ilmu tersebut, atau tidak. Kalau ingat zaman kuliah dulu, kita kadang register mata kuliah dengan mempertimbangkan siapa dosennya juga, dari track record beliau mengajar pada kelas-kelas angkatan sebelum kita.

Allahu a'lam bisshowab.Lanjutannya, bagian terakhir insya Allah secepatnya.Semoga bermanfaat.Have a barokah day, all...


Ditulis di Gombak pada 15/02/2019

Rabu, 12 Februari 2020

Motivasi dalam Menuntut Ilmu





Matahari semakin menanjak. Membakar Madinah yang tetap riuh dengan berbagai aktivitas di dalamnya. Abu Hurairah memasuki pasar. Beliau menyaksikan orang-orang yang sibuk dengan urusan perdagangannya. Dia berdiri dan berseru,"Alangkah dungunya kalian, wahai penduduk Madinah!"

"Ketololan apa yang Anda lihat dalam diri kami, wahai Abu Hurairah?"

"Peninggalan Rasulullah telah dibagi-bagi. Eh, kalian malah sibuk di sini. Tidakkah kalian berkeinginan pergi untuk mengambil bagian kalian?"

"Dibagikan di mana?"

"Di masjid."

Mereka segera bergegas ke masjid.  Abu Hurairah menunggu kedatangan mereka. Ketika mereka datang dengan wajah masam, mereka serta-merta protes, " Tidak ada apa-apa di masjid. Tidak ada pembagian apa-apa!"

"Kalian tidak melihat orang-orang di sana?"

"Kami melihat, tetapi tidak ada pembagian, kecuali orang sedang sholat dan mengkaji Al-Quran, serta mendiskusikan halal-haram. Itu saja."

"Celaka kalian! Itulah peninggalan Rasulullah."

######888######

Kisah di atas sungguh menyindir saya. Terlebih ketika semangat sedang luruh hingga ke titik terendah. Kebanyakan dari kita, memang lebih tertarik pada hal-hal kecil yang kurang membawa manfaat. Sibuk dengan sosmed, ngobrol, nggosip, nonton, dan kegiatan sejenisnya. Aktivitas-aktivitas itu lebih diminati dari pada diskusi ilmiah, atau membaca buku.

Di banyak tempat kita melihat orang-orang sibuk dengan gadgetnya. Bahkan kadang tak peduli dengan lingkungannya. Di rumah, bisa jadi suara tivi lebih keras daripada suara adzan. Dan panggilan sholat baru terpenuhi setelah menit ke-sekian. terkalahkan oleh banyak aktivitas duniawi...

"Janganlah engkau meremehkan suatu ilmu dalam bidang apa saja!" Demikian kata Imam an-Nawawi."

Ketakwaan selalu bermuara pada amal shalih. Sementara amal shalih akan sempurna jika dilandasi dengan ilmu yang benar. Dan ilmu yang benar hanya bisa dicapai melalui BELAJAR.

Kesuksesan belajar berangkat dari MOTIVASI yang benar.
Disampaikan oleh Imam al-Ghazali:
"Lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah. Padahal, ilmu tidak pernah mau dituntut kecuali karena Allah."

Oleh karenanya, para pencari, pemburu dan penuntut ilmu, hendaklah selalu mengEVALUASI kembali niat, meluruskannya kembali jika telah melenceng, agar aktivitas mulia itu akan bermuara pada kesuksesan.

Allahu a'lam bisshowab.

#catatanbuatdiri
#Dari buku Prophetic Learning dengan sedikit modifikasi penulis.

Pict. Masjid Al Aqsha, Klaten.
Rindu Indonesiaku.

Selasa, 11 Februari 2020

The Power of Emak-emak

Peran wanita, tidak berhenti dari wujudnya sebagai bagian dari masyarakat. 
Islam telah mendudukkan wanita pada tingkatan yang tinggi sekali. Wanita alias emak-emak yang ada di rumah ini lah yang menghasilkan "orang-orang" penentu kebijakan, lelaki sukses, melalui didikannya di rumah.
Di dekapan dadanya, lelaki-lelaki yang jadi tokoh masyarakat (tomas) merasakan kehangatan, dialiri dengan ASI kecerdasan.

Para wanita adalah belahannya lelaki. Jadi, perannya saling mengisi. 
Perempuan, tidak harus menjadi tokoh utama, karena telah ditetapkan perannya sebagai peran pendamping, pendamping lelaki. 
Peran perempuan adalah mendidik, membesarkan, mengarahkan, membimbing generasi-generasi masa depan. Peran ini tidak mungkin diambil oleh lelaki.
Banyak wanita yang tak terkenal namanya, tetapi perannya dirasakan dalam waktu yang lama bagi masyarakat.
Contoh: Imam Syafi'i. Yang dibesarkan ibunya, seorang perempuan single parent.


Bicara tentang power wanita, sangat dahsyat. Dan Islam memuliakan wanita. 
Peran ibu, tak bisa digantikan oleh pembantu, baby sitter, asisten, dan ssebagainya. 
Peran ibu, sangat besar. Al madrosatul uula, sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, dengan mengajarkan berbagai ilmu dan menularkan berbagai kebaikan buat anak-anaknya. 
Ibu, adalah penegak generasi dan peradaban.

Ibu dimuliakan tiga kali lebih tinggi dari pada ayah, tanpa mengesampingkan peran ayah itu sendiri. Oleh karenanya, memilih seorang wanita yang baik untuk menjadi pasangan, merupakan salah satu hak anak terhadap ayahnya. Mereka, anak-anak, berhak mendapatkan seorang perempuan yang baik.

Perempuan dinikahi karena 4 hal: rupanya, kekayaannya, keturunannya dan agamanya. 
Namun, lebih dianjurkan untuk memilih wanita berdasarkan agamanya. Agar lebih selamat, baik untuk suaminya, maupun untuk keturunannya kelak.
Peran istri sangat vital dalam keluarga. Seorang suami yang benar, bisa salah jalan gara-gara istrinya.
Sebaliknya, suami yang salah jalan bisa juga menjadi baik karena perilaku dan dampingan istrinya,

Karena perempuan punya POWER untuk MENUNDUKKAN kaum lelaki.
Kekayaan seorang lelaki terletak pada tiga hal, yaitu:
1). Lisan yang pandai berdzikir
2). Hati yang pandai bersyukur
3). Istri yang membantu suaminya untuk semakin ta'at kepada Allah.

Selaku perempuan dan istri, maka sudah sepatutnya kita selalu memperbaiki diri, dan membantu suami untuk semakin ta'at kepada Allah,serta berbakti pada orang tua, khususnya IBU-nya.

Allahu a'lam bisshowab.